Sempat Dikira Judi, Permainan Ini Ternyata Kompetisi Kartu Akbar Pertama di Arab Saudi

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 08 Apr 2018, 13:31 WIB
Ilustrasi Bendera Arab Saudi (iStockphoto via Google Images)

Liputan6.com, Riyadh - Baru-baru ini, sebuah video viral di dunia maya yang menunjukkan keramaian pria Arab Saudi berkumpul dalam suatu ruangan besar, tengah menjadi sorotan.

Keramaian pria itu membentuk kelompok yang terdiri sebanyak empat orang di satu meja berwarna hijau -- mirip seperti yang ada di kasino-kasino judi kakap di Las Vegas.

Dalam ruangan tersebut, terdapat puluhan hingga ratusan meja yang diisi oleh empat pria. Mereka semua tampak tengah bermain kartu remi.

Sekilas, pemandangan dalam video yang viral itu seakan menggambarkan suasana kasino judi pada umumnya. Warganet yang melihat rekaman itu pun sempat mengira hal serupa.

Sebuah video yang diunggah ke internet pada 6 April 2018 memasang judul "First gambling center of Saudi Arabia inaugurated in Jeddah" -- Pusat judi pertama di Arab Saudi telah diresmikan di Jeddah.

Kemudian, ada netizen yang berkomentar, "Pria-pria Arab Saudi sudah gila! Kini mereka berjudi!"

Sementara netizen lain menulis, "Padahal judi dilarang oleh Islam".

Namun, benarkah bahwa peristiwa itu merupakan kasino judi pertama di Arab Saudi?

Salah satu pemuka agama menjadi peserta kompetisi kartu akbar pertama di Arab Saudi (Twitter via Al Araby)

Permainan Kartu Populer Bernama Baloot

Ternyata, peristiwa yang tampak dalam video viral itu bukan fenomena judi atau 'kasino pertama di Saudi' seperti yang diduga-duga oleh para warganet.

Peristiwa dalam video itu menunjukkan kompetisi permainan kartu pertama yang diselenggarakan di Arab Saudi. Permainan kartu itu bernama Baloot, yang populer di Negeri Petrodollar -- terinspirasi oleh permainan bernama Belote asal Prancis serta Rummy asal India dan Pakistan.

Hal itu dibenarkan oleh sejumlah media pemerintah dan independen di Timur Tengah.

Seperti dikutip dari media Pakistan Geo TV News (8/4/2018), kompetisi Baloot itu diselenggarakan pada 4 - 18 April di King Abdullah Petroleum Studies and Research Center.

Sekitar 12.000 pria Saudi berpartisipasi dalam kejuaraan yang disponsori dan diorganisasi oleh Otoritas Hiburan Umum (lembaga pemerintah Saudi) itu.

Empat peserta teratas akan berbagi total hadiah sekitar US$ 270.000, sementara pemenang utama akan mendapatkan hadiah sekitar US$ 150.000.

Baleegh Abdullah, seorang peserta, berharap untuk melihat perempuan berkompetisi dalam permainan unik ini dan mengharapkan popularitasnya semakin bertumbuh di Arab Saudi.

"Baloot pasti akan berkembang melalui kejuaraan seperti ini. Permainan ini sangat kompetitif dan memerlukan kecerdasan serta sinkronisitas antara anggota tim," kata Abdullah seperti dikutip dari media Pakistan The News International.

"Hadiah uang seperti itu sangat besar untuk kejuaraan yang baru pertama kali digelar dan belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih besar dari yang kami harapkan, dan saya yakin itu akan mendorong orang untuk mengembangkan minat dalam permainan ini," tambahnya.

Berikut video kompetisi kartu Baloot di Arab Saudi:

2 of 2

Sempat Dianggap Tabu

Konser di Arab Saudi
Wanita Saudi berswafoto saat menghadiri konser penyanyi Mesir, Tamer Hosny, di Jeddah pada 30 Maret 2018. Ribuan penggemar terkejut ketika tiket konser tertulis: menari sangat dilarang. (Amer Hilabi/AFP PHOTO)

Seperti dikutip dari media Pakistan Geo TV News, Baloot adalah permainan kartu yang populer bagi segala kalangan dan kerap dilakukan untuk memeriahkan berbagai acara sosial di Saudi -- seperti pernikahan, kumpul keluarga, atau acara sosialita antarkerabat.

Namun dulu, permainan itu biasanya dilakukan di tempat tertutup, jauh dari keramaian, dan tak digelar secara massal -- khawatir akan digerebek oleh polisi moral atau polisi agama di Saudi.

Alasan penggerebekan adalah, karena permainan itu dianggap bertendensi menjadi judi, dianggap tabu, bersifat candu, serta membuat pemainnya lupa waktu dan menjauhkan dirinya dari Tuhan.

Namun kini, sejak Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed Bin Salman menjadi figur pemimpin negara de facto di Saudi -- meski ayahya, Raja Salman, saat ini masih menjabat secara de jure -- aktivitas sosial yang sempat dianggap tabu justru menjadi marak.

Termasuk permainan Baloot.

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman mengunjungi Perdana Menteri Inggris Theresa May di 10 Downing Street, London, Rabu (7/3). Kunjungan ini dirancang untuk meningkatkan hubungan keamanan dan perdagangan kedua negara. (AP/Alastair Grant)

Lama dikenal karena adat istiadatnya yang ultra-konservatif, Arab Saudi telah memulai program reformasi sosial yang luas yang mencakup peningkatan olahraga, hiburan dan gaya hidup -- termasuk memungkinkan perempuan untuk mengemudi mulai bulan Juni 2018.

Pangeran Bin Salman telah memimpin gerakan modernisasi di Saudi, meski keputusannya ditentang oleh kelompok ultra-konservatif. Demikian seperti dikutip dari media Saudi berbasis di London, Al Araby.

Anjing menggonggong, khafilah berlalu. Sang Putra Mahkota justru tak memedulikan hal itu. Tahun ini, ia justru semakin bertekad untuk menggencarkan gerakan modernisasi tersebut.

Pada bulan Februari, Otoritas Hiburan Umum Arab Saudi mengumumkan akan mengadakan lebih dari 5.000 festival dan konser pada tahun 2018, menggandakan jumlah tahun lalu, dan memompa US$ 64 miliar di sektor ini dalam dekade mendatang.

Reformasi itu sebagian berasal dari motif ekonomi untuk meningkatkan belanja domestik untuk hiburan karena kerajaan mengalami kemerosotan ekonomi dari sektor minyak sejak 2014.

Bioskop pertama Arab Saudi dalam lebih dari tiga dekade juga akan dibuka pada 18 April di Riyadh setelah larangan atas pembukaan tempat semacam itu dicabut pada akhir tahun lalu.

Lanjutkan Membaca ↓