Disebut Negara 'Lubang Dubur', Presiden Uganda: Saya Cinta Trump

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 24 Jan 2018, 21:00 WIB
Diperbarui 26 Jan 2018, 20:13 WIB
Pemimpin Uganda, Yoweri Museveni (IMF via Newsweek)

Liputan6.com, Kampala - Presiden Uganda Yoweri Museveni menyatakan respons usai negaranya disebut sebagai salah satu negara yang, berdasarkan penilaian Presiden Donald Trump, termasuk dalam kategori 'negara lubang dubur'.

Respons itu disampaikan oleh Museveni di hadapan East African Legislative Assembly (EALA) di Kampala, Uganda pada 24 Januari 2018.

Entah berniat menyindir atau memang dimaksudkan secara harafiah, sang Presiden Uganda justru merespons komentar Trump dengan kata-kata positif -- yang justru bertolak belakang dari opini banyak negara lainnya.

"Amerika Serikat saat ini punya presiden terbaik sepanjang masa, Tuan Trump," kata Museveni mengomentari perkataan Trump yang menyebut seluruh seperti dikutip dari Newsweek (24/1/2018).

"Saya cinta Trump karena dia berbicara tentang (kondisi negara-negara di) Afrika dengan terus terang. Dia berbicara tentang kelemahan Afrika secara terus terang," tambahnya.

Sebagai latar belakang, beberapa pekan lalu, Presiden Trump menyebut Haiti dan negara-negara di Afrika --termasuk Uganda-- sebagai 'negara lubang dubur'. Hal itu diutarakan saat pertemuan dengan Kongres guna membahas kebijakan imigrasi AS.

Donald Trump menolak rencana AS untuk memulihkan perlindungan bagi imigran dari Haiti, El Salvador dan negara-negara Afrika. Sebaliknya, dia mendukung Amerika Serikat harus membawa lebih banyak orang dari negara-negara seperti Norwegia, Washington Post melaporkan.

Kembali ke Museveni. Melanjutkan responsnya terhadap komentar 'negara lubang dubur' yang diucapkan Trump, sang Presiden Uganda mengatakan;

"Saya tidak tahu apakah dia salah kutip atau apapun, tapi saya suka dia."

Museveni juga mengutarakan respons bernada serupa melalui akun Twitternya.

Ia menulis, "Donald Trump berbicara kepada Afrika secara terus terang. Orang Afrika perlu memecahkan masalah mereka. Anda tidak bisa bertahan jika Anda lemah".

"Adalah kesalahan orang Afrika jika mereka lemah. Kami 12 kali lebih besar dari India, tapi mengapa kita tidak kuat?" lanjut  Museveni yang tampaknya sepakat dengan komentar Donald Trump.

2 dari 3 halaman

Museveni Dikritik

Tayangkan Presiden Tidur Saat Sidang, TV Uganda Diberi Sanksi
Presiden Uganda Yoweri Museveni (dokumen Liputan6.com)

Respons Presiden Uganda Yoweri Museveni -- yang telah berkuasa sejak 1986 -- dalam mengomentari pernyataan 'negara lubang dubur' Trump justru menuai kritik.

Kritikus justru menilai, buruknya kepemimpinan Museveni justru menjadi penyebab utama kebobrokan yang terjadi dan dirasakan masyarakat di Uganda.

"Karena kita memiliki pemimpin yang buruk dengan keterampilan manajemen yang buruk," seorang anonim berkomentar, seperti dikutip dari Newsweek.

Yang lain berpendapat, "Ia (Museveni) adalah pemimpin otoriter, diktator, dan despotik ... menjadi penghalang bagi pertumbuhan -- tak hanya Uganda tapi juga -- benua kita."

Museveni telah memimpin Uganda sejak 1986 setelah memimpin pemberontakan untuk menggulingkan mantan pemimpin Idi Amin dan kemudian Milton Obote.

Uganda mengalami stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang relatif cukup di bawah kepemimpinan Museveni. Namun belakangan, rezimnya deras dihujani kritik atas dugaan korupsi dan keputusannya untuk berpartisipasi dalam Perang Saudara di RD Kongo.

3 dari 3 halaman

Dimanfaatkan oleh Firma Turisme Negara Afrika

Firm turisme di Zambia yang menyindir ucapan negara 'lubang dubur' yang diutarakan oleh Donald Trump (Zambiatourism.com)
Firm turisme di Zambia yang menyindir ucapan negara 'lubang dubur' yang diutarakan oleh Donald Trump (Zambiatourism.com)

Situs pemasaran independen yang mendorong pariwisata di Afrika telah mengubah ucapan 'negara lubang dubur' yang diutarakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sebuah kampanye periklanan.

Seperti dikutip dari Independent 200 pada 22 Januari 2018, sebuah halaman Facebook firma pariwisata di Zambia baru-baru ini menampilkan sebuah iklan yang bertuliskan;

"Visit s****hole Zambia. Where the only stars and stripes you’ll have to see are in the sky and on a zebra!"

Jika diterjemahkan berarti;

"Kunjungi 'negara lubang dubur' Zambia. Di mana bintang dan garis (mereferensikan pola Bendera AS) hanya dapat dilihat di langit dan seekor zebra!"

Laman resmi firma tersebut yang beralamat di Zambiatourism.com, turut memajang tagline serupa dengan maksud mencemooh Donald Trump.

Dalam unggahan tersebut terdapat keterangan disclaimer yang menjelaskan bahwa 'tagline tersebut tidak merepresentasikan opini resmi dari Badan Turisme Zambia, namun sebuah opini dari situs pemasaran independen'.

Postingan tersebut menerima ribuan like dan shares setelah mencemooh ucapan yang diutarakan oleh Donald Trump.

Begitupun di Namibia

Firma turisme dari negara Afrika lain juga memanfaatkan ucapan bernada menghina yang diutarakan oleh Donald Trump tersebut.

The Gondwana Collection, operator pariwisata swasta di Namibia, juga merilis sebuah video baru-baru ini di Facebook yang menyindir komentar dari sang Presiden Amerika Serikat.

Seorang narator dalam video tersebut menirukan suara Trump, membujuk para penonton untuk mengunjungi Namibia, 'lubang dubur nomor satu di Afrika'.

Direktur pengelola Gondwana Collection, Gys Joubert, mengatakan kepada Associated Press, "Anda bisa melawan yang negatif dengan yang negatif, atau Anda bisa balas menyampaikan kritik dengan pendekatan humor."

"Kami menyukai sisi kehidupan yang menyenangkan. Kami senang bisa menciptakan dan berbagi dan menyebarkan senyuman ke seluruh dunia," tambah Joubert.

Berikut videonya:

Lanjutkan Membaca ↓