Korea Selatan-Korea Utara Kemungkinan Bersatu di Asian Games Jakarta, tapi ...

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 20 Apr 2018, 19:20 WIB
Diperbarui 20 Apr 2018, 19:20 WIB
Korea Selatan dan Korea Utara tampil bersama di bawah bendera unifikasi di Olimpiade Musim Dingin 2018 (Instagram/@pyeongchang2018)
Perbesar
Korea Selatan dan Korea Utara tampil bersama di bawah bendera unifikasi di Olimpiade Musim Dingin 2018 (Instagram/@pyeongchang2018)

Liputan6.com, Jakarta - Publik dunia dibuat kagum ketika atlet asal Korea Selatan dan Korea Utara, bergabung dalam satu tim pada beberapa pertandingan di Olimpiade PyeongChang 2018.

Semangat 'persatuan' itu kian tampak ketika Won Yun-jong, seorang bobsledder dari Korsel, dan Hwang Chung-gum dari tim hoki Korut, memimpin barisan kontingen saat upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin berlangsung, awal Februari lalu.

Kini, ketika pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta tinggal menghitung bulan, muncul pertanyaan apakah atlet dari kedua negara akan kembali bertanding bersama seperti di PyeongChang.

Menurut Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-beom, hal itu bisa saja kembali terjadi. Namun, dirinya membatasi informasi sebelum benar-benar ada keputusan resmi dari otoritas kedua negara.

"Olahraga memang bisa menyatukan banyak hal, tapi saya tidak bisa bilang apakah hal itu mungkin (kembali) terjadi di Asian Games 2018. Belum ada pembicaraan yang saya dengar tentang itu," jelas Chang-beom ketika ditemui di Jakarta pada Kamis, 19 April 2018.

Chang-beom mengaku sangat antusias melihat kontingen kedua negara bersatu di beberapa cabang olahraga, yang dipertandingkan di Olimpiade Musim Dingin 2018.

Ia menyebut hal itu sebagai sinyal yang baik untuk mengomunikasikan perdamaian di Semenanjung Korea, ke tingkatan yang lebih tinggi.

"Saya tidak bisa meramal akan seperti masa depan (semenanjung) Korea, tapi jika melihat kerja sama seperti itu, saya yakin ada masa depan untuk melakukan lebih banyak kerja sama yang saling menguntungkan bagi kedua negara," ujarnya.

Saat ini, menurut Chang-beom, telah dimulai upaya peningkatan kerjasama kedua negara di bidang olahraga dan kesenian. Namun, ia belum bisa menjelaskan seperti apa bentuk kolaborasi tersebut, kecuali informasi bahwa Korea Selatan dan Korea Utara terbuka untuk beberapa kemungkinan positif hubungan mereka di masa depan.

Mengutip laporan yang ditulis oleh CNN pada Februari lalu, sangat jarang sekali terjadi perwakilan Korea Utara duduk bersama dengan perwakilan berbagai negara.

Ketika Kim Yo-jong, adik perempuan Kim Jong-un, duduk berdampingan dengan Wakil Presiden AS Mike Pence dan beberapa delegasi Korea Selatan di bangku penonton, publik pun berharap akan ada pembahasan positif tentang konflik dingin yang mendera Semenanjung Korea selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

"Kami (Korea Selatan) sadar bahwa perhatian dunia terhadap upaya stabilisasi perdamaian di Korea sangatlah besar, dan kami berupaya menjadikannya selalu positif," tegas Chang-beom.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 dari 2 halaman

Apakah Mungkin Tercipta Reunifikasi Semenanjung Korea?

Bendera Korea Utara dan Korea Selatan berkibar berdampingan - AFP
Perbesar
Bendera Korea Utara dan Korea Selatan berkibar berdampingan - AFP

Sementara itu, isu reunifikasi di Semenanjung Korea menjadi salah satu topik yang cukup menyita perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, apakah mungkin kedua negara kembali bersatu? Menurut Kim Chang-beom, isu tersebut sangatlah kompleks untuk dibahas.

"Di Korea (Selatan) sendiri muncul dua pandangan tentang isu reunifikasi. Kelompok (usia) muda banyak yang menyambut positif terhadap ide penyatuan Korea, tapi mereka yang lebih tua, yang pernah merasakan Perang Korea, reunifikasi bukan hal yang menjadi prioritas," jelas Chang-beom.

Dijelaskan oleh Chang-beom, meski cukup banyak generasi muda Korsel memandang positif isu reunifikasi, mereka enggan berpartisipasi dalam penyesuaian pajak, yang dimaksudkan untuk menyeimbangkan kondisi kedua negara.

"Butuh waktu paling cepat, mungkin sepuluh tahun, jika ada reunifikasi, dan menyamakan kondisi kedua negara. Biayanya juga pasti besar, dan generasi muda kami belum begitu menyadari dampak tersebut (penyesuaian tarif pajak)," jelasnya.

Adapun generasi tua, menurut Chang-beom, sama-sama merindukan semenanjung yang bersatu Namun, karena melewati masa-masa pasca-Perang Korea, mereka cenderung memilih opsi stabilitas perdamaian, dibanding reunifikasi.

"Saya pernah membaca hasil survei publik, yang salah satunya menunjukkan bahwa perdamaian Semenanjung Korea lebih diterima, dibanding jika kami (Korea Selatan dan Korea Utara) bersatu," ujarnya menjelaskan.

Chang-beom berpendapat bahwa kemungkinan opsi terbaik saat ini adalah penghentian ancaman perang, dan memulai kemitraan dalam mewujudkan perdamaian antara Korea Selatan dan Korea Utara.

Lanjutkan Membaca ↓