Mumi Berusia 2.500 Tahun Ditemukan di Laboratorium Universitas Sydney

Oleh Liputan6.com pada 27 Mar 2018, 20:40 WIB
Temuan mumi berusia 2.500 tahun di Sydney University (Natalia Morawski/ABC Australia)

Liputan6.com, Sydney - Ketika para arkeolog mengangkat tutup peti mati Mesir yang telah disimpan di Sydney University selama 150 tahun, mereka mendapati sebuah kejutan besar.

Mereka tidak tahu peti mati itu dipenuhi dengan jasad manusia alias mumi berusia sekitar 2.500 tahun.

Para peneliti menggunakan teknologi ilmiah terbaru untuk mengidentifikasi dan menganalisis mumi misterius tersebut.

"Kami akan memulai proyek yang sangat rinci untuk menyelidiki secara ilmiah jasad manusia di peti mati ini dan mengajukan banyak pertanyaan, siapa sebenarnya yang ada di dalam peti mati ini?" kata pemimpin penyelidikan itu Jamie Fraser, seperti dikutip dari ABC-Australia Plus (27/3/2018).

Mumi itu tidak utuh dan dalam kondisi sudah sangat rusak.

"Seorang perampok makam mungkin telah masuk dan merusaknya karena berusaha mencoba menemukan permata dan jimat," kata Fraser.

Hieroglif pada peti mati itu dibuat untuk seorang pendeta bernama Mer-Neith-it-es. Namun, beberapa peti mati tidak selalu menyimpan jasad yang dimaksudkan untuk mereka.

Seringkali mumi dibuang dari peti mati asli mereka, meskipun penjual barang antik Mesir akan menempatkan mumi lain di dalam jika pelanggan memintanya.

2 of 3

Mumi Dewasa

Temuan mumi berusia 2.500 tahun di Sydney University (Natalia Morawski/ABC Australia via Australia Plus)
Temuan mumi berusia 2.500 tahun di Sydney University (Natalia Morawski/ABC Australia via Australia Plus)

Sebagai bagian dari upaya untuk mengetahui segala sesuatu tentang mumi misterius, peti mati dan isinya itu dipindai dengan laser untuk membuat model 3D, dan kemudian dilakukan CT scan secara terperinci.

Ahli radiologi, Profesor John Magnussen mengatakan, meski bentuk fisik mumi itu sudah demikian rusak, namun, masih ada petunjuk yang cukup untuk memecahkan sebagian dari misteri itu.

"Sangat tua, dan jasad itu punya beberapa perubahan degeneratif awal dan sakrumnya (tulang besar yang berbentuk segi tiga di tulang belakang) masih menyatu, jadi kami tahu itu pasti orang dewasa," kata Magnussen menjelaskan beberapa bukti yang terungkap.

Temuan itu menjadi berita penting bagi para arkeolog.

"Kami tahu bahwa peti mati itu diperuntukkan untuk Mer-Neith-it-es," kata Jamie Fraser.

"Dan persambungan pada tulang-tulang itu berkata, ya, mereka adalah bagian tubuh orang dewasa, dan sebenarnya mereka adalah sisa-sisa orang dewasa berusia 30 tahun lebih."

Pemindaian juga mengungkapkan bahwa tulang kaki dan pergelangan kaki mumi itu sebagian besar masih utuh.

Setelah pemindaian, pakar mesir Connie Lord bertanggung jawab untuk memilah-milah lapisan puing-puing itu untuk menemukan kaki mumi.

"Bahkan bisa jadi masih ada kuku kaki yang masih menempel, itu akan sangat menggembirakan - itulah yang saya inginkan," katanya.

"Kuku jari kaki fantastis untuk menentukan usia fosil menggunakan teknologi radiokarbon."

3 of 3

Sebuah Penemuan Luar Biasa

20151216-Selesai Diperbaiki, Topeng Tutankhamun Dikembalikan ke Museum-Mesir
Topeng emas Raja Tutankhamun diperlihatkan di museum Mesir di Kairo, Rabu (16/12). Topeng bersejarah yang berusia 3.300 tahun itu ditunjukkan kepada wartawan setelah sebelumnya lebih dari dua bulan diperbaiki di bagian jenggotnya. (AFP/MOHAMED EL-SHAHED)

Selama pemeriksaan fisik, pakar Mesir kuno, Connie Lord membuat penemuan penting lainnya, bahwa sisa-sisa tubuh itu dituangkan ke tengkorak mumi setelah otaknya diangkat.

Dia mengatakan cetakan pada mummi ini mirip dengan yang ditemukan di dalam peti mati salah satu mumi paling terkenal yang pernah ditemukan, Tutankhamun.

"Itu bisa memberi tahu kami begitu banyak," kata Lord.

"Itu sebuah penemuan yang luar biasa, saya tidak ingat ada yang menemukan sesuatu seperti itu

"Itu pasti sangat langka."

Belakangan ini sangat tidak biasa bagi mumi untuk digali karena itu dianggap tidak etis untuk mengganggu sisa-sisa jasad manusia.

Tetapi artefak di dalam peti mati tersebut sangat membutuhkan pelestarian.

Diperlukan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk melakukan analisis lebih lanjut guna mengidentifikasi jasad tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓