Pesawat Militer Rusia Jatuh di Suriah, 39 Tentara Tewas

Oleh Citra Dewi pada 07 Mar 2018, 09:36 WIB
Diperbarui 09 Mar 2018, 09:13 WIB
Pesawat AN-26

Liputan6.com, Hmeimim - Sebanyak 39 tentara Rusia tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat militer di Suriah, demikian laporan dari Kementerian Pertahanan Rusia.

Pesawat An-26 mengalami kecelakaan saat mendarat di pangkalan udara Hmeimim, di dekat kota pesisir Latakia. Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, pesawat jatuh sekitar 500 meter dari landasan pacu.

Data awal menyebutkan, kesalahan teknis diduga menjadi penyebab insiden tersebut. Namun, penyelidikan oleh komisi khusus masih dilanjutkan.

Dikutip dari BBC, Rabu (7/3/2018), insiden itu terjadi hanya satu pekan setelah pesawat tempur Rusia di pangkalan udara rusak akibat serangan pemberontak.

Rusia meluncurkan operasi militernya pada September 2015. Negeri Beruang Merah itu menyebut, langkahnya didasari oleh permintaan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 3 halaman

Insiden yang Menimpa Pesawat Militer Rusia

Pesawat TU-154 Rusia
Pesawat TU-154 Rusia (Wikipedia)
  • Februari 2018: Sukhoi-25 ditembak jatuh di wilayah yang dikuasai pemberontak di Idlib. Pilot sempat menggunakan kursi lontar namun tewas.
  • Desember 2017: Tembakan granat merusak sejumlah pesawat di Hmeimim, dua tentara Rusia tewas.
  • Desember 2016: Pesawat Tu-154 yang membawa 92 orang jatuh di Laut Hitam. Semua penumpang tewas.
  • Agustus 2016: Seluruh penumpang helikopter tewas saat ditembak jatuh di Idlib.
  • November 2015: Pesawat tempur Turki menembak jatuh Sukhoi-24. Seorang pilot tewas dan pilot lainnya berhasil diselamatkan.
3 dari 3 halaman

Dugaan Serangan Gas Klorin

FOTO: Derita Anak-Anak Suriah Korban Senjata Kimia Assad
Anak-anak menerima perawatan setelah menghirup senjata kimia di klinik darurat di Desa Al-Shifuniyah, Ghouta Timur, Damaskus, Suriah, Minggu (25/2). Ghouta pernah diserang senjata kimia yang menewaskan 1.500 orang pada 2013 lalu. (HAMZA AL-AJWEH/AFP)

Pada saat yang sama, petugas medis di Ghouta Timur melaporkan, mereka merawat warga dengan masalah pernapasan setelah terjadi serangan yang diyakini melibatkan gas klorin.

Laporan tersebut menyusul adanya serangan udara dan penembakan oleh pasukan pemerintah Suriah. Serangan itu terjadi beberapa jam setelah bantuan PBB meninggalkan wilayah tersebut setelah gencatan senjata lima jam berakhir.

Berulang kali Suriah membantah bahwa pihaknya telah melakukan serangan dengan menggunakan senjata kimia. Mereka menyebutnya sebagai tuduhan putus asa oleh kekuatan Barat.

Dalam perkembangan terpisah, penyidik kejahatan perang PBB mengatakan, serangan udara di Suriah baik oleh Rusia maupun koalisi pimpinan AS telah menewaskan warga dalam jumlah besar sepanjang 2017.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait