Petani AS Khawatir tentang Kebijakan Impor Kedelai China

Oleh Liputan6.com pada 14 Mei 2018, 08:42 WIB
5 Manfaat Kedelai untuk Kesehatan (iStockphoto)

Liputan6.com, Washington DC - Sementara petani di Amerika Serikat (AS) mulai melakukan kegiatan tanam tahun ini, mereka dihadapkan pada beragam tantangan baru, yang disebabkan oleh ancaman pemberlakuan bea impor oleh pemerintah China.

Dikutip dari VOA Indonesia pada Senin (14/5/2018), situasi itu merupakan perkembangan terakhir dalam pertikaian perdagangan AS-China, yang diamati dengan penuh kecemasan oleh petani-petani di Negeri Paman Sam.

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memproyeksikan pendapatan dari sektor pertanian pada 2018, akan turun ke level terendah dalam 12 tahun terakhir.

Setiap tarif bea impor yang diberlakukan China bisa berdampak pada harga kedelai, dan pada akhirnya, juga keuntungan petani.

Selain itu, ada keprihatinan baru bahwa pembeli di China, konsumen kedelai terbesar di dunia, telah menghentikan pembelian dari petani Amerika Serikat sebelum tarif diberlakukan.

 

Simak video pilihan berikut:

 

 

2 of 2

China Pemilik Terbesar Surat Utang AS

Bendera China
Ilustrasi (iStock)

Sementara itu, China disebut kian meningkatkan kepemilikan surat utang AS sebesar USD 8,5 miliar pada Februari 2018.

Angka pembelian itu terbesar dalam enam bulan terakhir, sehingga membuat kepemilikan surat utang AS oleh Cina saat ini, mendekati USD 1,18 triliun.

Saat ketegangan perdagangan antara AS dan China meningkat, ada spekulasi kalau orang China dapat kurangi pembelian surat utang AS, dan bahkan terus jual surat utang atau obligasi.

"Ini peningkatan terbesar dalam enam bulan, tapi itu hanya kenaikan USD 8,5 miliar. Saya tidak berpikir itu benar-benar besar. Bulan lalu ada penurunan cukup besar,” ujar Tom Simons, Ekonom Jefferies, seperti dikutip dari laman CNBC pada awal April lalu.

China merupakan pemegang surat utang terbesar di AS, diikuti Jepang yang memiliki nilai USD 1,06 triliun.

Lanjutkan Membaca ↓