Langit Australia Berubah Warna Jadi Oranye, Ini Penyebabnya...

Oleh Afra Augesti pada 15 Jan 2018, 11:00 WIB
Diperbarui 17 Jan 2018, 10:13 WIB
Kebakaran Perth

Liputan6.com, Perth - Langit di Perth, Australia, berubah warna menjadi jingga, lantaran kebakaran lahan menyelimuti kota tersebut dengan asap.

Otoritas setempat mengatakan, upaya pemadaman api dilakukan sejak Minggu, 14 Januari 2018.

Lebih dari 150 petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan si jago merah yang melahap sekitar 3.000 hektare lahan.

Pejabat menambahkan, api menyebabkan kawasan itu dilanda asap tebal dan abu. Adapun penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui. Tidak ada seorang pun yang dilaporkan terluka.

Seorang penduduk lokal, Geraldine McGregor (34) menyebut, dia sendiri bahwa langit di pusat kota berubah menjadi oranye cerah, bak kulit jeruk.

Kebakaran lahan menyebabkan langit di Perth, Australia, berubah menguning bak kulit jeruk. (Geraldine McGregor/BBC)

"Ketika saya melihat langit dipenuhi asap dan mendadak berubah warna, saya khawatir, karena saya tahu itu artinya ada kebakaran lahan di suatu tempat," katanya kepada BBC, Senin (15/1/2018).

Sementara orang lain mengunggah foto yang menampakkan gelapnya langit di pinggiran kota. Mereka mengatakan abu sedang jatuh.

Warga diperingatkan, meski tak ada laporan mengenai jatuhnya korban jiwa, kebakaran tersebut berisiko bagi kehidupan dan rumah-rumah. Akan tetapi, peringatan itu diturunkan statusnya saat kondisi angin berubah.

Para pengemudi mobil diminta untuk berhati-hati saat berada di jalanan. Sementara itu, asap bahkan bisa dilihat dari pesawat yang terbang karena asap membumbung tinggi.

Kebakaran lahan menyebabkan langit di Perth, Australia, berubah menguning bak kulit jeruk. (Facebook Byron Mulligan/BBC)

Selain di Perth, pihak berwenang juga memerangi kebakaran lahan di New South Wales pada hari Senin.

Australia sedang mengalami musim dingin terkering yang tercatat pada 2017. Ini dikhawatirkan dapat meningkatkan bahaya kebakaran lahan untuk musim panas.

2 dari 3 halaman

Kawanan 'Burung Naga' Picu Kebakaran Lahan di Australia?

Firehawk Raptor
Segerombolan burung pemangsa terbang di sekitar lahan yang terbakar. Diduga mereka menjadi penyebab utama meluasnya api. (Dick Eussen/Science Alert)

Suhu di Australia cukup ekstrem akhir-akhir ini. Panasnya udara memicu kebakaran lahan di Negeri Kanguru itu.

Selain mengatasi masalah kebakaran lahan, pihak berwenang juga harus berhadapan dengan segerombolan "burung naga". Mengapa disebut demikian?

Sebuah studi baru, yang menggabungkan pengetahuan ekologis kuno Australia, menemukan perilaku aneh dari segerombolan burung pemangsa.

Mereka menyebutnya sebagai firehawk raptor. Burung-burung ini diduga menjadi penyebab utama meluasnya kebakaran lahan di sejumlah pedalaman Australia.

Peneliti menyebut, mereka sengaja menyebarkan api dengan menggenggam tongkat yang terbakar di cakar dan paruhnya.

Setidaknya, ada tiga spesies yang diketahui menjadi "pasukan" firehawk raptor, yakni black kite atau elang paria (Milvus migrans), whistling kite atau elang siul (Haliastur sphenurus), dan brown Falcon atau alap-alap cokelat (Falco berigora).

"Suku Aborigin dan orang-orang yang menghadapi kebakaran lahan telah mempertimbangkan risiko yang ditimbulkan oleh raptor tersebut. Skeptisisme tentang burung yang menjadi penyebab meluasnya kebakaran, menghambat perencanaan pemulihan lahan," kata tim peneliti, dilansir Science Alert, Kamis 11 Januari 2018.

Akan tetapi, para periset menekankan bahwa fenomena destruktif ini sebenarnya pernah terjadi pada ribuan tahun silam.

"Kami tidak menemukan apa pun. Sebagian besar data yang kami kerjakan adalah kolaborasi dengan suku Aborigin ... Mereka telah mengetahui hal ini selama, mungkin, 40.000 tahun atau lebih," ungkap ahli geografi Mark Bonta dari Penn State Altoona.

3 dari 3 halaman

Kebakaran untuk Bunuh Mangsa?

Firehawk Raptor
Segerombolan burung pemangsa terbang di sekitar lahan yang terbakar. Diduga mereka menjadi penyebab utama meluasnya api. (Dick Eussen/Science Alert)

Menurut tim, "pasukan" firehawk raptor berkerumun dalam jumlah ratusan di tempat kebakaran. Gerombolan burung pemangsa ini akan terbang menuju api aktif untuk mengambil bara dari sebilah ranting pohon.

Mereka lalu membawanya sejauh 1 kilometer ke daerah yang belum terbakar.

"Maksud tersirat dari raptor itu adalah menyebarkan api ke lokasi yang tidak terbakar -- misalnya sisi yang jauh dari jalur air, jalan, atau tempat istirahat yang diciptakan oleh petugas pemadam kebakaran -- untuk menghalau mangsa dengan api atau asap," tulis para peneliti.

Perilaku ini, yang didokumentasikan oleh tim dan diamati secara langsung, menunjukkan mangsa yang takut api mulai muncul dan ketakutan. Mereka bingung mencari tempat perlindungan.

Secara tak sadar, mangsa tersebut berlari ke arah raptor melalui trik dinding api. Cara seperti ini membuat mangsa berkumpul pada satu titik karena tak bisa kabur dari kobaran api. Bahkan, beberapa di antaranya terbakar.

Jadilah "pesta makanan" bagi pasukan firehawk raptor.

Inspirasi untuk studi ini berasal dari sebuah autobiografi tahun 1964 tentang dokter dan aktivis pribumi, Phillip Waipuldanya Roberts.

"Saya melihat seekor elang mengambil tongkat yang terbakar, dicengkeramnya dengan cakar dan dijatuhkannya di sebuah padang rumput segar, setengah mil jauhnya. Lalu tunggulah beberapa saat, teman-temannya akan datang menghampiri dan memulai pesta mereka. Sebagian besar mangsanya adalah binatang pengerat dan reptil yang kabur karena takut akan api," tulis Phillip.

Berkaca pada kasus ini, munculah spekulasi beragam: apakah burung-burung itu benar-benar tahu yang mereka lakukan? Apakah mereka tidak sengaja mencengkeram ranting yang terbakar?

Para periset berpikir, perilaku ini bukanlah sebuah hal kebetulan dan yang lebih menakutkan lagi, perilaku ini tampaknya memang sengaja dikoordinasi, seperti sebuah paket perburuan.

Jika hipotesis itu benar, artinya ada kekuatan baru di alam. Kekuatan ini mampu memperluas kebakaran lahan dan telah lama diketahui oleh masyarakat adat.

Temuan tersebut telah dilaporkan dalam Journal of Ethnobiology untuk dipelajari lebih lanjut.

Lanjutkan Membaca ↓