'Pacar' Pelaku Penembakan Massal Las Vegas Keturunan Indonesia?

Oleh Arie Mega Prastiwi pada 02 Okt 2017, 19:22 WIB
Diperbarui 02 Okt 2017, 19:22 WIB
'Pacar' Pelaku Penembakan Massal Las Vegas Keturunan Indonesia?
Perbesar
'Pacar' Pelaku Penembakan Massal Las Vegas Keturunan Indonesia? (Facebook)

Liputan6.com, Las Vegas - Setidaknya 50 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka kala rentetan peluru dimuntahkan penembak massal Las Vegas yang dilakukan Stephen Paddock.

Insiden mematikan itu terjadi saat konser musik Route 91 digelar. Polisi memastikan bahwa Paddock bertindak sendiri dan tak memiliki kaitan apa pun dengan kelompok teroris mana pun.

Namun, diduga saat insiden berlangsung, Paddock tidak sendirian. Menurut laporan, ia ditemani sorang perempuan bernama Marilou Danley. Polisi mengatakan, perempuan itu memiliki perawakan Asia, dengan tinggi 150 cm dan berat sekitar 50 kg dan diduga berusia 62 tahun.

Menurut akun LinkedIn Marilou Danley, ia mengaku berasal dari Reno, Nevada, dan mendeskripsikan dirinya sebagai pemain judi dan kasino profesional.

Antara tahun 2010 hingga 2013, Danley bekerja sebagai  "high limit hostess" di Club Paradise, Atlantis Casino di Reno. Tak jelas, apakah ia masih bekerja di dua tempat itu hingga sekarang.  

Danley sempat diburu dan dikabarkan telah diamankan oleh petugas.

Namun, ada yang menarik dengan latar belakang perempuan itu. Menurut informasi yang didapat dari The Australian yang dikutip pada Senin (2/10/2017), Danley adalah kekasih Paddock. Perempuan itu memegang paspor Australia dan ada kemungkinan ia keturunan Indonesia.

Mengutip Courier Mail, Danley adalah warga Gold Coast sebelum pindah ke AS.

Menurut teman-temannya, Danley tinggal di Gold Coast lebih dari satu dekade. Ia menikahi pria Australia -- yang kemudian meninggal dunia. Pasca-kematian sang suami, ia pindah ke AS sekitar 20 tahun lalu.

"Saya tak pernah berpikir ia terlibat urusan seperti ini," kata salah seorang teman Danley, bernama Robina kepada The Courier-mail.

Sementara itu, seorang perempuan yang masih ada hubungan kerabat dengan Danley dan tinggal di Australia, Liza Werner mengatakan, "Saya tak bisa berkomentar. Maaf," ucapnya.

Dalam Facebook Danley --yang sekarang telah dihapus-- mendeskripsikan dirinya "Ibu dan nenek yang bangga yang menikmati hidupnya yang luar biasa."

Guardian menyebut bahwa Danley dan Paddock tinggal bersama di kawasan Mesquite, Nevada. Polisi telah menggeledah rumahnya. Sebelumnya, mereka menyatakan keheranan, mengingat Paddock tak pernah memiliki catatan kriminal apa pun. 

"Kami tak punya catatan apa pun tentang Paddock, kecuali ia warga kami," kata juru bicara Mesquite Police Department.

Dalam catatan kepolisian, tak pernah ada panggilan darurat, penahanan, bahkan Paddock tak pernah ditilang.

Mesquite adalah kota sunyi berpenduduk 20.000 orang. Sebuah komunitas "pensiunan dan pencinta golf" dengan tiga kasino besar yang rata-rata satu insiden pembunuhan setahun, Averett mengatakan.

 

 

2 dari 2 halaman

Penembakan Massal Paling Bersejarah

Dengan jumlah korban yang hingga kini mencapai 50 orang dan 200 terluka, tragedi ini disebut penembakan massal mematikan dalam sejarah AS.

Angka korban penembakan massal Las Vegas ini 'mengalahkan' korban di penembakan kelab malam gay Pulse, pada Juni 2016. Kala itu 49 orang tewas.

Selain itu, Paddock merupakan pelaku penembakan massal tertua dalam sejarah AS. Di dalam kamarnya, di lantai 32 di Hotel Mandalay Bay, ia menghujani penonton dengan peluru.

Salah satu korban tewas dalam penembakan massal Las Vegas adalah polisi yang sedang tidak bertugas. Sementara seorang petugas lainnya dalam kondisi parah.

Sesaat petugas SWAT tiba di lokasi dan mengklaim telah membunuhnya, dan ditemukan sejumlah senjata laras panjang di kamar hotel itu.

Paddock dideskripsikan bertindak sendiri. Polisi tidak menemukan jejak apa pun terkait dengan kelompok teroris.

Pasca-penembakan massal Las Vegas, beredar sebuah rekaman amatir yang memperlihatkan peristiwa mengerikan itu.

Kala itu, penyanyi Jason Aldean tengah manggung. Lalu terdengar suara rentetan senjata. Musik berhenti dan para penonton tiarap.

"Merunduk! Merunduk!," terdengar suara orang dalam rekaman itu.

Dalam rekaman itu, terdengar selama 9 detik rentetan tembakan. Diikuti 37 detik hening lalu suara orang panik dan suara rentetan peluru kembali terdengar dan orang-orang pun melarikan diri. Rekaman itu berdurasi sekitar 2 menit.

Saksikan videonya:

Lanjutkan Membaca ↓