Dikira Alquran, Kitab Hukum Rusia Berbahasa Arab Disumbangkan ke Museum

Oleh Liputan6.com pada 07 Jun 2018, 10:02 WIB
Diperbarui 09 Jun 2018, 09:13 WIB
Alquran

Liputan6.com, Moskow - Setelah bertahun-tahun dikira kitab suci Alquran, sebuah keluarga muslim di Republik Bashkortostan (salah satu subjek federal di Rusia) menyumbangkan kitab hukum pidana Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia (RSFS).

Benda bersejarah tersebut berasal dari tahun 1926 yang ditulis dalam bahasa Arab, mirip dengan Alquran. Kitab ini kemudian diserahkan ke Museum Kementerian Dalam Negeri Bashkiria. Demikian dilaporkan layanan pers kementerian kepada kantor berita RusiaTASS, Selasa 5 Juni 2018.

"Buku itu merupakan kitab hukum pidana dari tahun 1926 yang ditulis dalam bahasa Arab. Orangtua pemilik buku itu membawanya selama bertahun-tahun, mengiranya sebagai Alquran dan menaruhnya di bawah bantal anaknya," bunyi siaran pers kementerian, seperti dikutip dari RBTH Indonesia, Rabu (6/6/2018).

"Ia baru mengetahui buku apa itu sebenarnya ketika anaknya tumbuh dewasa dan menjadi polisi," imbuh pernyataan tersebut.

Kepada wartawan setempat, Rafia Zinatullina mengatakan, ada sebundel buku yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya.

"Ibu saya bilang bahwa ini adalah kitab suci. Buku ini harus dibungkus kain dan diletakkan di bawah bantal supaya anak-anak tetap tenang dan tidak merengek. Setelah bertahun-tahun, kami baru tahu buku itu ternyata adalah kitab hukum pidana RSFS dari tahun 1926," kata perempuan itu.

Museum Kementerian Dalam Negeri Rusia di Ufa, ibu kota Republik Bashkortostan, dibuka sejak 1982.

Empat ruangan dalam museum itu memamerkan berbagai jenis senjata dan seragam rampasan, sementara satu ruangan dipersembahkan untuk mengenang 109 pegawai kementerian Rusia yang tewas selama mengemban tugas kenegaraan.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Alquran dari Sutra yang Dibanderol Rp 2,8 Miliar

Alquran dari sutra. (AFP)
Alquran dari sutra. (AFP)

Sementara itu, satu-satunya Alquran yang terbuat dari kain sutra telah selesai dibuat di Afghanistan. Itu merupakan sebuah prestasi yang diharapkan para penciptanya akan membantu melestarikan tradisi kaligrafi berusia berabad-abad di negara itu.

Seperti dikutip dari tribune.com.pk, Kamis 23 Mei 2018, Alquran itu berisi 610 halaman. Tiap lembarnya ditulis dengan tangan oleh tim dari 38 pembuat kaligrafi dan seniman.

Alquran bersampul kulit kambing itu memiliki bobot 8,6 kilogram. Diproduksi oleh perajin Afganistan yang banyak dari mereka dilatih oleh British Foundation Turquoise Mountain di Kabul.

"Tujuan kami untuk memastikan bahwa kaligrafi tidak mati di negara ini -- menulis adalah bagian dari budaya kami," ujar Khwaja Qamaruddin Chishti, seorang penulis kaligrafi berusia 66 tahun kepada AFP di kantor Turquoise Mountain.

Alquran merupakan kitab suci agama Islam, dan kaligrafi sangat dihormati dalam Islam dan seni Islam.

"Ketika menjadi sebuah seni, kita tidak bisa memberi harga. Tuhan telah mempercayakan kita dengan pekerjaan ini (Alquran) ... dan ini lebih berarti bagi kami daripada aspek keuangan," kata Chishti.

Menggunakan pena bambu atau buluh, Chishti dan teman-temannya membuat kaligrafi dan menghabiskan waktu hingga dua hari menyalin ayat-ayat Alquran dalam satu halaman dengan hati-hati. Terkadang lebih lama jika membuat kesalahan dan harus memulai lagi dari awal.

Mereka menggunakan tulisan Naskh, gaya kaligrafi yang dikembangkan di awal Islam untuk menggantikan Kufic karena lebih mudah dibaca dan ditulis.

Hiasan di sekitar tulisan juga memakan banyak waktu dalam pembuatannya. Setiap halaman membutuhkan waktu lebih dari satu pekan untuk diselesaikan.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait