Putra Mahkota Arab Saudi Digugat di Prancis Atas Tuduhan Kasus Penyiksaan

Oleh Liputan6.com pada 11 Apr 2018, 09:36 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed Bin Salman saat disambut oleh pejabat tinggi Prancis di Paris (8/4/2018) (Saudi Press Agency via Arab News)

Liputan6.com, Paris - Seorang pengacara yang mewakili kelompok hak asasi manusia Yaman telah mengajukan gugatan di pengadilan Prancis terhadap Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed Bin Salman, atas tuduhan penyiksaan.

Pengacara itu, yang bernama Joseph Breham, menggugat Bin Salman saat sang pangeran tengah berada di Prancis untuk kunjungan kehormatan resmi awal pekan ini.

Gugatan itu mengklaim bahwa Bin Salman berperan dalam serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Isi gugatan tersebut juga mengklaim bahwa sang pangeran secara sengaja menargetkan dan menyiksa warga sipil dalam serangan udara tersebut. Demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia, 11 April 2018.

Breham mengatakan, selagi Bin Salman berada di Prancis, otoritas setempat memiliki yurisdiksi untuk menyelidiki kasus tersebut ketika gugatan itu diajukan hari Senin 9 April.

Namun, Breham menyadari bahwa Bin Salman tidak dapat ditangkap oleh pihak berwenang Perancis karena kekebalan diplomatiknya.

Kantor Kejaksaan Paris sejauh ini belum berkomentar atas gugatan terhadap sang Putra Mahkota Arab Saudi tersebut.

 

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

2 of 2

Agenda Sang Pangeran di Prancis

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman. (Dan Kitwood/Pool via AP)

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad Bin Salman telah tiba di Paris pada Minggu, 8 April 2018 malam waktu setempat -- mengawali kunjungan kehormatannya ke Prancis selama tiga hari pada awal pekan ini.

Setibanya di Paris, Pangeran Bin Salman segera dijamu makan malam dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Louvre Museum.

Jamuan tersebut menjadi ajang pemanasan bagi dialog bilateral antara Bin Salman - Macron yang berlangsung pada Senin 9 April.

Seperti dilansir media Uni Emirat The National (9/4/2018), dialog antara Bin Salman - Macron diprediksi membahas masa depan hubungan kedua negara di tengah proses reformasi Saudi yang hendak keluar dari ketergantungan terhadap minyak sebagai sumber pemasukan perekonomian.

Termasuk, Vision 2030, proyek reformasi dan restrukturisasi yang semakin digencarkan oleh Bin Salman sejak tahun lalu.

Sementara itu, sejumlah delegasi Saudi - Prancis juga diprediksi akan menandatangani sekitar 18 memorandum kesepahaman (MoU) yang mencakup berbagai bidang kerja sama bilateral, meliputi; energi, agrikultur, turisme, dan kebudayaan.

Penandatanganan belasan MoU itu akan dilakukan oleh para delegasi kedua negara dalam Forum CEO Arab Saudi - Prancis yang akan digelar pada Selasa 10 April atau sehari selang pertemuan bilateral Bin Salman - Macron.

Para pejabat Arab Saudi memproyeksikan hubungan yang kuat antara Pangeran Bin Salman dan Macron dalam pertemuan itu. Apalagi keduanya berbagi pandangan yang sama atas agenda reformasi untuk mengubah negara mereka masing-masing.

"Arab Saudi tidak mengatur ulang hubungan diplomatik dengan Prancis," kata sebuah sumber yang dekat dengan pemerintah Saudi seperti dikutip dari The National.

"Kepemimpinan kedua negara memiliki banyak kesamaan. Mereka muda, visioner, dan ambisius," ujar pejabat itu.

Sebelumnya, Presiden Macron telah bertemu dengan Pangeran Bin Salman di Arab Saudi pada November 2017.

Lanjutkan Membaca ↓