China 'Perang' Lawan Jutaan Ulat, Ini Jurusnya

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 17 Apr 2018, 07:21 WIB
Ilustrasi ulat (iStock)

Liputan6.com, Nanjing - Pihak berwenang di sebuah kota yang terletak di China bagian timur menyatakan perang pada jutaan ulat yang menggeliat dan mengancam lingkungan.

Dikutip dari laman South China Morning Post, Senin (16/4/2018), jutaan larva terlihat menjelajah sudut kota wilayah Nanjing yang menjadi ibu kota provinsi Jiangsu. Serangan ngengat ini semakin parah apabila musim semi tiba.

Sejumlah wilayah jadi fokus pemusnahan, seperti kawasan kebun raya dekat Zijin Shan. Tak hanya itu, beberapa wilayah lain pun juga diserang jutaan ulat.

Seperti kebanyakan ulat lainnya, hewan-hewan kecil yang jadi musuh pemerintah China ini memakan dedaunan.

Terkadang, mereka tidak hanya diam di pohon saja. Beberapa mobil yang terparkir pun kerap dijatuhi ulat.

Saat melangkah terinjak ulat, saat duduk didatangi ulat, bahkan ketika sedang berwisata pun ulat-ulat juga muncul.

Hal ini bukan permasalahan biasa. Sebab jutaan ulat itu memakan daun pohon dan membuat hutan gundul.

Pemerintah tak punya pilihan lain selain meluncurkan operasi penyemprotan pestisida secara meluas.

Sementara itu, pejabat kehutanan mengatakan bahwa pestisida rendah toksisitas yang digunakan untuk menyemprot tumbuhan di taman dan ruang terbuka hijau lainnya tidak berbahaya, terutama bagi burung dan satwa lainnya.

Namun, masyarakat diminta untuk menjauh sejenak saat operasi penyemperotan pestisida sedang berlangsung.

Seorang ahli yang tak disebutkan namanya menyebut, jutaan ulat itu menyerang setelah kepompongnya berhasil melindungi diri di balik salju tebal saat musim dingin.

"Salju tebal memberikan perlindungan untuk kepompong hingga akhirnya menjadi ulat pada musim semi," ujar ahli tersebut.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 of 2

Ulat Tentara Ancam Menyerbu Asia?

Ilustrasi ulat (iStock)
Ilustrasi ulat (iStock)

Pada Februari 2017, serangan ulat di Afrika membuat geger Asia. Sebab, ulat yang dikhawatirkan ini sangatlah berbeda. Armyworm bukan ulat biasa. Seperti namanya, bak tentara ia datang berkelompok, menghabisi tanaman apa pun yang dilewati.

Kini, hewan yang juga disebut ulat grayak itu menyerbu Afrika, menyerang ladang jagung. Panen pun terancam gagal total.

Ulat tentara bukan hewan asli Afrika. Ia datang dari jauh dari seberang samudra, dari Amerika Selatan dan Utara. Baru tahun lalu keberadaannya diketahui di Benua Hitam.

Seperti dikutip dari BBC, para ilmuwan dari Centre for Agriculture and Biosciences International (Cabi) memperingatkan, aksi penanggulangan mendesak untuk dilakukan.

Sebab, invasi makhluk menggelikan itu menjadi ancaman bagi keamanan pangan dan perdagangan produk pertanian.

Mata pencaharian para petani juga terancam, apalagi ulat tersebut terancam menyebar hingga Asia dan Mediterania.

"Spesies invasif tersebut kini menjadi wabah yang serius, yang menyebar dengan cepat di wilayah tropis Afrika dan berpotensi menyebar di Asia," kata kepala ilmuwan Cabi, Dr Matthew Cock.

"Aksi mendesak harus dilakukan untuk mencegah rusaknya tanaman dan mata pencaharian petani."

Para ilmuwan menduga, larva atau telur hewan itu mencapai Afrika, terbawa oleh produk impor.

Dr Jayne Crozier, dari Cab mengatakan, keberadaan ulat tentara terkonfirmasi di Afrika Barat dan diperkirakan ada di selatan dan timur Benua Hitam. Di Afrika, jagung jadi makanan pokok warga. Akibat wabah ini, potensi kelaparan pun meningkat.

"Temuan ulat tentara di Afrika akan menjadi ancaman besar bagi keamanan pangan dan perdagangan agrikultur di wilayah terdampak," tambah dia.

Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) merencanakan pertemuan darurat menanggapi insiden tersebut di Harare antara 14 dan 16 Februari 2017 --untuk memutuskan respons darurat terhadap ancaman ulat tentara.

Sebelumnya, Zambia menggunakan pesawat tempur untuk menyemprot area terdampak dengan pestisida.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait