PM Israel Akan Bertemu Presiden Rusia, Bahas Kesepakatan Nuklir Iran?

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 06 Mei 2018, 15:07 WIB
Diperbarui 06 Mei 2018, 15:07 WIB
PM Benjamin Netanyahu tengah berbincang dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow
Perbesar
PM Benjamin Netanyahu tengah berbincang dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow pada Maret 2017 (AP PHOTO)

Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada 9 Mei 2018. Pertemuan tersebut untuk membicarakan perkembangan isu-isu regional.

Kantor PM Israel menyatakan, pertemuan akan berlangsung di Kremlin, selepas Netanyahu menghadiri perayaan Hari Kemenangan Uni Soviet terhadap Nazi Jerman di Moskow. Demikian seperti dikutip dari The Jerussalem Post, (6/5/2018).

Tak dijelaskan lebih lanjut tentang agenda spesifik pertemuan kedua kepala negara tersebut.

Namun, tatap muka itu berlangsung di tengah periode gencar-gencarnya kampanye Israel agar para negara penandatanganan Pakta Kesepakatan Nuklir Iran atau JCPOA menghentikan serta 'merevisi' kembali perjanjian itu.

Rusia merupakan salah satu pihak penandatangan JCPOA sekaligus sekutu terdekat Iran -- di mana Moskow dan Tehran berkoalisi dalam proxy conflict di Suriah.

Pertemuan Netanyahu-Putin pun terselenggara beberapa hari sebelum tenggat 12 Mei, yaitu saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan memutuskan apakah akan melanjutkan atau menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran, yang dicapai pada 2015.

Pada 30 April, Netanyahu membocorkan arsip nuklir rahasia Iran yang didapatkan oleh badan intelijen Israel. Menurut Netanyahu, arsip tersebut bisa dijadikan bukti kebohongan-kebohongan Iran soal program nuklirnya.

Pertemuan Netanyahu-Putin akan menjadi yang kedelapan kalinya dalam dua tahun terakhir ini, selain setidaknya 12 pembicaraan lewat telepon yang sudah dilakukan kedua pemimpin, menurut media Israel, seperti dikutip dari Antara.

 

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Klaim PM Israel dan Laporan IAEA

PM Israel Benjamin Netanyahu
Perbesar
PM Israel Benjamin Netanyahu tengah melakukan presentasi terkait apa yang disebutnya sebagai bukti bahwa Iran menyimpan senjata nuklir (AP Photo/Sebastian Scheiner)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mengklaim berhasil memperoleh dokumen yang membuktikan bahwa Iran secara diam-diam menjalankan program pengembangan senjata nuklir.

Netanyahu juga mengklaim, dokumen puluhan ribu halaman itu menunjukkan bahwa Negeri Para Mullah telah menipu dunia dan melanggar Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA) dengan tetap mengembangkan proyek tersebut, meski Tehran menyangkalnya. Demikian seperti dikutip dari BBC (1/5/2018).

Dokumen itu, menurut klaim Netanyahu, menunjukkan bahwa Iran telah memulai program senjata rahasia pada satu titik pada pra-tahun 2000-an. Program itu bernama 'Project Amad'.

Program tersebut kemudian ditutup pada 2003, bertepatan ketika Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang terafiliasi PBB memulai penyelidikan terhadap Iran atas tuduhan mengembangkan energi nuklir untuk senjata.

Namun, menurut Netanyahu, program itu tak benar-benar ditutup.

Sejak 2003, Iran masih terus menjalankan program pengembangan senjata nuklir itu secara rahasia hingga beberapa tahun setelahnya, klaim Netanyahu. Bahkan, sampai ketika Tehran menandatangani JCPOA pada 2015 -- menunjukkan pelanggaran Iran atas pakta tersebut.

Netanyahu mengatakan telah mengirim dokumen itu ke IAEA agar lembaga terafiliasi PBB itu bisa menganalisis lebih lanjut. Di sisi lain, negara anggota JCPOA turut mengkaji dokumen tersebut.

Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang terafiliasi PBB menyatakan bahwa tidak ada indikasi kredibel mengenai aktivitas pengembangan senjata nuklir Iran setelah 2009. Demikian seperti dikutip dari VOA.

Laporan yang disajikan oleh Kepala IAEA Yukiya Amano itu mengakhiri penyelidikan lebih dari satu dekade tentang tuduhan bahwa Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir -- tuduhan yang berulang kali ditolak oleh pihak Tehran.

Amano menyimpulkan, Iran memang melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan 'bom nuklir' sebelum tahun 2003.

Akan tetapi, aktivitas itu tidak melampaui penelitian ilmiah yang memungkinkan Iran memperoleh 'kompetensi dan kemampuan teknis tertentu yang relevan'.

Lanjutkan Membaca ↓