Bikin Heboh, Beredar Video Ibu Ajari Anak Merusak Masjid

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 15 Mar 2018, 10:30 WIB
Diperbarui 17 Mar 2018, 10:13 WIB
Hentikan Vandalisme di Rusia

Liputan6.com, Tempe, Arizona - Baru-baru ini beredar sebuah video kontroversial yang menghebohkan para pengguna Facebook, lantaran menampilkan aksi seorang ibu mengajari anak-anaknya cara merusak masjid, dan melakukan berbagi tindak rasisme lain.

Dalam video yang diunggah oleh akun Tahnee Gonzales pada 4 Maret 2018 itu, tampak ia dan seorang gadis muda, pergi mengunjungi sebuah masjid di Kota Tempe, Arizona, Amerika Serikat (AS). Keduanya berdalih mengajarkan tiga anak yang dibawanya tentang makna patriotisme Amerika. Demikian dilansir dari Huffington Post pada Kamis (15/3/2018).

Dalam salah satu potongan videonya, Gonzales sempat menyampaikan orasi singkat mengenai kebencian terhadap Muslim, yang dianggapnya setara dengan para pemuja setan.

Gonzales juga dengan lantang menuding Muslim berpotensi merebut kedaulatan AS, dan membuat ia dan para warga Negeri Paman Sam lainnya tersingkirkan.

"Hati-hati, Muslim sedang menunggu waktu untuk berbuat tak senonoh," teriak gadis muda kepada tiga orang anak yang berlari semangat menuju masjid.

Anak-anak tersebut menempeli dinding bangunan masjid dengan pamflet berisi ujaran rasisme, mencoret pintu dengan spidol, dan bahkan meludahi terasnya.

Selain itu, tampak di video, salah seorang anak laki-laki bahkan menaiki bagian bumper belakang mobil jenazah, dan menggoyang-goyangkannya dengan keras.

Satu dari serangkaian video tindak rasisme itu sempat diunggah ulang oleh akun bernama Naui Ocelot, dan disaksikan hingga 1.000 orang.

Namun, Facebook telah menghapusnya pada akhir pekan lalu, lantaran muncul banyak laporan yang mengaku keberatan terhadap video tersebut.

Saat ini, Kepolisian Kota Tempe telah mengidentifikasi dua wanita yang bertanggung jawab atas unggahan video rasisme terkait, yakni Tahnee Gonzales dan Elizabeth Dauenhauer.

Setelah diselidiki lebih jauh, kedua wanita itu diketahui merupakan anggota Pegerakan Patriotisme AZ, sebuah kelompok yang disebut oleh Pusat Penanggulangan Ketimpangan Sosial di wilayah Southern Poverty Law Center. Grup tersebut merupakan sebuah komunitas terpinggirkan yang mendapat inspirasi dari retorika berlebih Presiden terhadap isu imigran dan Muslim'.

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

2 of 2

Berjuang Meraih Keadilan

Bikin Menggigil, Warga Ikuti Renang Air Dingin di Polar Bear Club
Ilustrasi Amerika. (Yana Paskova/AFP)

Setelah melaporkan kejadian terkait ke pihak kepolisian, imam dari Pusat Komuntas Muslim di Kota Tempe, Ahmad Al-Akoum, mengaku masih terkejut akan kejadian tersebut.

Bukan tentang tindak rasisme yang membuatnya prihatin, melainkan dilibatkannya anak kecil yang belum paham cara membedakan sikap baik dan buruk.

"Perhatian utama saya tertuju pada anak-anak kecil yang diajarkan kebencian oleh orang tuanya. Ini sangat menyedihkan. Bagaimana jika hal itu tidak bisa hilang hingga dewasa? Bukankah sama saja memicu permusuhan lebih luas?" ujar Al-Akoum prihatin.

Meski telah dilaporkan secara resmi ke pihak kepolisian, namun hingga kini, belum tampak tindakan hukum yang jelas terhadap Gonzales dan Dauenhauer, dua wanita yang bertanggung terhadap persebaran video bernada rasisme tersebut.

Al-Akoum dan para jemaat yang dipimpinnya optimis bahwa keadilan akan memihak mereka. Dukungan langsung dari Masyarakat Humanis Greater Phoenix juga telah mereka terima, di mana kian memperkuat posisi mereka dalam ‘pertempuran’ di meja hijau.

Masyarakat Humanis Greater Phoenix sendiri merupakan salah satu organisasi masyarakat berbasis toleransi terbesar di AS, dan kerap menjadi pendukung di balik upaya gugatan hukum terhadap praktik rasisme di negeri Paman Sam.

Lanjutkan Membaca ↓