Israel Klaim Hancurkan Terowongan Hamas di Gaza Palestina

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 15 Jan 2018, 12:04 WIB
Diperbarui 17 Jan 2018, 11:13 WIB
Polisi Israel

Liputan6.com, Gaza - Militer Israel mengklaim telah menghancurkan terowongan bawah tanah yang membentang di Gaza, yang dapat digunakan sebagai rute perlintasan untuk menuju ke Israel dan Mesir.

Menurut klaim Israel, terowongan itu kerap digunakan oleh pejuang Hamas Palestina untuk "menyeberang sekaligus melakukan perlawanan strategis" terhadap Israel.

"Kami memahami bahwa itu merupakan terowongan untuk 'teror', karena melintas di bawah fasilitas strategis," kata Juru Bicara Militer Israel, Kolonel Jonathan Conricus, seperti dikutip dari Independent, Senin (15/1/2018).

"Terowongan itu juga dapat digunakan untuk mobilisasi teroris dari Gaza ke Mesir, untuk menyerang target Israel dari Mesir," lanjut Conricus.

Target fasilitas strategis yang dimaksud oleh Conricus meliputi pipa minyak dan gas serta pos-pos militer.

Adapun "teroris" yang dimaksud adalah pejuang Hamas yang melakukan perlawanan bersenjata terhadap pasukan pendudukan Israel di Gaza.

Terowongan bawah tanah Hamas di Gaza Palestina (sumber: Israeli Defense Force)

Militer Israel juga mengatakan telah menghancurkan tiga terowongan serupa dalam dua bulan terakhir.

Hingga saat ini, Hamas belum memberikan komentar apa pun terkait klaim Israel tersebut.

Strategi Pilihan

Dalam Perang Gaza 2014, pejuang Hamas menggunakan belasan terowongan bawah tanah sebagai strategi pilihan untuk melakukan penyergapan (ambush) terhadap pasukan pendudukan Israel di Gaza.

Beberapa terowongan itu telah berhasil dihancurkan. Namun, tak sedikit di antaranya yang masih bertahan dan berfungsi dengan baik.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa terowongan semacam itu adalah "infrastruktur utama milik Hamas di Jalur Gaza untuk melakukan teror".

"Hamas harus mengerti bahwa kami tidak akan membiarkan serangan ini berlanjut dan kami akan meresponsnya dengan kekuatan yang lebih besar lagi," kata Netanyahu.

Israel tengah melaksanakan proyek senilai US$ 1,1 miliar untuk membangun dinding bawah tanah yang dilengkapi sensor sepanjang perbatasan sepanjang 58 km di Gaza. Mereka akan menyelesaikan proyek itu pada pertengahan 2019.

2 dari 2 halaman

Laporan LSM: Aparat Israel Bunuh 8 Demonstran Palestina di Gaza

Polisi Israel
Seorang pria Palestina yang dicurigai mengenakan rompi bom bunuh diri dibawa ke sebuah ambulans setelah dia ditembak polisi Israel karena menikam seorang tentara di kota al-Bireh, Tepi Barat yang diduduki Israel (15/12). (AFP Photo/Oren Ziv)

Pasukan Israel dilaporkan telah membunuh delapan demonstran Palestina tak bersenjata di Gaza pada Kamis, 11 Januari 2018.

Kabar itu bersumber dari The Israeli Information Center for Human Rights in the Occupied Territories (B'Tselem) yang kemudian diwartakan oleh surat kabar lokal Al-Resalah.

"Pasukan Israel menembak (dengan peluru tajam) dan membunuh delapan demonstran Palestina yang tak menunjukkan tanda-tanda mengancam. Para korban diketahui tengah berpartisipasi dalam sebuah aksi protes di perimeter pagar perbatasan Gaza," B'Tselem melaporkan, seperti dikutip dari Middle East MonitorĀ 12 Januari 2018.

Tak dijelaskan apakah demonstrasi tersebut masih terkait seputar isu Yerusalem yang tengah memanas akhir-akhir ini -- menyusul keputusan unilateral Presiden AS Donald Trump yang mengakui Al Quds Al Sharif sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember 2017 lalu.

Kendati demikian, dalam kurun waktu terakhir, sejumlah lokasi di Gaza dekat perbatasan Israel diketahui kerap menjadi lokasi demo bertajuk isu tersebut.

Peristiwa Berulang

B'Tselem juga pernah melaporkan peristiwa penembakan bernuansa serupa pada Desember 2017 lalu.

Kala itu, B'Tselem menyebut, pasukan keamanan Israel bersenjata api menembaki kerumunan demonstran Palestina di Gaza yang menggelar aksi protes bertajuk isu Yerusalem.

Peristiwa pada Desember 2017 itu menewaskan 10 demonstran Palestina dan melukai ratusan lainnya.

Mengomentari kedua peristiwa di atas, B'Tselem menulis, "(...) Peristiwa itu, kemungkinan besar, tidak akan ditangani secara berbeda dari ribuan kasus lain -- di mana tak ada satu orang Israel pun yang dapat dimintai pertanggungjawaban."

Lanjutkan Membaca ↓