Akibat Perubahan Iklim, Gurun Terbesar di Dunia Kian Bertambah Luas

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 30 Mar 2018, 18:36 WIB
Diperbarui 01 Apr 2018, 18:13 WIB
20160411-Lari-Marathon-Maroko-AFP

Liputan6.com, Sahara - Selama satu abad terakhir, luas wilayah gurun Sahara telah bertambah secara signifikan, yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Fenomena itu diketahui berdasarkan kumpulan data ilmiah sejak 1923, dan terdiri dari berbagai faktor yang berkontribusi terhadap perubahan curah hujan di wilayah tersebut.

Dilansir dari Independent.co.uk pada Jumat (30/3/2018), para peneliti telah mencatat bahwa sebelum gurun Sahara memiliki wilayah seluas Amerika Serikat (AS), namu kini semakin melebar 10 persen sejak pengukuran pada satu abad lalu.

"Hasil penelitian kami memang spesifik pada gurun Sahara, namun ada kemungkinan memiliki implikasi pada gurun-gurun lain di berbagai belahan dunia," ujar Profesor Sumant Nigam, seorang ilmuwan atmosfer dan kelautan di Universitas Maryland, sekaligus penulis senior studi tersebut.

Karena populasi dunia terus bertambah, orang-orang di daerah perbatasan gurun tidak mampu betahan jika harus kehilangan lebih banyak tanah yang subur.

Seperti halnya padang pasir, Sahara mengalami pola ekspansi dan kontraksi musiman, tetapi Profesor Nigam dan rekan-rekannya mampu menetapkan perluasannya secara keseluruhan.

Untuk mengetahui dampak perubahan iklim, para ilmuwan menggunakan metode statistik untuk menghilangkan efek siklus iklim alami, seperti Atlantic Multidecadal Oscillation pada variabilitas curah hujan.

Hasil tersebut mengungkapkan kombinasi siklus iklim alami dan perubahan iklim, yang disebabkan manusia, telah menyebabkan perluasan wilayah gurun secara alami selama abad yang lalu.

Namun, penghitungan terakhir menandakan sebuah kabar buruk, karena diketahui bertambah luas sebanyak sepertiga dari ukuran alsinya pada 1923.

 

 Simak video tentang debu gurun sahar yang menyuburkan hutan Amazon berikut: 

2 of 2

Bisa Berdampak pada Gurun Lain di Seluruh Dunia

Gurun Sahara
Gurun Sahara (Wikipedia)

Hasil studi ilmiah yang dimuat di Journal of Climate itu menunjukkan bahwa tren di musim panas ekstrem di Afrika kian mengkhawatirkan, dan curah hujan semakin turun dari waktu ke waktu.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk meningkatnya efek gas rumah kaca, dan juga aerosol, di atmosfer.

"Tren ini juga memiliki dampak yang menghancurkan pada kehidupan orang Afrika, yang bergantung pada ekonomi berbasis pertanian," jelas Dr Ming Cai, seorang direktur program di Lembaga Sains Nasional di AS.

Natalie Thomas, seorang mahasiswa pascasarjana pada ilmu atmosfer dan kelautan, yang turut berkontribusi pada penelitian ini, mengatakan: "Dengan penelitian ini, prioritas kami adalah untuk mendokumentasikan tren jangka panjang dalam curah hujan dan suhu di Sahara."

“Langkah kita selanjutnya adalah melihat apa yang mendorong tren ini, untuk Sahara dan lokasi gurun lainnya," lanjut Thomas.

Bersamaan dengan studi tersebut, tim peneliti juga melakukan pengujian serupa di area gurun Mojave di Amerika Serikat.

"Di sini, musim dingin menjadi lebih hangat tetapi musim panas hampir sama," kata Thomas.

"Di Afrika, sebaliknya, musim dingin bertahan namun musim panas semakin panas. Jadi tekanan di Afrika sudah lebih parah."

Lanjutkan Membaca ↓