Indonesia dan Taiwan Menjajaki Kerja Sama di Bidang Kesehatan dan Medis

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 09 Mei 2018, 14:31 WIB
Diperbarui 11 Mei 2018, 14:13 WIB
Pembukaan New Southbound Policy: Cooperation Potentials on Health between Taiwan and Indonesia di Jakarta, 9 Mei 2018 (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan RI dan Taipei Economic and Trade Office (TETO) Taiwan untuk Indonesia tengah menjajaki berbagai kerja sama di bidang kesehatan dan medis antara kedua negara.

Penjajakan itu dilakukan dalam sebuah seminar bertajuk 'New Southbound Policy: Cooperation Potentials on Health between Taiwan and Indonesia' di Jakarta, 9 Mei 2018. Pemangku kepentingan bidang medis dan kesehatan dari kedua negara ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Ketua TETO, John Chen mengemukakan bahwa penjajakan kerja sama itu meliputi berbagai bidang cakupan meliputi, penanganan penyakit menular, kajian asuransi kesehatan nasional, pertukaran ilmu pengetahuan, teknik, dan teknologi, serta beragam kemitraan dalam tataran kelembagaan serta instansi bidang kesehatan-medis.

"Di sini perwakilan pemerintah dan kelompok bisnis kedua negara bisa bertukar pengalaman serta membahas potensi kerja sama kedua negara di bidang medis dan kesehatan nasional," kata John Chen di Jakarta, Rabu (9/5/2018).

Elizabeth Jane Soepardi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Ditjen P2P Kemenkes RI yang hadir dalam perhelatan itu, menyambut baik upaya penjajakan peningkatan kerja sama dengan Taiwan.

Ia juga menambahkan, "Kemenkes, khususnya direktorat saya, mengincar kerja sama di bidang technical assistance dengan Taiwan. Terutama di bidang teknik-teknologi pencegahan dan penanggulan penyakit menular epidemi vektor -- penyakit yang dibawa oleh serangga seperti demam berdarah, malaria, dan lain-lain," kata Elizabeth dalam kesempatan yang sama.

Elizabeth menjelaskan bahwa beberapa pekan sebelumnya, perwakilan Kemenkes RI telah melakukan kunjungan kerja ke Taiwan untuk penjajakan kerja sama yang ia maksud.

Dari hasil kunjungan itu, pihak Kemenkes RI tertarik dengan teknologi serta teknik yang digunakan sejumlah lembaga medis Taiwan dalam bidang pengendalian epidemi penyakit vektor, ujar Elizabeth.

"Teknologinya sudah maju. Mereka memanfaatkan teknologi masa kini untuk mengembangkan teknik-teknik pengendalian epidemi penyakit vektor yang canggih," kata perempuan yang pernah menjabat sebagai Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes RI itu.

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

2 dari 2 halaman

Kerja Sama di Tataran Teknis

Kepala TETO John Chen (tengah) dan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Ditjen P2P Kemenkes RI Elizabeth Jane Soepardi (kanan) (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)
Kepala TETO John Chen (tengah) dan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Ditjen P2P Kemenkes RI Elizabeth Jane Soepardi (kanan) (Rizki Akbar Hasan / Liputan6.com)

Lebih lanjut, Elizabeth Jane Soepardi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Ditjen P2P Kemenkes RI menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia mengharapkan peningkatan kerja sama pertukaran ilmu pengetahuan dan teknologi medis-kesehatan dengan Taiwan untuk waktu mendatang.

Karena, menurut Elizabeth, kerja sama seperti itu dinilai lebih efektif dan efisien serta memberikan dampak langsung bagi situasi kesehatan di Indonesia.

Ia mencontohkan, Taiwan telah memanfaatkan teknologi drone untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyebaran insektisida pembasmi serangga vektor, seperti nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles.

Ada pula teknologi perangkap serangga vektor dalam jumlah besar yang dapat digunakan untuk mencegah epidemi penyakit demam berdarah serta malaria di Indonesia.

Taiwan juga memiliki laboratorium penelitian dan insektarium serangga-serangga vektor yang ditujukan untuk meningkatkan kapabilitas riset pencegahan dan penanganan penyakit yang disebabkan oleh hewan tersebut.

"Jadi itu yang sedang kita upayakan, supaya Taiwan bisa pasarkan atau share teknologi semacam itu ke Indonesia," kata Elizabeth.

Meski memiliki keterbatasan hubungan diplomatik, Indonesia - Taiwan telah memiliki segelintir kerja sama teknis di bidang medis dan kesehatan.

Misalnya, penguatan kerja sama antara National Taiwan University Hospital (NTUH) dengan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada 2017, serta pengiriman sejumlah perawat dari Indonesia untuk menimba ilmu di Taiwan.

Dalam naskah pidato yang dibacakan oleh Elizabeth, Menteri Kesehatan Nina Moeloek mengapresiasi bentuk-bentuk kerja sama teknis seperti itu, juga, penjajakan serupa untuk ke depannya.

"Karena, kerja sama seperti itu bisa diimplementasikan secara langsung dan memberikan dampak positif bagi pihak-pihak yang membutuhkan," ujar Menkes Nina melalui naskah pidato yang dibacakan oleh Elizabeth.

Lanjutkan Membaca ↓