Polisi: Pelaku Penembakan Massal Las Vegas Berencana untuk Kabur

Oleh Arie Mega Prastiwi pada 05 Okt 2017, 15:01 WIB
Diperbarui 05 Okt 2017, 15:01 WIB
Stephen Paddock, pelaku penembakan massal Las Vegas
Perbesar
Stephen Paddock, pelaku penembakan massal Las Vegas (Courtesy of Eric Paddock via AP)

Liputan6.com, Las Vegas - Dalam perkembangan terbaru, polisi Las Vegas mengatakan ada bukti bahwa pelaku penembakan massal, Stephen Paddock, bermaksud untuk tetap hidup dan kabur setelah melakukan serangan mematikan terhadap penonton festival musik country pada 1 Oktober 2017.

Polisi juga membeberkan bahwa Paddock telah menyewa apartemen lainnya di dekat festival musik pada pekan lalu.

Melansir The Guardian pada Kamis (5/10/2017), pengungkapan itu bersamaan dengan detail lainnya yang diumumkan oleh Sheriff Joseph Lombardo, yakni adanya spekulasi pelaku penembakan massal paling bersejarah itu dibantu oleh seseorang.

"Apa menurut Anda semua dia berhasil karena usaha sendiri?" Lombardo bertanya sambil menunjuk gambar barang bukti berupa puluhan senjata yang berada di hotel penemuan dan  bahan peledak di mobilnya. Dia menambahkan, "Anda harus membuat asumsi bahwa dia mendapat pertolongan."

Lambardo menjelaskan pensiunan dan penjudi berusia 64 tahun itu menyewa kamar mewah yang menghadap ke lokasi konser musik Life is Beautiful, sebuah festival lainnya di Las Vegas, seminggu sebelum festival Route 91 Harvest, melalui layanan Airbnb. Entah atas alasan apa, dia memilih penonton musik country sebagai targetnya.

Sheriff Las Vegas tersebut juga mengatakan dia telah melihat bukti bahwa Paddock mungkin berniat untuk tetap hidup setelah memuntahkan peluru dari Mandalay Bay Hotel and Casino. Meski demikian, sang sheriff tidak mengatakan apa buktinya.

Kendati sudah memeriksa Marilou Danley, kekasih Paddock, dan komputer pria itu, aparat berwenang belum berhasil menentukan motif di balik insiden penembakan Las Vegas.

Aksi pembunuhan Paddock menewaskan 58 korban dan melukai sedikitnya 489 orang. Jumlah korban teranyar adalah informasi terkini yang diberikan pihak berwenang pada Rabu malam.

Sebelumnya, Lombardo mengatakan penegak hukum percaya bahwa Paddock adalah lone wolf. Namun, pada hari Rabu, ia tampak mengubah posisinya.

Lambardo berspekulasi kemungkinan Paddock telah dibantu seseorang. Informasi ini dapat dari saksi penting lainnya, selain kekasih Paddock.

Dia mengatakan bahwa penyidik ​​sedang mencari orang lain yang mungkin terlibat.

"Bisa jadi Paddock adalah 'orang hebat' yang 'mengerjakan semua ini sendiri'," kata Lombardo. Namun, dia menambahkan, "Namun, sulit bagi saya untuk memercayainya."

Komentar tersebut mendapat teguran terselubung dari agen FBI yang mengawasi penyelidikan. 

"Semua teori itu hebat dan semua orang bisa memiliki teori," kata Aaron Rouse, yang mengelola divisi biro Las Vegas, dan langsung naik ke mimbar segera setelah komentar sheriff tersebut.

"Tapi saya harus berurusan dengan fakta. Sheriff perlu berurusan dengan fakta. Dia tidak akan membuat asumsi. Saya tidak akan membuat asumsi," tegas Rouse sambil melirik ke arah Lambardo.

Rouse mengatakan FBI bekerja dengan "sejumlah teori", tapi tidak siap untuk memublikasikannya.

Agen Rouse jauh lebih berhati-hati dalam pernyataannya daripada sheriff. Ia menolak untuk berkomentar terkait dengan pernyataan Marilou setelah perempuan itu kembali ke AS pada hari Rabu dari Filipina untuk diperiksa oleh FBI.

Agen Rouse bahkan menolak untuk mengatakan apakah Mariolus tetap jadi "a person of interest" FBI atau tidak.

 

2 dari 2 halaman

Pengakuan Sang Kekasih

Sekembalinya dari Filipina ke Amerika Serikat, Marilou Danley, kekasih pelaku penembakan massal Las Vegas berbicara tentang insiden yang mematikan itu.

Perempuan yang sempat dikira keturunan Indonesia itu mengaku secara sadar ia kembali dari Manila ke Los Angeles karena ia tahu bahwa FBI dan polisi Las Vegas ingin berbicara dengannya terkait penembakan massal yang dilakukan oleh Stephen Paddock.

"Saya segera bersiap dan kembali pulang ke AS karena tahu FBI dan polisi ingin berbicara dengan saya terkait insiden ini," kata Marilou dalam pernyataan, seperti dikutip dari CNN.

"Dan saya ingin berbicara dengan mereka. Saya akan bekerja sama dengan mereka untuk investigasi ini. Apa pun akan saya lakukan untuk membantu meringankan penderitaan dengan cara apa pun, saya akan melakukannya," katanya dalam pernyataan yang dibacakan pengacara Danley, Matt Lombart.

Marilou mengatakan bahwa benar Stephen Paddock membelinya tiket murah untuk bertemu dengan keluarganya di Filipina dua minggu lalu. Tak lama kemudian, ia mengaku menerima sejumlah uang dari kekasihnya itu.

Paddock mengatakan kalau uang yang ia kirimkan untuk dibelikan rumah bagi Marilou dan keluarganya.

"Ketika dia membelikan saya tiket, saya jelas bersyukur, seperti kebanyakan orang Filipina di luar negeri yang akan pulang kampung, tapi saya jujur bahwa saya khawatir. Ini sebuah perjalanan pulang yang tak terencana ... lalu ada kiriman uang. Tak disangka ini caranya dia memutuskan saya," lanjut pernyataan perempuan 62 tahun itu.

"Saya seorang ibu dan nenek, hati saya hancur untuk semua orang yang kehilangan mereka yang dicintai. Saya hanya tahu bahwa Stephen Paddock adalah orang yang baik dan pendiam. Saya mencintainya dan berharap bisa menghabiskan masa depan dengannya," lanjut pernyataannya.

"Dia tak pernah berbicara aneh-aneh atau bertindak membahayakan. Atau apa pun tanda-tanda bahaya bahwa Stephen akan melakukan hal mengerikan seperti ini," ujar pernyataan Marilou.

"Saya percaya Tuhan, dan saya akan terus berdoa bagi mereka yang telah tersakiti...."

"Tidak pernah terpikir oleh saya dengan cara apa pun bahwa dia merencanakan kekerasan terhadap orang lain," tutup Marilou Danley, sang kekasih pelaku penembakan massal Las Vegas.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓