Kuwait Desak PBB Kutuk Israel dan Bela Palestina

Oleh Khairisa Ferida pada 18 Mei 2018, 17:03 WIB
Diperbarui 18 Mei 2018, 17:03 WIB
Dengan Kursi Roda, Pria Palestina ini Ikut Bertempur di Jalur Gaza
Perbesar
Seorang pria Palestina bernama Saber al-Ashkar menyiapkan batu saat terlibat bentrok dengan pasukan Israel di dekat perbatasan antara Israel dengan Jalur Gaza (11/5). (AFP/Mahmud Hams)

Liputan6.com, Kuwait City - Kuwait mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk penggunaan kekuatan Israel terhadap warga Palestina, terutama di Jalur Gaza, dan menyebarkan pasukan internasional untuk melindungi masyarakat sipil.

Sebuah rancangan resolusi yang diajukan Kuwait, perwakilan Arab di Dewan Keamanan PBB, juga menuntut agar Israel "segera menghentikan pembalasan militernya, hukuman kolektif, dan penggunaan kekuatan yang melanggar hukum terhadap warga sipil, termasuk di Jalur Gaza."

Seperti dilansir The Washington Post yang mengutip The Associated Press pada Jumat (18/5/2018), Amerika Serikat telah membela tindak Israel di Gaza dan kemungkinan besar Washington akan memveto resolusi tersebut jika dilakukan pemungutan suara.

Upaya Kuwait ini datang setelah Dewan Keamanan PBB gagal menyatakan sikap tentang konfrontasi di Gaza yang terjadi pada Senin, 14 Mei, bertepatan dengan 70 tahun berdirinya Israel sekaligus peresmian Kedutaan Besar AS di Yerusalem. Lebih dari 60 warga Palestina tewas dalam bentrokan dengan militer Israel.

Sejak hari Senin, Kuwait dilaporkan berusaha membuat Dewan Keamanan PBB mengeluarkan pernyataan yang mengekspresikan kemarahan atas pembunuhan terhadap warga Palestina dan segera menggelar penyelidikan independen. Namun, AS cepat menghalau upaya tersebut dengan mengatakan sikap Kuwait menunjukkan keberpihakan karena tidak menyinggung hasutan kekerasan oleh Hamas, kelompok yang berkuasa di Gaza dan memimpin jalannya demonstrasi.

Rancangan resolusi yang diajukan Kuwait menyerukan langkah-langkah yang harus diambil untuk menjamin keselamatan dan perlindungan penduduk sipil Palestina, termasuk melalui penyebaran "misi perlindungan internasional."

Draf resolusi Kuwait menyerukan pula "pengangkatan penuh blokade dan pembatasan yang diberlakukan oleh Israel pada gerakan dan akses masuk dan keluar dari Jalur Gaza." Itu termasuk "pembukaan titik-titik persimpangan segera, berkelanjutan, dan tanpa syarat" untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan, barang-barang komersial, dan orang-orang untuk masuk dan keluar sesuai dengan hukum internasional."

Kuwait juga mengungkapkan "keprihatinan besar pada eskalasi kekerasan dan ketegangan serta memburuknya situasi" di wilayah Palestina, termasuk Yerusalem Timur, sejak 30 Maret dan atas tingginya korban jiwa. Selain itu, Kuwait juga mendesak bantuan segera dan tanpa hambatan bagi warga sipil di Gaza

Rancangan resolusi itu meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan utusan PBB untuk Timur Tengah Nikolay Mladenov untuk membantu mencegah kekerasan, melindungi warga sipil, dan menciptakan "lingkungan yang kondusif untuk dialog."

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Kekerasan Paling Mematikan sejak 2014

Bentrokan di Jalur Gaza, Ladang Gandum Israel Hangus Terbakar
Perbesar
Petugas pemadam Israel berusaha memadamkan api di ladang dekat Kibbutz of Mefallesim di perbatasan Jalur Gaza (15/5). Ladang gandum ini dibakar oleh warga Palestina dengan menggunakan layang-layang. (AFP/Ahmad Gharabli)

Demonstrasi pada hari Senin, 14 Mei 2018, menandai hari paling mematikan dari kekerasan lintas perbatasan di Gaza sejak perang 2014 antara Israel dan Hamas. Sekitar 40.000 warga Palestina dilaporkan terlibat aksi.

Para demonstran bergerak lebih dekat ke pagar perbatasan, membakar ban dan melemparkan batu atau bom api. Beberapa mencoba menyerang pagar.

Sementara, dari sisi Israel, para penembak jitu melepaskan tembakan, menewaskan lebih dari 60 orang Palestina dan melukai ribuan lainnya.

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa, utusan PBB untuk Timur Tengah mengatakan tidak ada pembenaran atas pembunuhan tersebut.

Beberapa anggota Dewan Keamanan PBB menyerukan penyelidikan independen dan mendesak Israel untuk menggunakan kekuatan secara proporsional, sementara juga menegur Hamas untuk menghindari provokasi.

Duta Besar AS Nikki Haley, sementara itu, mengatakan Hamas telah menggerakkan kekerasan dan Israel telah bertindak untuk "menahan diri."

Israel mengatakan bahwa beberapa dari mereka yang tewas terlibat dalam penanaman peledak atau menembaki tentara. Tel Aviv mengklaim Hamas menggunakan protes perbatasan untuk menutupi serangan mereka.

Lanjutkan Membaca ↓