Presiden Rodrigo Duterte Nyatakan Siap Berperang dengan China Jika...

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 30 Mei 2018, 12:06 WIB
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte

Liputan6.com, Manila - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan, Tiongkok akan melanggar garis merah yang memicu perang, jika secara sepihak menambang sumber daya alam di Laut China Selatan.

Pernyataan Duterte tersebut dikutip oleh Menteri Luar Negeri Filipina, Alan Peter Cayetano, sesaat setelah memimpin upacara pengibaran bendera di Kementerian Luar Negeri di Manila, pada Senin, 28 Mei 2018.

Dikutip dari CNN pada Rabu (30/5/2018), Cavetano juga membela pemerintah Filipina dari tuduhan, bahwa mereka mengambil kebijakan lunak tentang militerisasi Tiongkok di Laut China Selatan.

"(Beijing) mengatakan beberapa garis merah, kami mengatakan beberapa garis merah ... Presiden telah mengatakan hal tersebut. Jika ada yang mendapat sumber daya alam di Laut Filipina Barat, Laut China Selatan, presiden akan pergi berperang," kata Cayetano.

Ketegangan di Laut China Selatan kian meningkat dalam beberapa pekan terakhir, setelah muncul laporan tentang pendaratan pesawat pengebom di pulau buatan Tiongkok di kawasan tersebut, untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Di bawah kepemimpinan Rodrigo Duterte, yang mulai menjabat pada tahun 2016, Filipina disebut telah melunakkan retorikanya terhadap Negeri Tirai Bambu terkait sengketa di Laut China Selatan.

Pada bulan April, Rodrigo Duterte secara terbuka menyatakan bahwa dia "mengagumi" Presiden China Xi Jinping.

Tidak jelas apakah pernyataan terbaru itu menandai pendekatan lebih keras Duterte, yang sebelumnya dituduh terlalu lunak dalam masalah ini. Namun, menurut Cayetano, pemerintah Filipina telah memberi tahu China tentang peringatan risiko "garis merah".

Saat ini, Manila dikabarkan sedang mengejar tercapainya perjanjian eskplorasi bersama dengan Beijing, untuk cadangan minyak dan gas alam di wilayah yang saling mereka klaim di Laut China Selatan.

Cayetano mengatakan dalam pidato tersebut, kementeriannya berulang kali diperintahkan oleh Rodrigo Duterte untuk "mengajukan protes" atas tindakan Beijing di Laut Cina Selatan.

"Kami mengambil semua tindakan diplomatik pada saat yang tepat," katanya.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 of 2

Manuver Militer AS

Antisipasi Terorisme, AS dan Filipina Gelar Latihan Militer Gabungan
Penampakan kapal fregat angkatan laut Filipina, Ramon Alcaraz saat latihan militer gabungan dengan AS di Pantai San Antonio, Zambales, Manila, Filipina, Rabu (9/5). Latihan ini diikuti oleh delapan ribu personel gabungan. (TED ALJIBE/AFP)

Pidato Menlu Cayetano muncul setelah dua kapal milik Angkatan Laut Amerika Serikat kedapatan berlayar dalam jarak 12 mil laut, atau sekitar 22,3 kilometer, dari pulau reklamasi milik China di Kepulauan Paracel.

Oleh Washington, berlayarnya dua kapal tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai upaya Beijing membatasi kebebasan navigasi di perairan strategis.

Meski operasi pelayaran itu telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya oleh AS dan aktivitas serupa merupakan rutinitas, eksekusinya terjadi di waktu yang sangat sensitif, yakni beberapa hari setelah Negeri Paman Sam tidak mengundang China dalam latihan militer bersama yang digelarnya.

Menurut laporan Reuters yang dikutip dari ABC Online pada Senin lalu, para pejabat AS yang tidak ingin disebut namanya, mengatakan bahwa rudal perusak Higgins dan kapal penjelajah Antietam, telah melintas sejauh 12 mil laut (sekitar 22,3 kilometer) dari Kepulauan Paracel, yang menjadi sumber konflik antara China dan beberapa negara di sekitar Laut China Selatan.

Kapal militer AS yang berlayar pada Minggu, 27 Mei 2018, juga dilaporkan melakukan manuver di dekat pulau Tree, Lincoln, Triton dan Woody yang berada di dalam area Kepulauan Paracel.

Lanjutkan Membaca ↓