Polisi Inggris: Eks Mata-Mata Rusia Diserang Racun Saraf

Oleh Citra Dewi pada 08 Mar 2018, 09:36 WIB
Diperbarui 08 Mar 2018, 09:36 WIB
Sergei Skripal
Perbesar
Sergei Skripal dijatuhi hukuman penjara selama 13 tahun oleh Rusia pada 2006 karena telah melakukan mata-mata untuk Inggris. (AP Photo/Misha Japaridze, File)

Liputan6.com, Wiltshire - Polisi mengungkap bahwa nerve agent atau zat perusak saraf menjadi zat misterius yang digunakan untuk menyerang mantan mata-mata Rusia, Sergei Skirpal, dan anak perempuannya, Yulia Skripal.

Sergei dan Yulia ditemukan tak sadarkan diri di sebuah bangku di luar pusat perbelanjaan di Salisbury pada Minggu, 4 Maret 2018. Keduanya langsung dilarikan ke rumah sakit dan saat ini mereka dalam kondisi kritis.

Seorang petugas kepolisian yang pertama kali tiba di lokasi kejadian, saat ini berada dalam kondisi serius di rumah sakit.

Sementara itu dua polisi yang tiba setelahnya dirawat di rumah sakit dengan gejala sakit ringan. Diketahui, mata gatal dan sesak napas merupakan gelaja terkena racun saraf.

Kepala Polisi Kontraterorisme, Mark Rowley, mengatakan bahwa ilmuwan pemerintah telah mengidentifikasi jenis nerve agent yang digunakan dalam percobaan pembunuhan eks mata-mata Rusia itu. Namun, pihaknya belum mau mengumumkan kepada masyarakat dalam tahap ini.

"Kasus ini ditangani sebagai insiden besar yang melibatkan percobaan pembunuhan, dengan menggunakan nerve agent," ujar Rowley seperti dikutip dari BBC, Kamis (8/3/2018).

"Setelah ditetapkan bahwa nerve agent menjadi penyebab gejala...Saya juga dapat memastikan bahwa kami yakin dua orang tersebut ditargetkan secara khusus," imbuh dia.

Meski demikian, Rowley mengatakan tidak ada bukti risiko kesehatan yang meluas terhadap masyarakat.

 

Saksikan video tentang Sergei Skripal, eks mata-mata Rusia yang kini kritis di Inggris:

2 dari 3 halaman

Tentang Nerve Agent

Racun
Perbesar
Ilustrasi

Nerve agent merupakan zat kimia sangat beracun yang dapat menghentikan sistem kerja saraf dan mematikan fungsi kerja tubuh.

Racun saraf itu biasanya masuk ke dalam tubuh melalui mulut atau hidung. Namun, nerve agent juga bisa menyerap melalui mata atau kulit.

Insiden yang menimpa Sergei Skripal mengingatkan akan kematian pembelot Rusia Alexander Litvinenko pada 2006. Ia meninggal di London pada 2006 setelah minum teh yang dicampur zat radioaktif polonium.

Seperti zat radioaktif polonium yang digunakan untuk membunuh Litvinenko, nerve agent bukan merupakan zat yang biasanya dapat dibuat oleh geng kriminal atau kelompok teroris.

Sebaliknya, racun saraf tersebut dibuat oleh laboran di bawah pengawasan pemerintah. Mengingat latar belakang Sergei dan zat yang digunakan untuk menyerangnya, banyak pihak yang saat ini menyoroti Rusia.

3 dari 3 halaman

Latar Belakang Sergei Skripal

Ilustrasi penjara
Perbesar
Ilustrasi penjara (iStock)

Kolonel Skripal yang merupakan pensiunan petugas intelijen militer Rusia, dijatuhi hukuman penjara selama 13 tahun oleh Rusia pada 2006 karena telah melakukan mata-mata untuk Inggris.

Ia didakwa telah menyerahkan sejumlah identitas agen mata-mata Rusia yang bekerja di Eropa kepada Badan Intelijen Inggris, MI6.

Sebagai imbalan karena telah memberikan infromasi sejak tahun 1990-an, Skripal dibayar US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,37 miliar.

Ia adalah satu dari empat tahanan yang dibebaskan oleh Moskow dalam pertukaran dengan 10 mata-mata Amerika Serikat pada 2010. Skirpal, kemudian diberi perlindungan di Inggris.

Tetangganya di Salisbury mengatakan, Skripal merupakan orang yang ramah. Istri dan anak laki-lakinya diketahui telah meninggal.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait