Terkuak, Ekuador Habiskan Jutaan Dolar AS untuk Memantau Tamu Pendiri Wikileaks

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 17 Mei 2018, 06:54 WIB
Diperbarui 17 Mei 2018, 06:54 WIB
Pendiri Wikileaks Julian Assange (AFP)

Liputan6.com, London - Pemerintah Ekuador disebut telah membiayai operasi mata-mata bernilai jutaan dolar, untuk melindungi dan mendukung Julian Assange di kedutaan besarnya di London, Inggris.

Menurut laporan The Guardian yang dikutip oleh South China Morning Post pada Rabu (16/5/2018), operasi mata-mata itu bahkan turut mempekerjakan sebuah perusahaan keamanan internasional dan agen rahasia khusus, untuk mengawasi para pengunjung, staf kedutaan dan bahkan polisi Inggris.

Selama lebih dari lima tahun, Ekuador menggelontorkan setidaknya 5 juta dolar AS (sekitar Rp 70,5 miliar) ke dalam anggaran intelijennya.

Komponen biaya tersebut, salah satunya, digunakan sebagai 'ongkos' Operasi Hotel (Operation Hotel) yang bertujuan melindungi pendiri WikiLeaks ketika ia mendapat kunjungan dari Nigel Farage, seorang anggota kelompok nasionalis Eropa yang disebut memiliki keterkaitan dengan Kremlin.

Operasi mata-mata pemerintah Ekuador itu juga dilakukan terhadap tamu-tamu Assange lainnya, termasuk peretas, aktivis, pengacara, dan jurnalis.

Menurut dokumen milik Badan Intelijen Ekuador, yang dikenal dengan nama Senain, dari Juni 2012 hingga akhir Agustus 2013, Operasi Hotel telah menghabiskan biaya sebesar 972,889 dolar AS, atau setara dengan Rp 13,7 miliar.

Jumlah tersebut digunakan untuk membiayai pembelian dan perawatan kamera pengawas yang dipasang di seluruh sudut Kedutaan Besar Ekuador di London, sejak masuknya Assange lebih dari setengah tahun lalu.

Pada saat yang sama, dokumen terkait menunjukkan kontrak rahasia dengan perusahaan keamanan internasional, yang ditugaskan untuk mendata dan memantau semua aktivitas di kedutaan.

Perusahaan memasang sebuah tim yang menyediakan layanan pemantau keamanan 24 jam selama tujuh hari penuh, yang ditempatkan di sebuah apartemen dengan harga sewa 3.800 dolar AS (sekitar RP 53 juta) per bulan, tidak jauh dari Kedubes Ekuador yang berlokasi di wilayah Knightsbridge, London.

Selain itu, tugas personil keamanan terkait adalah mencatat setiap beberapa menit sekali kegiatan harian Assange, termasuk interaksinya dengan staf kedutaan, tim hukum, dan pengunjung lainnya.

Bahkan, mereka juga diketahui mendokumentasikan perubahan suasana hati Assange, dan kemudian menganalisanya.

Assange juga diwajibkan mengkonsultasikan terlebih dahulu tentang siapa saja yang hendak datang berkunjung.

Para tamu diharuskan melewati zona keamanan khusus, dan wajib meninggalkan paspor kepada petugas yang berjaga di pintu masuk utama.

Paspor dibutuhkan untuk membuat profil yang menggambarkan kunjungan, dan memberikan rincian latar belakang semua tamu Asaange

Hal itu dilakukan karena pemerintah Ekuador khawatir pihak berwenang Inggris dapat menggunakan kekuatan teritorial untuk memasuki kedutaan dan merebut Assange.

Penahanan paspor juga dimaksudkan untuk menghindari risiko pejabat Ekuador datang dengan rencana untuk membantunya melarikan diri.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 dari 2 halaman

Melanggar Protokol Diplomatik

Presiden Ekuador-Lenin Moreno
Presiden Ekuador Lenin Moreno mengenakan kursi roda saat menghadiri upacara militer Hari Kemerdekaan di Quito, Ekuador, (10/8). Ekuador diumumkan Hari Kemerdekaannya pada 10 Agustus 1809. (AP Photo/Dolores Ochoa)

Sementara itu, mantan Presiden Ekuador, Rafael Correa, disebut sengaja menghabiskan jutaan dolar AS untuk meningkatkan citranya, melalui pemberian suaka kepada Julian Assange.

Muncul kabar bahwa Correa menyewa seorang pengacara untuk menyusun "strategi media", sebagai penanda dua tahun pemberian suaka diplomatik kepada pendiri Wikileaks itu, pada 2014 lalu.

Hal di atas termasuk membiayai konferensi pers global yang digelarnya bersama dengan Menteri Luar Negeri Ekuador kala itu, Ricardo Patiño, di London, serta penerbitan opini khusus di harian The Guardian.

Secara total, konsultasi media yang dilakukan oleh Correa itu, menghabiskan dana hingga 180.960 dolar AS (sekitar Rp 2,5 miliar) selama satu tahun.

Namun, dokumen terkait justru menunjukkan hubungan antara Assange dan tuan rumahnya (pemerintah Ekuador) kian memburuk dalam beberapa waktu terakhir.

Dalam pelanggaran protokol diplomatik yang luar biasa, menurut sumber anonim, Assange ketahuan meretas sistem komunikasi di dalam kedutaan, dan memiliki akses internet satelit sendiri.

Dengan menembus firewall kedutaan, Assange disebut dapat mengakses dan mencegat komunikasi resmi dan pribadi para staf.

Lanjutkan Membaca ↓