AS: Suriah dan Rusia Berusaha Hilangkan Bukti Serangan Senjata Kimia

Oleh Khairisa Ferida pada 20 Apr 2018, 11:03 WIB
Diperbarui 22 Apr 2018, 10:13 WIB
Luluh Lantak, Begini Kerusakan Parah di Suriah Usai Diserang AS

Liputan6.com, Washington, DC - Amerika Serikat mengklaim memiliki informasi yang dapat dipercaya bahwa Rusia dan Suriah tengah berusaha "membersihkan" lokasi dugaan terjadinya serangan senjata kimia. Hal tersebut disampaikan oleh pihak Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Heather Nauert mengatakan, tim inspektur dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) belum diberikan akses ke lokasi dugaan terjadinya serangan senjata kimia di Douma. Serangan dikabarkan terjadi pada 7 April 2018.

"Kami memiliki informasi kredibel yang menunjukkan bahwa para pejabat Rusia bekerja sama dengan rezim Suriah untuk menolak dan menunda tim inspektur mendapatkan akses ke Douma," ungkap Nauert seperti dikutup dari News.com.au pada Jumat, (20/4/2018).

"Para pejabat Rusia telah bekerja sama dengan rezim Suriah, kami yakini, untuk membersihkan lokasi dugaan serangan dan menghilangkan barang bukti yang memberatkan terkait penggunaan senjata kimia," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nauert juga menegaskan kembali sikap Amerika Serikat yang meyakini bahwa Suriah bertanggung jawab atas serangan senjata kimia di Douma. Menurutnya, Washington memiliki informasi yang dapat dipercaya yang menyebutkan bahwa "orang-orang di lokasi telah ditekan oleh Rusia dan Suriah untuk mengubah pengakuan mereka".

Nauert menyatakan kekhawatiran pihaknya bahwa barang bukti akan semakin "memburuk" seiring dengan penundaan pemberian akses terhadap tim investigasi. "Itu sangat memprihatinkan kami."

Negara-negara Barat mengklaim sejumlah orang tewas dalam dugaan serangan senjata kimia tersebut. Namun, segala tudingan Barat dibantah Suriah dan Rusia.

Adapun Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis telah melancarkan serangan balasan untuk merespons dugaan serangan senjata kimia tersebut. Washington dan sekutunya meluncurkan lebih dari 100 rudal ke Suriah pada Sabtu, 14 April 2018.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Tim Keamanan PBB Diserang

Jet Tempur Prancis Lepas Landas untuk Menyerang Suriah
Jet tempur Dassault Rafale milik Prancis bersiap untuk lepas landas di Pangkalan Udara Saint-Dizier, Jumat (13/4). Pesawat diluncurkan ke Suriah sesaat setelah Presiden Emmanuel Macron mengumumkan Prancis bergabung dengan Amerika dan Inggris (ECPAD / AFP)

OPCW pada Rabu, 18 April 2018, mengatakan bahwa para pejabat keamanan PBB memasuki Douma pada Selasa, 17 April 2018 untuk melakukan survei terhadap wilayah yang diduga menjadi lokasi penyerangan senjata kimia pada 7 April 2018. Namun, tim Departemen dan Keamanan PBB (UNDSS) diserang dengan tembakan senjata ringan dan sebuah alat peledak saat mereka berhenti di situs kedua.

Seperti dikutip dari Aljazeera.com, Kamis 19 April 2018, di situs pertama yang mereka kunjungi, para pejabat harus mundur karena adanya kerumunan orang hingga memicu masalah keamanan. Tidak ada yang terluka, dan tim PBB pun telah kembali ke ibu kota Suriah, Damaskus.

"UNDSS akan terus bekerja sama dengan Otoritas Nasional Suriah, Dewan Lokal di Douma, dan Polisi Militer Rusia untuk meninjau situasi keamanan. Saat ini, kita tidak tidak tahu kapan tim (pencari fakta) dapat dikerahkan ke Douma," sebut pernyataan OPCW.

Penyebaran hanya akan dipertimbangkan setelah disetujui oleh tim keamanan PBB, asalkan tim OPCW dapat memiliki akses tanpa hambatan ke sejumlah situs tersebut.

Pasukan Suriah dan Rusia menguasai Douma pada Sabtu ketika para pemberontak mundur dari kota, beberapa jam setelah berakhirnya serangan udara Barat.

Pada Selasa, SANA dilaporkan memuat kabar keliru yang menyebutkan bahwa tim pencari fakta OPCW, yang tiba di Damaskus pada hari Sabtu, telah memasuki Douma.

Lanjutkan Membaca ↓