Remaja 15 Tahun Menembaki SMA di Kentucky AS, 2 Siswa Tewas

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 24 Jan 2018, 09:36 WIB
Diperbarui 25 Jan 2018, 19:17 WIB
Dua orang yang meninggal dunia akibat penembakan di Kentucky diidentifikasi bernama Bailey Nicole Holt dan Preston Ryan Cope (AP)

Liputan6.com, Benton - Seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun diamankan oleh pihak Kepolisian Kentucky, Amerika Serikat, setelah dilaporkan telah melakukan penembakan di sekolahnya. Dua teman sebayanya dilaporkan tewas, sementara 17 lainnya luka-luka.

Dikutip dari laman ABC News, Rabu (24/1/2018), dua orang yang meninggal dunia diidentifikasi bernama Bailey Nicole Holt dan Preston Ryan Cope.

Hold (15) yang merupakan remaja perempuan yang tewas di tempat, sedangkan Cope (15), dinyatakan meninggal dunia saat tiba di rumah sakit.

Kasus penembakan AS ini terjadi pada pagi hari di Marshall County High School, Benton, Kentucky -- berjarak 210 kilometer dari barat laut Nashville, Tennessee.

"Saya pingsan, saya tak bisa bergerak. Saya bangkit dan mencoba untuk lari tetapi terjatuh," ujar Lexie Waymon, seorang saksi mata berusia 16 tahun yang bersekolah di tempat yang sama.

Marshall County High School (AP)

"Saya dengar ada seseorang menembak tanah. Itu sangat dekat dengan saya. Lalu saya memberanikan diri untuk bangkit dan mulai berlari," ia menambahkan.

Kasus penembakan AS ini lantas ditanggapi oleh Gubernur negara bagian Kentucky, Matt Bevin.

Dalam akun Twitter-nya, Gubernur Bevin membenarkan ada penembakan pada Selasa, 23 Januari 2018 pagi di Marshall County High School.

"Hati anak-anak Marshall County sedang remuk dan begitu pula dengan perasaan warga sekitar. Namun, saya percaya kita kuat. Dengan iman kepada Tuhan dan kepercayaan kita bisa melewati ini semua," tulis @GovMattBevin.

Dalam pernyataan itu pula, Bevin mengatakan bahwa pelaku penembakan telah ditahan dan polisi masih menyelidiki motif tersebut.

Kasus penembakan di Kentucky, AS ini terjadi sehari setelah seorang gadis berusia 15 tahun di Texas tewas ditembak dan terluka di kafetaria SMA-nya.

Kala itu, seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun yang jadi pelakunya.

 

2 of 2

Kasus Serupa

Freeman High School, lokasi penembakan di Washington, Amerika Serikat. (AP)
Freeman High School, lokasi penembakan di Washington, Amerika Serikat. (AP)

Kasus penembakan yang dilakukan oleh anak di bawah umur bukan hal pertama di Amerika Serikat. Ada cacatan panjang soal kasus yang terus terjadi ini.

Salah satunya pernah terjadi pada September 2017. Seorang siswa tewas dan tiga murid lainnya cedera akibat remaja pria menghujani peluru. Pelaku melakukan aksinya karena latar belakangnya sebagai korban bullying atau intimidasi di sebuah sekolah di negara bagian Washington, AS.

Kasus penembakan di AS tersebut terjadi di SMA Freeman di Rockford, Washington.

Seperti diberitakan Daily Mail, remaja pria bersenjata itu melepaskan tembakan di lorong, mengarahkan dua senjata pada siswa dan staf sekolah. Salah satu senjata macet, tapi dia berhasil menggunakan yang satunya untuk menembak.

"Korban tewas akibat akibat mencoba mengajak remaja bersenjata tersebut untuk tak menyerang," kata polisi.

Tak lama kemudian, staf sekolah berhasil membekuk remaja bersenjata tersebut dan polisi segera menangkapnya. Saat ini, si penembak yang diidentifikasi berusia di bawah 18 tahun berada di pusat penahanan remaja dan sedang diinterogasi.

Sementara itu, tiga remaja lain yang terluka dibawa ke Sacred Heart Medical Center dan Children's Hospital. Ketiganya dalam kondisi stabil. Seseorang membutuhkan operasi, tapi dokter mengatakan seluruh korban cedera tak mengalami luka membahayakan jiwa.

Sejauh ini belum ada korban cedera yang dipulangkan.

Sheriff Spokane County, Ozzie Knezovich, mengatakan bahwa remaja bersenjata itu merupakan korban bullying yang terpicu kemarahannya.

"Itu seperti kasus tipe bullying," kata Knezovich, Rabu siang.

Knezovich membenarkan bahwa anak laki-laki yang meninggal itu berusaha menghentikan aksi si remaja bersenjata.

"Sepertinya dia berjalan ke arahnya dan mencoba membujuknya..."

Menurut keterangan murid-murid lain, beberapa hari sebelum penembakan, si pelaku berbicara telah menonton film dokumenter bertema penembakan di sekolah lain.

Lanjutkan Membaca ↓