Sekolah di Dubai Terapkan Sistem Mengajar Tanpa PR untuk Para Siswa

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 11 Apr 2018, 06:27 WIB
Diperbarui 11 Apr 2018, 06:27 WIB
Ilustrasi Sekolah dan Anak (iStockphoto)
Perbesar
Sebenarnya, seberapa efektif kebijakan Sekolah Ramah Anak untuk Mengurangi Angka Kekerasan yang Terjadi pada si Kecil (iStockphoto)

Liputan6.com, Dubai - Sebuah sekolah di Dubai menerapkan sebuah kebijakan tak biasa dalam dunia pendidikan. Selama ini kita mengenal adanya pekerjaan rumah atau PR sebagai tugas harian pada anak-anak.

Namun, sekolah bernama Rising School menerapkan aturan baru yaitu sekolah tanpa PR.

Dikutip dari laman Gulf News, Selasa (10/4/2018), rupanya ada alasan mendasar mengapa sekolah ini menerapkan sistem tersebut.

Pihak Rising School mengatakan, alasan utama penerapan sistem ini mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Stanford University yang menyebut bahwa PRhanya akan memberi dampak buruk bagi anak.

Mereka mempercayai jika siswa diberikan PR terlalu banyak, maka akan menimbulkan stress bagi anak-anak. Jika hal ini sudah terjadi, efeknya akan merambat ke kondisi tubuh seseorang.

Selain itu, pihaknya mengatakan bahwa tidak semua orangtua punya kemampuan cukup untuk membantu anak-anaknya.

"Ada sejumlah alasan yang sangat valid bagi kami untuk tidak memberikan pekerjaan rumah pada anak. Salah satu efek yang dirasakan yaitu anak-anak akan merasa terbebani. Sementara itu, bagi anak-anak yang cerdas dan berprestasi akan menganggap jika PR itu akan monoton dan tak merangsang otaknya," ujar Michael Bartlett, kepala sekolah Rising School.

Bartlett mengatakan bahwa pihaknya lebih menekankan pada pendidikan pengembangan hobi dan minat anak. Anak-anak yang sudah selesai belajar di sekolah akan diberikan waktu yang cukup bersama kedua orangtua mereka.

"Dengan menghabiskan waktu bersama orangtua, anak-anak akan bisa membahas sebuah buku yang bermanfaat bagi tumbuh kembang. Sehingga kreatifitas anak-anak akan semakin terasah," ujar Bartlett.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Riset: Anak Sulung Lebih Sukses Dibanding Adiknya

Keluarga Bahagia Keluarga Harmonis
Perbesar
Ilustrasi Foto Keluarga (iStockphoto)

Bicara soal kajian seputar anak-anak, pada tahun 2017 IZA Institute of Labor Economics mengeluarkan hasil penelitian yang mengungkap bahwa anak pertama terbukti lebih sukses dibanding adik-adiknya.

Menurut penelitian tersebut, anak pertama 24 persen lebih mungkin bekerja di posisi puncak, seperti CEO dan eksekutif, dibanding anak kedua dan 28 persen lebih sukses dibanding anak ketiga. Sedangkan, anak kedua dan seterusnya lebih cenderung menjadi wiraswasta.

Penelitian itu mengatakan, anak pertama juga lebih stabil secara emosional, bersikap terbuka, dan bersedia bertanggung jawab dibanding adik-adiknya.

Mereka juga menemukan bahwa anak sulung lebih cenderung berada dalam karier yang bergantung pada ciri kepribadian "Lima Besar", yakni berhati-hati, berkeyakinan positif dan menghargai orang, memiliki emosi stabil, bersifat sosial, dan terbuka.

Dikutip dari Independet, alasan terjadinya hal tersebut memang belum diketahui pasti, namun diduga berasal dari pola pengasuhan.

Anak sulung cenderung gemar membaca buku dan menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaan rumah mereka, dan kecil kemungkinannya untuk menonton televisi.

Para periset menunjukkan bahwa orang tua kurang menaruh investasi dan perhatian pada anak-anak mereka yang lebih muda. Misalnya saja, mereka cenderung kurang mendiskusikan pekerjaan sekolah dengan anak kedua dan adik-adiknya.

Di sisi lain, menurut penelitian YouGov, anak-anak yang lebih muda memiliki kecenderungan lebih lucu dan santai. Berbeda dengan anak sulung yang memiliki tanggung jawab lebih besar dan berorientasi keluarga.

"Perbedaan yang paling signifikan adalah dalam merasakan beban tanggung jawab - kebanyakan (54 persen) anak sulung mengatakan bahwa mereka lebih bertanggung jawab daripada saudara mereka, dibandingkan mereka yang lahir terakhir (31 persen)," demikian menurut penelitian YouGov.

"Saudara yang lebih muda, di sisi lain, lebih cenderung mengatakan bahwa mereka lebih lucu (46 persen), dibandingkan dengan kakaknya yang mengaku lucu (36 persen), mereka juga lebih santai dan rileks."

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait