Tahun 2017 Belum Usai, Sudah 100 Polisi Tewas di Rio de Janeiro

Oleh Liputan6.com pada 29 Agu 2017, 06:54 WIB
Diperbarui 29 Agu 2017, 06:54 WIB
Jendela Dunia
Perbesar
Penjarahan marak terjadi di recife, Brazil ketika Polisi berunjuk rasa menuntut kenaikan upah.

Liputan6.com, Rio de Janeiro - Kepolisian Rio de Janeiro, pada Minggu 27 Agustus lalu, memakamkan petugas polisi ke-100 yang tewas di kota itu sepanjang 2017. Korban adalah polisi berusia 39 tahun yang ditembak berkali-kali oleh seorang pelaku bersenjata.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu 26 Agustus. Saat itu, Fabio Cavalcante sedang di luar jam tugasnya menjadi polisi dan tengah dalam perjalanan untuk mengunjungi ayahnya.

Ketika melintasi area Baixada, Fluminense, Cavalcante didekati sejumlah pria bersenjata yang nampak ingin merampok sang polisi. Saat mereka hampir berpapasan dalam posisi yang dekat, para pelaku menyadari bahwa ayah satu orang anak itu merupakan aparat penegak hukum.

Setelah itu, para pelaku menembak Cavalcante sebanyak 10 kali. Demikian seperti dilansir VOA News, Senin (28/8/2017).

Duka mendalam dirasakan oleh sekitar 200-an orang yang menghadiri upacara pemakaman Fabio Cavalcante Minggu sore. Istri Cavalcante yang sangat terpukul tampak hampir tidak bisa berjalan dan harus dipapah oleh rekat sejawat almarhum.

Pemakaman itu jadi tonggak suram yang menggarisbawahi aksi kekerasan di Rio de Janeiro, kota di Brazil yang baru satu tahun lalu menyelenggarakan Olimpiade Musim Panas.

Otoritas mengakui, dalam beberapa bulan terakhir ini organisasi perdagangan narkoba dan kelompok kriminal lain sudah hampir menguasai sebagian besar kota itu. Ribuan tentara telah dikerahkan untuk membantu polisi, namun kehadiran mereka tidak mengurangi pertumpahan darah.

 

2 dari 2 halaman

Tugas Berat Polisi di Brasil

Lebih dari 1.000 tentara dikerahkan untuk berpatroli di kota Vitoria, Espirito Santo, Brasil. Aksi mogok kerja polisi telah memicu meningkatnya gelombang kejahatan yang telah menyebabkan puluhan orang tewas.

Seperti dilansir BBC, Rabu, Februari 2017 lalu, Menteri Pertahanan, Raul Jungmann mengatakan, tentara dan garda nasional akan bertugas sampai situasi pulih.

Pelaku kriminal marak beraksi di kota yang terletak di tenggara Brasil itu, setelah polisi berhenti berpatroli dengan alasan menuntut gaji yang lebih baik. Siaran televisi Brasil merekam bagaimana kekacauan terjadi di kota itu melalui tindakan penjarahan, penembakan, dan pembajakan mobil.

Bank, sekolah, dan pusat kesehatan masyarakat memutuskan untuk tidak beroperasi pada Selasa waktu setempat. Sama halnya seperti kebanyakan toko.

Layanan bus tetap berjalan, namun para pejabat mengatakan, operasinya akan dihentikan pada sore hari.

"Angkatan bersenjata ada di jalan-jalan. Kami bertekad untuk memulihkan perdamaian, ketertiban, dan ketenangan di Vitoria dan di mana saja diperlukan," kata Jungmann.

Tentara dikabarkan "terperangkap" dalam bentrokan antara warga yang menentang pemogokan polisi dengan anggota kerabat polisi.

Para kerabat polisi ini berunjuk rasa di depan kantor polisi mengingat aparat keamanan di sana dilarang melakukan demonstrasi. Mereka menuntut perbaikan gaji termasuk uang lembur dan uang jaminan keamanan.

Media Brasil dalam laporannya memuat sekitar 70 orang tewas sejak pemogokan polisi.

 

Simak pula video berikut ini

Lanjutkan Membaca ↓