Masuk ke Lubang Telinga Seorang Pria, Kecoak Bertelur Lalu Mati di Dalamnya

Oleh Tanti Yulianingsih pada 05 Jun 2018, 18:20 WIB
Diperbarui 05 Jun 2018, 18:20 WIB
Kecoak. (AFP)
Perbesar
Kecoak. (AFP)

Liputan6.com, Florida - Seorang pria asal Florida, Amerika Serikat, mungkin mengalami salah satu pengalaman paling buruk dalam hidupnya. Seekor kecoak  masuk ke lubang telinganya dan mati di dalamnya.

Insiden horor itu bermula saat Blake Collins terbangun pukul 05.00 pagi ketika menyadari ada yang menyelinap masuk ke telinganya. Ia lalu bergegas ke Tallahassee Memorial HealthCare, demikian seperti dilaporkan oleh Tallahassee Democrat.

"Saya bisa mendengar suara kakinya bergerak di dalam telinga. Rasanya seperti seseorang memasukkan korek kuping dari kapas di dalam kepala, dan tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menghentikannya," kata Collins seperti dikutip dari Asia One.

Manajer toko berusia 25 tahun itu mengklaim, kecoak tersebut juga meletakkan telur di dalam telinganya.

Di rumah sakit, dokter yang menangani Collins menggunakan jarum suntik untuk memasukkan lidocaine ke dalam liang telinganya. Cairan itu berfungsi memberikan efek mati rasa pada jaringan di sekitar area tertentu.

Pada kasus Collins, berguna untuk membantu membunuh kecoak yang bersembunyi di telinga sambil meminimalkan potensi goresan dari binatang tersebut.

"Saya mendengarnya mati di kepala," tutur Collins.

Dia menambahkan, "Ketika dokter menuangkan lidocaine ke dalam telinga, saya bisa merasakan kecoak bergerak super cepat, menendang-nendang dan mencoba mencari jalan keluar, dan terdengar suara mirip jeritan. Lalu dua menit kemudian, serangga itu berhenti bergerak dan mati."

Collins kemudian dipulangkan dari rumah sakit dengan beberapa petunjuk perawatan telinga di rumah, yang diberikan oleh dokter dari ruang gawat darurat, Dr Michael Glaze.

Collins dan patnernya, Samuel McGee amat terganggu oleh serangan kecoak di apartemen mereka di kompleks Campus Walk dekat Florida State University selama tiga tahun terakhir.

Masalah hama itu tak kunjung usai meski sudah diadukan ke manajer gedung tempat tinggalnya.

Di sana, serangga jenis itu akan keluar dari bohlam lampu. Sementara puluhan kecoak Jerman menyerbu mangkuk makanan anjing yang baru diisi.

Usai horor kecoak yang dialami Collins, pasangan itu akhirnya memutuskan pindah dari apartemen tersebut.

"Serangga merangkak dan mati di telinga Anda -- itu adalah sesuatu yang bisa terjadi pada jenazah, bukan manusia hidup," tegas Collins terkait pengalaman buruknya dengan kecoak.

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

2 dari 2 halaman

Dikepung Kecoak, Pria Taiwan Justru Kaya Mendadak

Ilustrasi kecoak (iStock)
Perbesar
Ilustrasi kecoak (iStock)

Sementara itu, selama ini kita hanya menganggap kecoak sebagai salah satu hewan paling menjijikkan yang tak memiliki nilai jual. Kehadiran mereka di setiap rumah bahkan dianggap menjadi ancaman besar bagi penghuninya.

Seisi rumah bisa berteriak karena tak mampu mengusir serangga berwarna cokelat kemerah-merahan tersebut. Parahnya lagi, saat diusir kecoak justru mendekat.

Meski begitu, seorang mahasiswa asal Taiwan dibuat kaya mendadak karena kehadiran hewan tersebut.

Dikutip dari laman Asiancorrespondent.com, Senin 7 Agustus 2017, berkat kemampuan bisnis dan toleransi yang tinggi terhadap kecoak, seorang mahasiswa berusia 20 tahun bernama Tong berhasil mendapatkan uang Rp 980 juta per tahun.

Pundi-pundi uang tersebut berhasil ia kumpulkan ketika memulai bisnis ternak kecoak di apartemennya selama lebih dari satu tahun yang lalu. Hal ini bermula ketika ia menemukan kesulitan ketika mencari pakan untuk hewan peliharaannya.

Kecoak biasanya digunakan untuk bahan pakan hewan peliharaan. Ikan arwana, sugar glider dan landak kecil adalah contoh hewan yang gemar makan kecoak.

Karena mengaku sulit mendapatkan pasokan kecoak, Tong berinisiatif untuk memelihara kecoak di apartemen miliknya. Tak heran, jika setiap malam Tong harus dihantui oleh kehadiran hewan kecil yang gemar berkeliaran di kloset toilet tersebut.

Tong juga mengatakan, hewan itu menjadi ancaman besar karena dapat menyebarkan virus pada makanan dan pakaian yang ia gunakan.

Pada pertengahan tahun, Tong memprediksi jumlah kecoak yang ia pelihara sudah mencapai 30 sampai 40 ribu ekor.

Ketika kecoak itu semakin berkembang biak. Ia bertemu dengan seorang pembeli kecoak bernama Tse. Di luar dugaan, pria tersebut hendak membeli semua kecoak peliharaannya.

Setelah menjalin kerja sama, Tse kemudian menjadi pelanggannya. Kini, Tong semakin mengembangkan ternak kecoak miliknya.

Mahasiswa tersebut dilaporkan telah memiliki lebih dari 2,7 juta ekor kecoak dari berbagai macam spesies dan ia jual secara grosir.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait