11-7-1995: Tragedi Pembantaian Ribuan Warga Muslim Bosnia

Oleh Rasheed Gunawan pada 11 Jul 2017, 06:00 WIB
Diperbarui 11 Jul 2017, 06:00 WIB
20150709- Korban Pembantaian di Bosnia-Bosnia
Perbesar
Warga menyentuh truk yang membawa 136 peti korban pembantaian Srebrenica pada Juli 1995, di desa Visoko , Bosnia-Herzegovina, Kamis, (9/7/2015). Ribuan orang tewas dan menjadi yang terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. (REUTERS/Stoyan Nenov)

Liputan6.com, Sarajevo - Tanggal 11 Juli 1995 menjadi titik awal dari sebuah tragedi pembantaian tersadis di Eropa setelah Perang Dunia. Pada waktu tersebut, terjadi upaya pembersihan etnis, yang dilakukan pasukan Serbia terhadap ribuan warga Muslim di Srebrenica, Bosnia.

Di bawah komando Jenderal Serbia, Ratko Mladic, sekitar 1.500 pasukan mengepung Kota Srebrenica yang saat itu berstatus zona aman yang dihuni umat Muslim. Pada waktu itu, zona tersebut dijaga oleh 400 anggota pasukan perdamaian PBB dari Belanda.

Alih-alih mengadang, tentara Belanda memilih untuk mundur karena jumlah prajurit yang kalah jauh dibanding pasukan Serbia. Mereka ditarik dari zona serangan ke Kota Potocari. Begitu juga dengan pengungsi setempat, yang memilih untuk mengungsi ke Kota Potocari untuk menyelamatkan diri, meski sebagian banyak yang tertangkap pasukan Serbia.

"Dengan kondisi tersebut, Kota Srebenica dikuasai tentara Serbia," ujar juru bicara PBB Alexander Ivanko.

Jenderal Mladic mengatakan bahwa pasukan perdamaian PBB gagal menetralisir zona aman dengan baik, karena kawasan tersebut dianggap pihak Serbia dipenuhi 'teroris'. Akhirnya Serbia melancarkan serangan dengan dalih untuk "membersihkan teroris".

Pasukan Serbia menangkap ribuan warga, termasuk 30 tentara Belanda yang bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB. Tentara perdamaian PBB sebenarnya disokong pasukan tempur NATO yang sempat melancarkan serangan udara ke Serbia. Namun karena mendapat ancaman keras dari Serbia, Perdana Menteri Belanda Joris Voorhoeve Belanda memerintahkan penarikan mundur pasukannya.

Dengan kondisi tersebut, sikap PBB dipertanyakan Pemerintah Amerika Serikat. Menteri Pertahanan AS William Perry mempertanyakan "apakah sebenarnya bisa menjalankan misi kemanusiaan dengan menjaga stabilitas kawasan yang dirundung konflik."

Beberapa hari kemudian merupakan salah satu hari paling mencekam di Eropa. Menurut saksi mata, Jenderal Serbia, Mladic mengancam kepada para tahanan Muslim bahwa jika ada satu warga dari kubunya yang mati, maka harus dibayar dengan 1.000 nyawa mereka.

Sekitar 2.700 Warga Muslim yang tertangkap mulai dibantai dengan ditembak mati. Jumlah korban terus bertambah hingga mencapai 8.000 orang selama 11 Juli hingga 22 Juli 1995 di Srebrenica dan sekitarnya.

Para korban dieksekusi massal dengan disuruh menggali lubang beramai-ramai, kemudian ditembaki hingga mati. Konflik ini berangsur mereda hingga berdamai.

Jenderal Mladic dan Presiden Serbia Radovan Karadzic pada akhirnya ditangkap pada 2008 atas kejahatan perang dengan melakukan genosida atau pembantaian. Selain itu, salah satu pejabat senior Serbia, Radislav Krstic juga diadili.

Otoritas Mahkamah Internasional juga melakukan investigasi terhadap pemerintah dan tentara Belanda yang dianggap gagal menghadang pembantaian. Namun para pejabat pemerintah Belanda saat itu kemudian mengundurkan diri untuk menghindari penyelidikan. Demikian seperti dimuat BBC.

Genosida ini merupakan pembantaian massal terkejam kedua setelah genosida Nazi terhadap kaum Yahudi.

Sejarah lain mencatat pada 11 Juli 1970, sebuah roket Angkatan Udara Amerika Serikat jatuh di Daerah Sunyi Mapimí, Meksiko, selanjutnya menimbulkan legenda urban bahwa di daerah tersebut sinyal radio tidak dapat diterima.