Wajib Dibaca Sebelum Masak! Ini 8 Makanan Biasa yang Bisa Membahayakan Tubuh

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 01 Jun 2018, 19:12 WIB
Diperbarui 01 Jun 2018, 19:12 WIB
Ilustrasi sayuran hijau (iStockphoto)
Perbesar
Ilustrasi sayuran hijau (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Makanan yang selama ini kita anggap biasa bisa jadi menyimpan bahaya. Seperti yang terjadi pada 2018 lalu, wabah E coli melanda beberapa negara bagian Amerika Serikat.

Penyebaran wabah ini diduga disebabkan oleh konsumsi selada romaine (romaine lettuce) yang ditanam di Yuma, negara bagian Arizona.

"Informasi yang dikumpulkan hingga saat ini menunjukkan bahwa selada romaine, yang dipanen dari Yuma, dapat terkontaminasi bakteri E coli O157: H7, dan bisa membuat orang sakit," demikian pernyataan resmi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Sudah 172 orang sakit gara-gara mengonsumsi selada yang terkontaminasi itu. Insiden tersebut membuktikan, bahkan makanan yang dianggap menyehatkan pun tak lepas dari risiko.

Sejumlah hasil riset para ilmuwan juga menunjukkan bahwa bahkan makanan yang paling biasa pun bisa berbahaya.

Seperti dikutip dari situs Bright Side, Jumat (1/6/2018), berikut adalah 8 makanan biasa yang berisiko dan dan bagaimana cara untuk mencegah bahaya yang bisa ditimbulkan.

 

2 dari 5 halaman

Selada dan Telur

Resep Menu dari Bahan Selada Air
Perbesar
Selada air | Via: istimewa

1. Selada (Lettuce)

Para ilmuwan dari Center for Science in the Public Interest menganalisis statistik dalam kurun waktu 12 tahun terakhir.

Para ahli mencoba untuk mencari tahu, makanan apa yang menyebabkan jumlah kasus keracunan terbesar.

Ternyata, lettuce (selada) ternyata ada di nomor satu. Sayuran itu bertanggung jawab atas 363 wabah, dengan 13.568 kasus keracunan.

Jadi, meski lettuce dipak secara baik, dengan menyandang tulisan 'ready to eat' atau siap dimakan, lebih baik untuk mencucinya terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

2. Telur

Ilustrasi telur (AFP)

Infeksi salmonella, yang salah satunya berasal dari kotoran ayam yang terinfeksi, bisa berbahaya. Terutama bagi anak-anak, orang tua, dan orang-orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah.

Jika Anda melihat cangkang telur dalam kondisi tak sempurna, lebih baik untuk untuk mencucinya terlebih dahulu sebelum memasaknya menjadi orak-arik dan menyajikannya ke seluruh keluarga.

 

3 dari 5 halaman

Daging Ayam dan Tuna Beku

Inflasi
Perbesar
Pembeli membeli daging ayam di pasar, Jakarta, Jumat (6/10). Dari data BPS inflasi pada September 2017 sebesar 0,13 persen. Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan karena sebelumnya di Agustus 2017 deflasi 0,07 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

3. Ayam

Satu tetes jus atau cairan dari daging ayam mentah mengandung bakteri Campylobacter yang cukup untuk menginfeksi seseorang. Bakteri tersebut bisa memicu demam dan masalah gastrointestinal.

Bakteri tersebut menyebar sangat cepat ketika kita mencuci daging ayam -- menempel di tangan, celemek, atau bagian dapur.

Agar aman, kita harus meminimalkan kontak dengan ayam mentah. Selain itu, cuci talenan dan pisau yang digunakan secara terpisah dengan perkakas dapur lainnya.

Bahkan disarankan untuk mencucinya dengan air mendidih.

4. Tuna

Calon pembeli memeriksa kualitas ikan tuna segar sebelum pelelangan pertama tahun ini di pasar ikan Tsukiji di Tokyo (5/1). Presiden LEOC Co, Hiroshi Onodera, yang mengelola bisnis restoran sushi memenangkan tawaran lelang ini. (AP Photo / Eugene Hoshiko)

 

Ketika ikan beku dicairkan, tapi kemudian disimpan dengan cara yang salah, protein beracun yang disebut scombrotoxin terbentuk.

Scombrotoxin bisa memicu keracunan makanan yang mengarah ke ruam kulit, muntah, sakit perut, diare, denyut jantung tinggi, dan bahkan kehilangan penglihatan.

Solusinya, tuna harus dicairkan tanpa membiarkannya kontak dengan udara luar.

Ambil tuna beku dari dari freezer dan taruh di rak paling rendah di lemari es tanpa membuka bungkusnya. Ikan beku yang memiliki berat 4 pon atau 1,8 kg membutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk mencair.

4 dari 5 halaman

Keju hingga Sosis

Ilustrasi Keju
Perbesar
Ilustrasi Keju (iStock)

5. Keju

Tidak ada bahan kimia beracun dalam keju. Namun, dalam tahap produksi, mikroorganisme patogen yang bisa menyebabkan keracunan bisa masuk ke dalamnya. 

Kontaminasi bisa memicu brucellosis dan listeriosis -- jika susu yang tidak dipasteurisasi dari hewan yang sakit digunakan selama proses produksi.

Itulah mengapa, disarankan membeli keju dari produsen yang Anda kenal dan percayai.

6. Sosis dan Daging Olahan

Ilustrasi sosis (iStock)

Menurut penelitian, 12 persen sosis dan produk daging lainnya terinfeksi E. coli dan mikroorganisme patogen (listeriosis dan salmonella).

Listeriosis (listeria) sangat berbahaya bagi orang sepuh, wanita hamil, bayi baru lahir, dan anak-anak yang usianya belum satu tahun.

Infeksi bakteri itu dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf dan bahkan meningitis.

5 dari 5 halaman

Daging Giling dan Minuman Bersoda

Ramadan, Harga Daging Sapi Masih Normal
Perbesar
Suasana jual beli daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (29/5). Rata-rata pedagang masih menjual daging sapi seharga Rp 120 ribu per kilogram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

7. Daging Giling

Para ahli menemukan jejak obat antimikroba, E. coli, salmonella, dan listeria dalam daging giling. Mengingat risikonya, disarankan untuk memotong daging tipis-tipis dan menggorengnya, daripada menggunakan versi giling.

8. Minuman Bersoda

Air soda juga memiliki banyak manfaat lain yang tidak terduga, di samping kesegaran dan fungsinya sebagai penghapus dahaga.

 

Selain obesitas dan kerusakan hati (liver), alasan lain mengapa Anda harus berhenti minum soda adalah efeknya pada tulang.

Soda mengandung asam fosfat dan kafein yang menyebabkan penurunan kepadatan mineral tulang atau bone mineral density (BMD) dan akhirnya bermuara pada osteoporosis.

 

Lanjutkan Membaca ↓