Sambil Kendarai Truk, Putin Resmikan Jembatan Kontroversial Rusia-Crimea

Oleh Tanti Yulianingsih pada 16 Mei 2018, 13:34 WIB
Diperbarui 18 Mei 2018, 13:13 WIB
Vladimir Putin mengendarai truk dalam peresmian jembatan kontroversial yang menghubungkan Rusia selatan dengan semenanjung Crimea. (AP)

Liputan6.com, Kerch - Presiden Rusia Vladimir Putin meresmikan jembatan kontroversial sepanjang 12 mil (setara 19,3 kilometer), yang menghubungkan Rusia selatan dengan Semenanjung Crimea pada Senin 15 Mei 2018.

Seperti dikutip dari USA Today, Rabu (16/5/2018), jembatan kontroversial itu menghubungkan wilayah Krasnodar selatan, Rusia dengan Kota Kerch di Krimea. Membentang di atas hamparan air antara Laut Hitam dan Laut Azov.

Proyek ini menelan biaya 228 miliar rubel atau sekitar Rp 51,7 triliun dan akan menjadi jembatan terpanjang di Eropa, mengalahkan predikat yang sebelumnya dipegang oleh Jembatan Vasco da Gama di Lisabon, Portugal.

Jembatan itu diperkirakan akan sepenuhnya rampung pada akhir 2018, tetapi selesai enam bulan lebih cepat dari jadwal dan akan dibuka untuk lalu lintas umum pada 16 Mei. Demikian menurut pernyataan Kremlin.

Ukraina mengkritik proyek tersebut, mengatakan pembangunan jembatan kontroversial itu merusak lingkungan. Selain itu, sarana penghubung tersebut bisa membuat kapal yang lebih besar tak dapat melewati pelabuhannya di Laut Azov.

Dikutip dari CBC.Ca, dalam peresmian jembatan itu Putin mengendarai dump truck KAMAZ buatan Rusia bersama konvoi kendaraan yang melintasi jembatan di atas Selat Kerch.

Beberapa orang Rusia menyebut fasilitas itu dengan Putin's Bridge atau jembatan Putin, yang dirancang untuk menghubungkan Crimea ke jaringan transportasi Rusia.

Pada upacara peresmian yang disiarkan langsung di televisi setempat, Putin terlihat mengenakan celana jins biru, disambut oleh para pekerja yang bersorak-sorai di sisi Krimea.

"Akhirnya, berkat bakatmu, proyek ini, keajaiban ini, telah terjadi," kata Putin kepada para pekerja.

Sementara di Kiev, Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengecam tindakan Presiden Rusia itu.

"Konstruksi ilegal jembatan Kerch adalah bukti terbaru dari Kremlin yang mengabaikan hukum internasional," kata Poroshenko.

"Ini jelas sangat sinis, pembukaannya terjadi pada malam peringatan deportasi orang-orang Krimea-Tatar oleh rezim Stalin," jelas Poroshenko.

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

2 dari 2 halaman

Menuai Kritik

Vladimir Putin mengendarai truk dalam peresmian jembatan kontroversial yang menghubungkan Rusia selatan dengan semenanjung Crimea. (AP)
Vladimir Putin mengendarai truk dalam peresmian jembatan kontroversial yang menghubungkan Rusia selatan dengan semenanjung Crimea. (AP)

Upacara pembukaan jembatan itu memicu lebih banyak kritik.

"Prancis mengutuk pembangunan Rusia atas Kerch Bridge, yang mencabut akses penuh Ukraina dan penggunaan perairan teritorial yang diakui secara internasional," kata seorang jurubicara Kementerian Luar Negeri Prancis.

Juru bicara European External Action Service mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Selasa 15 April bahwa jembatan itu merupakan "pelanggaran lain terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina."

"Uni Eropa terus mengutuk aneksasi ilegal Crimea dan Sevastopol oleh Rusia, tidak akan mengakui pelanggaran hukum internasional ini," kata juru bicara itu.

Sementara itu, Uni Eropa dan sanksi AS menargetkan mereka yang terlibat dalam realisasi jembatan, terutama pengusaha Arkady Rotenberg -- sekutu dekat Putin yang perusahaannya, Stroygazmontazh memenangkan kontrak konstruksi.

Semenanjung itu sampai sekarang sulit diakses dari Rusia selatan dengan antrean panjang kendaraan yang sering mencoba menaiki feri -- yang tidak selalu bisa berjalan selama badai musim dingin. Moda transportasi termudah adalah dengan penerbangan.

Meski dikritik, sejatinya keberadaan jembatan itu memainkan peran penting dalam mengurangi ketergantungan kawasan itu pada transportasi laut. Di mana sebelumnya sejumlah besar makanan diangkut dari Rusia ke Krimea dengan kapal, akibat sanksi Barat dan pemblokiran dari Kiev.

Rusia menganeksasi Krimea dari Ukraina pada 2014, menarik sanksi dan memperburuk hubungan dengan Barat.

Lanjutkan Membaca ↓