Presiden Suriah Kembalikan Penghargaan Tertinggi yang Diberikan Prancis

Oleh Khairisa Ferida pada 20 Apr 2018, 12:30 WIB
Diperbarui 22 Apr 2018, 12:13 WIB
Penghargaan tersebut dikembalikan Suriah melalui Kedutaan Rumania di Damaskus, yang mewakili kepentingan Prancis.

Liputan6.com, Damaskus - Suriah telah mengembalikan penghargaan Orde national de la Legion d’honneur yang diserahkan kepada Presiden Bashar al-Assad. Damaskus menegaskan, Assad tidak akan menerima penghargaan dari negara yang merupakan "budak" Amerika Serikat.

Presiden Assad diberikan penghargaan tersebut pada tahun 2001, setelah ia mengambil alih kekuasaan pasca-kematian sang ayah, Hafizh al-Assad.

Langkah itu diambil beberapa hari setelah Prancis mengatakan, sebuah prosedur tengah dilakukan untuk mencabut penghargaan tersebut.

"Kementerian Luar Negeri... telah mengembalikannya ke Republik Prancis... Orde national de la Legion d’honneur yang diberikan kepada Presiden Assad," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Suriah seperti dikutip dari BBC, Jumat (20/4/2018).

"Tidak ada kehormatan bagi Presiden Assad untuk memakai atribut yang diberikan oleh budak dan pengikut Amerika Serikat yang mendukung teroris," sebut pernyataan itu.

Setiap tahun, sekitar 3.000 orang dianugerahi Orde national de la Legion d’honneur atau Légion d'honneur atas jasa mereka terhadap Prancis, membela HAM, kebebasan Prancis, atau sejumlah alasan lainnya.

Penghargaan tersebut dikembalikan Suriah melalui Kedutaan Rumania di Damaskus, yang mewakili kepentingan Prancis.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Suriah Dibombardir Rudal

Luluh Lantak, Begini Kerusakan Parah di Suriah Usai Diserang AS
Kondisi bangunan Pusat Penelitian Ilmiah Suriah yang hancur parah usai diserang oleh AS dan sekutunya di Barzeh, Damaskus (14/4). Serangan itu menyisakan puing-puing bangunan yang luluh lantak akibat rudal. (AP/Hassan Ammar)

Prancis, pada Sabtu 14 April 2018, bergabung dengan Amerika Serikat dan Inggris untuk melancarkan serangan ke sejumlah target di Suriah. Lebih dari 100 rudal diluncurkan oleh Amerika Serikat Cs.

Serangan itu dilakukan sebagai balasan atas dugaan serangan senjata kimia di Douma. Barat menuding, Suriah mendalangi aksi itu.

Menurut oposisi, lebih dari 40 orang tewas dalam dugaan serangan senjata kimia di Douma yang terjadi pada 7 April 2018.

Merespons dugaan serangan senjata kimia tersebut, Inspektur Pengawas Senjata Kimia (OPCW) telah tiba di Suriah. Namun, tim OPCW belum dapat melaksanakan tugas. Teranyar, tim Departemen dan Keamanan PBB (UNDSS) diserang dengan tembakan senjata ringan dan sebuah alat peledak.

Lanjutkan Membaca ↓