Penyebab Jatuhnya Pesawat Militer Aljazair Masih Misterius

Oleh Afra Augesti pada 12 Apr 2018, 17:29 WIB
Pesawat Militer Aljazair Jatuh, 257 Penumpang Tewas

Liputan6.com, Algiers - Kecelakaan pesawat militer yang terjadi di Aljazair pada Rabu, 11 April 2108, adalah insiden paling mematikan yang pernah terjadi dalam sejarah kedirgantaraan. Sebanyak 257 orang dinyatakan tewas seketika.

Pesawat buatan Rusia, Ilyushin Il-76, dilaporkan membawa tentara dan warga sipil. Beberapa saat setelah lepas landas dari pangkalan militer Boufarik, sekitar 15 mil barat daya Algiers, pesawat tiba-tiba kehilangan kendali dan jatuh di sebuah lapangaan luas.

Sebelum menghantam tanah, pesawat sempat meledak dan mengobarkan api. Asap hitam pun mengepul di angkasa biru. Hanya segelintir penumpang yang selamat, menurut pemberitaan New York Times, Rabu, 11 April 2018.

Hingga hari ini, penyebab pasti kecelakaan maut itu belum diketahui dan Departemen Pertahanan Aljazair telah memulai penyelidikan.

Para ahli menyebut, Presiden Aljazair, Abdelaziz Bouteflika, adalah satu-satunya orang yang bisa mengatur kekuasaan militer negaranya. Namun, cara kerja dalam pemerintah sangat tidak jelas, itulah sebabnya beberapa orang skeptis bahwa pemerintah mau memberikan jawaban mengenai jatuhnya Ilyushin Il-76.

"Orang-orang akan menghindar ketika ditanya tentang kecelakaan itu, karena tidak ada informasi jelas," kata Lahouari Addi, seorang ilmuwan politik terkemuka dari Aljazair yang mengajar di Lyon's Institut d'Etudes Politiques, Paris, Prancis.

"Publik hanya akan mengulangi opini mereka, seperti biasa, bahwa ada korupsi di mana-mana. Tidak ada transparansi di Aljazair, tidak ada perdebatan," imbuhnya.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

PRABOWO SEBUT PERUSAHAAN PERUSAK LINGKUNGAN RAMAI DI ERA JOKOWI

Tutup Video
2 of 2

Hari Berkabung Nasional

Pesawat Militer Aljazair Jatuh, 257 Penumpang Tewas
Petugas keamanan dan tim penyelamat berjaga di sekitar reruntuhan pesawat tentara Aljazair yang jatuh di dekat pangkalan udara Boufarik, Aljazair (11/4). (AFP Photo/Ryad Krmadi)

Jatuhnya pesawat Ilyushin Il-76 terjadi sebelum pukul 08.00 waktu setempat. Ketika itu, masyarakat yang ada di dekat pangkalan Boufarik melihat api menyembur dari satu mesin, saat pesawat lepas landas dari landasan pacu, stasiun televisi swasta Aljazair melaporkan.

Beberapa detik kemudian, ketika mencapai ketinggian sekitar 1.000 kaki, Ilyushin Il-76 menukik dengan keras dan jatuh ke tanah. Sejumlah saksi mata mengungkapkan, pesawat itu mendarat di satu sayapnya, sebelum "mendarat" di sebuah lapangan. 

Pesawat rancangan Tashkent Aviation Production Association ini pun hancur berkeping-keping dan dilahap si jago merah. Guna mengevakuasi korban jiwa dan puing pesawat, puluhan ambulans, pemadam kebakaran dan tim SAR bergegas menuju lokasi.

Pejabat berwenang mengatakan, mereka sempat terkendala angin kencang untuk memadamkan api. Api berhasil dijinakkan setelah dua jam, Letnan Adel Zghaimi, seorang pejabat keamanan mengatakan kepada media pemerintah.

Dalam kecelakaan itu, tidak lebih dari lima orang yang selamat. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat karena cedera parah.

Sore harinya, tim SAR meletakkan kantong-kantong jenazah berisi jasad di dekat puing pesawat. Farouk Achour, juru bicara agen perlindungan sipil Aljazair, mengatakan kepada The Associated Press bahwa tubuh para korban mengalami luka bakar serius.

Menurut keterangan Kepala Eksekutif dari Aviation Safety Network, Harro Ranter, kecelakaan itu menjadi yang terburuk ke-16 dalam sejarah penerbangan, tidak termasuk korban jiwa.

Bagi Aljazair, itu adalah bencana penerbangan kesembilan dalam 15 tahun, termasuk helikopter dan kecelakaan pesawat penumpang jenis airbus, kata Mohamed Khelfaoui, mantan perwira dinas inteligen Aljazair.

Atas insiden nahas ini, Presiden Abdelaziz Bouteflika menyatakan tiga hari berkabung nasional.

Lanjutkan Membaca ↓