Arab Saudi Cs Minta Warganya Segera Tinggalkan Lebanon, Ada Apa?

Oleh Khairisa Ferida pada 10 Nov 2017, 08:42 WIB
Diperbarui 10 Nov 2017, 08:42 WIB
Mengklaim Dijadikan Sasaran Pembunuhan, PM Lebanon Mundur
Perbesar
Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri dalam sebuah foto tahun 2006. Ia mundur jadi PM di sela-sela kunjungannya ke Arab Saudi (ANWAR AMRO / AFP)

Liputan6.com, Riyadh - Arab Saudi telah memerintahkan seluruh warganya untuk meninggalkan Lebanon sesegera mungkin dan tidak bepergian ke negara itu. Hal ini disampaikan melalui kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA).

"Mempertimbangkan kondisi di Republik Lebanon, kerajaan meminta warganya yang berkunjung atau tinggal di sana untuk segera pergi," ujar seorang sumber di Kementerian Luar Negeri Saudi seraya menambahkan agar warga Saudi disarankan tidak bepergian ke Lebanon dari negara mana pun. Demikian seperti dikutip dari abc.net.au pada Jumat (10/11/2017).

Kuwait, Bahrain dan Uni Emirat Arab yang merupakan sekutu Saudi juga merilis peringatan serupa.

Pada Sabtu 4 November, dunia dikejutkan dengan pernyataan Saad Hariri yang mengundurkan diri dari posisinya sebagai Perdana Menteri. Ia menyampaikan pengumuman tersebut melalui sebuah video dari Arab Saudi.

Hariri menuding Iran dan kelompok Hizbullah Lebanon telah menabur perselisihan di negara-negara Arab dan ia takut dirinya menjadi korban pembunuhan.

Meski demikian, elite politik Lebanon meminta agar Hariri yang saat ini masih berada di Arab Saudi untuk kembali. Sebagian pihak meyakini bahwa pengunduran diri Hariri dibayangi tekanan Riyadh.

"Kembalinya Perdana Menteri Lebanon, pemimpin nasional, Saad Hariri, yang juga pimpinan Future Movement, dibutuhkan untuk memulihkan martabat dan kehormatan Lebanon di dalam dan luar negeri," ujar mantan Perdana Menteri Lebanon Fouad Saniora.

Saniora memimpin kubu Future Movement di parlemen.

Adapun Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir pada awal pekan ini memperingatkan bahwa pemerintahannya akan menganggap Lebanon sebagai musuh selama kelompok Hizbullah bercokol di pemerintahan Lebanon.

Al-Jubeir menegaskan bahwa partisipasi Hizbullah dalam pemerintahan merupakan "tindakan perang" melawan Arab Saudi. Riyadh memandang Hizbullah sebagai perwakilan Iran di tengah rivalitas Sunni dan Syiah.

Arab Saudi belum lama ini menuding kelompok Hizbullah yang mendapat dukungan dari Iran, menembakkan rudal ke wilayah mereka dari Yaman. Rudal tersebut berhasil dicegat.

Ketegangan ini mencuat di saat kondisi dalam negeri Arab Saudi gonjang-ganjing terkait penangkapan sejumlah pangeran, menteri dan mantan menteri atas dugaan korupsi. Jumlah mereka yang ditahan kabarnya mencapai 200 orang lebih.

2 dari 2 halaman

Pengunduran Diri Hariri Masih Berselimut Misteri

Hariri meninggalkan Lebanon pekan lalu untuk melawat ke Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk hingga ia menghebohkan publik dengan kabar pengunduran dirinya.

Bahkan rekan dekat di partainya tidak yakin alasan pasti di balik keputusan Hariri mundur atau kapan persisnya ia akan kembali ke Lebanon.

Pasca-mengumumkan pengunduran dirinya, Hariri diketahui sempat meninggalkan Arab Saudi dan menuju ke Uni Emirat Arab. Namun, akhirnya ia kembali ke Riyadh.

Melalui pernyataannya di televisi, Hariri sempat menyatakan bahwa Lebanon telah tersandera Hizbullah. Faktanya, kurang dari satu tahun lalu, ia membentuk sebuah pemerintahan koalisi dengan kelompok tersebut.

Pemimpin Hizbullah dan salah satu tokoh paling menonjol di Lebanon, Hassan Nasrallah, berspekulasi secara terbuka bahwa pengunduran diri Hariri seolah dipicu pemaksaan oleh Arab Saudi. Kesimpulan senada juga diungkapkan oleh Future Movement.

Lanjutkan Membaca ↓