Bos Qantas Jadi LGBT Paling Berpengaruh di Dunia Bisnis

Oleh Khairisa Ferida pada 26 Okt 2017, 13:33 WIB
Diperbarui 28 Okt 2017, 13:13 WIB
Chief Executive Qantas Alan Joyce

Liputan6.com, Canberra - OUTstanding dan the Financial Times mengumumkan nama Alan Joyce, bos maskapai penerbangan Australia, Qantas, sebagai eksekutif bisnis LGBT (lesbian, gay, bisexual, dan transgender) paling berpengaruh di dunia.

Sosoknya terpilih menyusul kampanye vokalnya yang mendukung pernikahan sesama jenis, sebuah isu krusial yang tengah menanti diputuskan di Negeri Kanguru.

"Tidak ada seorang pun yang harusnya merasa pantas menjalani kehidupan ganda," papar Joyce seperti dikutip dari BBC pada Kamis (26/10/2017).

"Tahun lalu saya bekerja keras untuk mendorong perubahan di lingkungan kerja saya dan tentu negara saya," imbuhnya.

Bicara soal gagasan pernikahan sesama jenis, Joyce mendorong para pemimpin bisnis lainnya untuk bergabung bersamanya dalam kampanye mendukung hal tersebut.

Perdana Menteri Malcolm Turnbull sendiri telah berjanji jika mayoritas warga Australia  mendukung pernikahan sesama jenis maka parlemen akan memperdebatkan perubahan Undang-Undang Perkawinan. Sehingga tidak menutup kemungkinan, Negeri Kanguru akan menjadi negara ke-25 yang mengizinkan pernikahan sesama jenis.

Voting terkait pernikahan sesama jenis di Australia akan ditutup pada 7 November mendatang. Dan laporan terakhir menunjukan bahwa hampir tiga per empat pemilih telah mengembalikan surat suara mereka.

"Sebagai seorang pria gay yang berpikiran terbuka dan menjadi pemimpin organisasi serta pemimpin bisnis terkemuka di Australia, saya merasa sangat penting untuk memimpin dengan memberi contoh dan mempromosikan hal ini," terang Joyce.

Joyce lahir di Irlandia dan mengambil alih posisi sebagai chief executive Qantas pada tahun 2008.

"Saya rasa Australia adalah meritokrasi yang hebat. Di mana lagi Anda dapat menemukan pria gay Irlandia yang berpikiran terbuka menjalankan merek Australia paling ikonik di dunia?," kata Joyce.

Namun, pada Maret lalu, Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton mengkritik Joyce dan pemimpin bisnis lainnya karena dianggap mengintervensi perdebatan pernikahan sesama jenis.