Israel Tolak Penyelidikan Internasional Atas Pembantaian di Gaza

Oleh Khairisa Ferida pada 21 Mei 2018, 10:31 WIB
Diperbarui 21 Mei 2018, 10:31 WIB
Momen Saat Demonstran Palestina Dihujani Gas Air Mata di Jalur Gaza
Perbesar
Pasukan Israel menembakkan gas air mata ke arah demonstran Palestina selama bentrokan di perbatasan jalur Gaza (11/5). Sejak aksi digelar kembali pada 30 Maret 2018, sekitar 50 warga Palestina telah tewas oleh tembakan Israel. (AFP Photo/Mohammed Abed)

Liputan6.com, Tel Aviv - Kementerian Luar Negeri Israel pada hari Minggu, 20 Mei kemarin, mengumumkan penolakannya terhadap keputusan Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk membentuk komisi penyelidikan atas serangan pasukan Israel terhadap warga sipil Palestina yang tengah mengadakan demonstrasi bertajuk Great March of Return di Jalur Gaza.

Seperti dikutip dari Middleeastmonitor.com, Senin (21/5/2018), merespons posisi Israel, kelompok Hamas menekankan bahwa penolakan Tel Aviv untuk membentuk komisi penyelidikan internasional adalah bukti keterlibatannya dalam kejahatan perang.

Seorang juru bicara kelompok Hamas, Abdullatif Al-Qanoua, lewat pernyataan persnya mengatakan bahwa penolakan untuk membentuk komisi penyelidikan menggarisbawahi kebrutalan dan keteguhan Israel dalam meneror dan membunuh warga Palestina, serta mencemooh PBB dan mengabaikan keputusan lembaga internasional.

Pada Jumat, Dewan PBB mengadopsi resolusi yang menyerukan pengiriman mendesak sebuah komite independen untuk "menyelidiki dugaan pelanggaran dan perlakuan buruk dalam rangka serangan militer yang diluncurkan selama protes sipil besar yang dimulai sejak 30 Maret 2018 di Gaza".

Kementerian Luar Negeri Israel mengumumkan posisi resmi Tel Aviv melalui sebuah pernyataan, "Israel sepenuhnya menolak keputusan Dewan HAM PBB untuk membentuk komisi penyelidikan atas serangkaian peristiwa di Gaza."

Sejumlah politisi juga Israel telah mengkritik Dewan HAM PBB atas keputusannya untuk meluncurkan penyelidikan internasional independen terhadap pelanggaran Israel di Jalur Gaza.

Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim bahwa keputusan Dewan HAM PBB membuktikan sekali lagi bahwa itu (Dewan HAM PBB) adalah "sebuah badan yang didominasi oleh kemunafikan dan absurditas dengan mayoritas bermusuhan dengan Israel".

Dalam pernyataan yang sama disampaikan pula bahwa "hasil Komisi Penyelidikan, yang diputuskan untuk dibentuk, telah diketahui sebelumnya dan tecermin dalam penyusunan resolusi yang sama".

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

'Israel Gunakan Kekuatan yang Tidak Proporsional di Gaza'

Anak-anak Palestina jadi Korban saat Bentrok dengan Israel
Perbesar
Petugas medis menggendong seorang anak Palestina yang terkena gas air mata selama protes di dekat Beit Lahiya, Jalur Gaza, Senin (14/5). Tentara Israel menembak dan membunuh puluhan warga Palestina selama protes massal di perbatasan Gaza (AP/Dusan Vranic)

Komisaris Tinggi HAM PBB mengatakan Israel menggunakan kekuatan yang "sepenuhnya tidak proporsional" terhadap protes-protes di perbatasan Palestina yang telah menyebabkan lebih dari 100 orang tewas sejak aksi berlangsung pada 30 Maret 2018.

Seperti dikutip dari BBC, Sabtu, 19 Mei 2018, dalam sebuah pertemuan di Jenewa, Zeid Raad Al Hussein mengatakan bahwa warga Gaza secara efektif "dikurung di daerah kumuh yang beracun". Ia menegaskan bahwa pendudukan Gaza oleh Israel harus diakhiri.

Sementara itu, Duta Besar Israel mengatakan kelompok militan di Jalur Gaza (Hamas) sengaja menempatkan warga dalam bahaya.

Pada Senin, 14 Mei 2018, bertepatan dengan peresmian Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem, bentrokan antara warga Palestina dan militer Israel menewaskan lebih dari 60 orang. Fakta ini menjadikan hari itu sebagai hari paling mematikan di Gaza sejak perang tahun 2014 antara Israel dan Hamas.

Demonstrasi bertajuk Great March of Return di Gaza berlangsung untuk menuntut penghapusan blokade ilegal Jalur Gaza oleh Israel dan diizinkannya jutaan warga Palestina yang terusir sejak berdirinya Israel kembali ke tanah leluhur mereka.

Sebagian besar unjuk rasa ini diorganisasi oleh Hamas, yang mengontrol Jalur Gaza.

Namun, Israel mengklaim, unjuk rasa tersebut merupakan kedok Hamas untuk menerobos pagar perbatasan dan selanjutnya melancarkan serangan ke wilayah mereka.

Lanjutkan Membaca ↓