5 Hal Mengerikan Ini Akan Terjadi Saat Matahari Menemui Ajalnya

Oleh Alexander Lumbantobing pada 24 Agu 2017, 18:00 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 15:54 WIB
Ketika matahari mati (0)

Liputan6.com, Jakarta - Matahari adalah sumber energi bagi kehidupan di Bumi. Tanpa sang surya, planet kita niscaya beku, tak akan ada makanan dan bahan bakar bagi manusia.

Namun, tak ada apapun yang abadi. Suatu hari nanti, Matahari akan menemui 'ajalnya'. Rentang usia sang surya adalah sekitar 10 miliar tahun dan sekarang sudah melewati 5 miliar tahun.

Kemudian muncul pertanyaan. Apakah yang akan terjadi ketika Matahari sudah sampai ke ujung usianya?

Secara perlahan, bahan bakar Matahari - atau hidrogen -- bisa habis. Saat sang surya menjelang 'sekarat', gravitasi akan memaksa Matahari luruh ke intinya, membakar hidrogen yang tersisa, dan membuatnya menjadi raksasa merah.

Dikutip dari Listverse.com pada Kamis (24/8/2017), ketika semua hidrogen di Matahari sudah lenyap semuanya, maka dimulailah saat-saat kematian bintang terdekat Bumi tersebut.

Berikut adalah 5 hal mengerikan yang terjadi ketika Matahari mati: 

2 of 6

1. Bumi Panas dan Lautan Mendidih

Secara perlahan, matahari mengubah hidrogen yang ada sejak awal menjadi helium hingga akhirnya matahari menciut.(Sumber iStock)

Salah satu peristiwa yang pertama-tama terjadi ketika matahari kehabisan hidrogen adalah semakin terangnya bintang itu. Dengan demikian, semakin banyak energi yang akan diterima Bumi.

Gas-gas di atmosfer kita – misalnya karbondioksida, metan, dan nitro oksida – berperan sebagai selimut yang selama ini pun sudah menyerap panas dari matahari sehingga memungkinkan Bumi mendukung keberadaan kehidupan.

Ketika matahari semakin kuat, gas-gas itu menyerap lebih banyak lagi energi yang menerpa. Bumi akan menjadi sangat panas sehingga air di seluruh planet ini akan menguap dan menciptakan awan tebal di atmosfer.

Awan itu awalnya melindungi permukaan Bumi dari radiasi matahari untuk sementara waktu. Kemudian, panasnya tidak tertahankan lagi dan lautan mulai mendidih.

Pada saat itu, tidak mungkin lagi ada kehidupan di Bumi. Seandainya kita belum mati saat itu, kita akan mati karena kekurangan air dan panas yang amat sangat.

3 of 6

2. Matahari Bengkak dan Merah

Setelah hidrogen habis, matahari membengkak menjadi bintang merah raksasa. (Sumber STScl AVL/James Gitlin)

Selain menjadi jauh lebih terang, matahari juga menjadi jauh lebih besar. Setelah menghabiskan semua bahan bakarnya, matahari memasuki fase berikutnya sebagai bola merah raksasa.

Walaupun ukurannya bertambah, suhu matahari malah berkurang hingga 2.000 hingga 3.000 derajat Celcius. Memang masih sangat panas, tapi suhu sebelumnya adalah 5.000 hingga 9.000 derajat Celius.

Untuk diketahui, tidak semua bintang mengalami nasib seperti itu. Beberapa bintang lebih kecil yang dikenal sebagai si kerdil merah malah sedemikian lemahnya sehingga langsung lenyap setelah menghabiskan semua bahan bakarnya.

Bintang-bintang biru dan putih berukuran terlalu besar sehingga menggabungkan dulu unsur-unsur beratnya membentuk inti besi, lalu menjadi supernova.

Setelah menggabungkan helium yang terbentuk, matahari tidak mampu melakukan hal yang sama dengan karbon sehingga menjelma menjadi kerdil putih dan ukurannya menjadi jauh lebih kecil daripada matahari awalnya.

Bintang kerdil putih memiliki energi yang jauh lebih kecil, tapi umurnya lebih panjang dan terus bersinar selama miliaran tahun hingga akhir mati menjadi bintang kerdil hitam.

4 of 6

3. Bumi Mati

(Sumber iStock)

Ketika matahari mati, tentu saja semua yang ada di Bumi juga akan mati.Tapi, planet ini terus bergerak.

Saat memasuki tahapan raksasa merah, matahari membengkak hingga 3/4 jarak matahari ke Bumi. Namun demikian, Bumi tidak serta merta gosong.

Ketika matahari membengkak mendekati Bumi, maka tarikan gravitasi Bumi dan planet-planet sekitarnya justru melemah sehingga planet-planet itu berpilin menjauh dari matahari menuju orbit yang lebih aman.

Kecuali tentunya Merkurius dan Venus yang sudah tertelan pembengkakan matahari.

Tentu saja segala bentuk kehidupan di Bumi sudah habis pada saat itu. Sebaliknya, kehidupan mungkin muncul di planet-planet lain.

Dua planet besar, Jupiter dan Saturnus, memiliki banyak bulan yang mungin bisa didiami. Misalnya, Europa dan Ganymede yang sama-sama mengandung es.

Sepertinya memang tidak bisa didiami, tapi dengan penambahan ukuran matahari, mungkin cukup panasnya untuk menghangatkan es dan menciptakan lingkungan hidup berkelanjutan bagi bentuk kehidupan yang bentuknya lebih familiar seperti yang ada di Bumi.

5 of 6

4. Segala Bentuk Kehidupan di Bumi Binasa

Ilustrasi permukaan bulan Europa di Jupiter. (Sumber Jet Propulsion Laboratory NASA/Caltech)

Kehidupan mungkin muncul di tempat lain, tapi pastinya bukan lagi di Bumi.

Permukaan Bumi menjadi terlalu panas, bahkan jika kita berhasil menciptakan teknologi anti-panas sekalipun.

Kita juga kemungkinan tidak bisa menumbuhkan apapun untuk dimakan atau menemukan air untuk diminum. Semua yang diperlukan untuk menyintas akan tiada lagi.

Tidak ada lagi yang dikenang tentang Bumi sehingga kita berharap ada kehidupan bermula lagi di tempat lain walaupun jelas tidak seperti manusia sekarang ini.

Bahkan jika ciri-cirinya serupa sekalipun, bentk-bentuk kehidupan nantinya perlu miliaran tahun agar berevolusi lagi menjadi seperti kita yang sekarang.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

6 of 6

5. Menemukan Cara Lain Untuk Selamat

Ilustrasi pesawat angkasa antar bintang. (Sumber iStock)

Sukar meramalkan jenis teknologi yang kita miliki di masa depan. Kita memang akan melihat mobil otomatis dan berbagai perangkat futuristik lain, sehingga mungkin bisa menciptakan cara bepergian ke planet-planet yang jauh.

Kita tahu ada beberapa tempat yang mungkin bisa dihuni, sehingga ketika waktunya tiba kita mungkin bisa menemukan beberapa di antaranya dan kita mungkin sudah menjelajahi sistem tata surya sebelum matahari mulai padam.

NASA sudah mulai merencakan misi ke Mars. Beberapa perusahaan mulai mengiklankan akan menjadi yang pertama membuka koloni di Mars. Jika berhasil, itu semua menjadi langkah revolusioner bagi kemanusiaan.

Rencana yang ada sekarang membidik tahun 2030-an sebagai momentum untuk koloni pertama. Itu tidak lama lagi, walaupun perjalanan ke Mars tentunya belum sebanding dengan penjelajahan ke suatu galaksi baru.

Seperti pernah dikatakan Neil Armstrong saat pendaratan di Bulan, "Satu langkah kecil bagi manusia, suatu lompatan besar bagi kemanusiaan."

Semoga saja kita terhindar dari kejadian-kejadian bencana sebelum berkesempatan menjelajahi semesta. Yang jelas, daya pikir kita mampu membawa kita pergi jauh daripada yang kita bayangkan sekarang.

Lanjutkan Membaca ↓