Jelang Ekstradisi ke Australia, Schapelle Corby Ketakutan

Oleh Arie Mega Prastiwi pada 22 Mei 2017, 08:15 WIB
Diperbarui 22 Mei 2017, 08:15 WIB
Menjelang Ekstradisi ke Australia, Schapelle Corby Ketakutan
Perbesar
Schapelle Corby pada tahun 2008 (SONNY TUMBELAKA / AFP)

Liputan6.com, Denpasar - Pada Februari 2014, terpidana kasus narkoba asal Australia akhirnya bebas. Perempuan kelahiran Queensland itu telah meninggalkan Lapas Kerobokan, Denpasar, Bali.

Schapelle  Corby keluar dari Lapas Kerobokan sekitar pukul 08.00 WITA, Senin, 10 Februari 2014, setelah mendekam di dalam penjara selama 9 tahun. Ratu Mariyuana itu kemudian menjalani hukuman tiga tahun pembebasan bersyarat hingga 2017 ini.

Meski bebas bersyarat, bukan berarti Corby bisa seenaknya. Dia dikenai wajib lapor tiga kali seminggu dalam rentang waktu tertentu.

Dikutip dari ABC.net.au pada Senin (22/5/2017), Corby akan diekstradisi ke Australia pada 27 Mei mendatang.

Alih-alih lega, Corby mengaku ia khawatir dan takut menjelang deportasi dirinya ke Australia. Perempuan kelahiran 10 Juli 1977 tak siap menghadapi perhatian media di dalam negeri dan juga di Negeri Kanguru.

Corby saat ini tinggal di sebuah vila di Bali bersama saudaranya, Michael. Tiap kali keluar rumah, ia menggunakan topeng.

Salah satu pejabat Lapas, Surung Pasaribu, mengatakan bahwa petugas lapas yang mengurusi pembebasan bersyarat akan memantau keamanan di sekitar kediaman Corby di kawasan Kuta sampai dia dikembalikan ke Australia pada 27 Mei mendatang.

Surung bertemu Corby di vila tersebut setelah kakaknya Mercedes memberitahu bahwa adiknya itu kurang sehat.

Schapelle Corby bersama sang kekasih Ben Panangian. (News.com.au)

"Kakak Corby mengatakan kepada kami bahwa Corby takut keluar rumah," kata Surung kepada ABC News.

"Dia stres, semakin parah," tambahnya.

Surung mengatakan dia bertugas untuk memantaunya. Bahkan saudara perempuannya mengatakan Corby sangat takut bertemu dengan orang lain. 

Menurur Surung, Corby sedang berbaring dengan wajah tersembunyi di balik sarung saat dia datang ke vila tersebut.

"Dia membukanya untuk menunjukkan wajahnya dan kemudian menutupinya kembali. Dia bilang, 'Saya sangat takut'," kata Surung.

"Hanya itu yang dia sampaikan ke saya. 'Saya takut bertemu banyak orang termasuk orang-orang media'," tambahnya mengutip pembicaraannya dengan Schapelle.

"Dia sampaikan ke saya bahwa kamera dipasang di luar rumahnya untuk mengawasinya. Hal itu membuatnya takut," jelasnya.

Mercedes Corby juga berada di Bali untuk membawa pulang adiknya. Schapelle Corby dideportasi tepat 12 tahun setelah dia dijatuhi hukuman karena terbukti membawa lebih dari empat kilogram ganja ke Bali.

Surung mengatakan bahwa dia memahami kekhawatiran Schapelle. Menurut Surung, merupakan tugas pihak berwenang untuk membuat Corby merasa lebih santai.

Petugas pembebasan bersyarat akan menyerahkan Corby ke pihak imigrasi RI pada tanggal 27 Mei, sehingga yang bersangkutan bisa dideportasi.

Mercedes telah menyampaikan permintaan apakah mungkin Corby dibawa langsung oleh petugas imigrasi ke bandara, bukan dijemput petugas pembebasan bersyarat dan dibawa ke kantor mereka terlebih dahulu.

"Kita lihat saja nanti. Saya tidak bisa menjamin semuanya," kata Surung.

"Kadang situasi lalu-lintas tidak bagus... kami akan mengikuti peraturan," jelasnya.

Mercedes mengatakan kepada Surung bahwa Schapelle sangat tertekan dengan perhatian para fotografer dan kameramen sehingga dia tinggal di kamarnya dan tidak mau keluar.

"Dia tidak tahu siapa yang mengejarnya atau siapa yang mencoba mewawancarainya," kata Surung.

"Kami mendengarkan keluhannya dan kantor kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memantau keamanan sampai akhir masa pembebasan bersyaratnya," tambahnya.

2 dari 2 halaman

Kasus Corby yang Penuh Lika-Liku

Schapelle Leigh Corby dilahirkan pada 10 Juli 1977 di Gold Coast, kota di pinggiran Queensland, Australia. Dia terlahir dari pasangan Michael Corby dan Rosleigh Rose. Sang ayah bekerja sebagai pekerja tambang batu bara, sementara ibunya punya toko ikan. Dia terpisah dengan kedua orangtuanya sejak kecil.

Pada 8 Oktober 2004, Corby melakukan perjalanan dari Brisbane ke Bali. Sebelum ke Bali, dia transit dulu di Sydney. Persinggahan Corby ke Bali ini merupakan yang pertama setelah 4 tahun tak berkunjung. Saat itulah dia dibekuk petugas Imigrasi Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Petugas juga menyita 4,2 kilogram ganja dari dalam tasnya.

 

Arsip Corby tahun 2008 (SONNY TUMBELAKA / AFP)

Corby membantah keras barang haram itu miliknya. Dia mengaku barang itu dimasukkan orang lain. Tapi petugas tak percaya. Ia tetap digelandang dan diadili. Pada 2005, Corby mulai diadili.

Pada 21 April 2005, jaksa menuntutnya hukuman seumur hidup. Dengan berurai air mata, Corby membacakan pembelaan pada 25 April 2005. Dan akhirnya, vonis 20 tahun dijatuhkan pada 27 Mei 2005.

Namun keberuntungan kembali menghinggapi Corby. Potongan hukuman diberikan. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberinya grasi alias potongan masa hukuman selama 5 tahun. Kini, Corby dibebaskan, meski bersyarat. Dari hukuman 20 tahun, Corby hanya butuh 9 tahun untuk melewatkannya di dalam penjara.

Tak terima, Corby banding. Di tingkat ini hukuman Corby dikorting 5 tahun, menjadi 15 tahun. Putusan itu dibaca pada 12 Oktober 2005. Tapi hukuman Corby kembali 20 tahun berdasarkan putusan kasasi Mahkamah Agung pada 12 Januari 2006.

Pertengahan 1990-an, Corby bertemu pasangannya, Kimi Tanaka. Kala itu Tanaka yang merupakan orang Jepang tengah bekerja di bidang kesehatan di Australia. Pasangan ini menikah pada 1998 di Omaezaki, Shizuoka. Namun keduanya berpisah.

Pada Juli 2000, Corby kembali ke Australia. Pasangan ini resmi bercerai pada 2003. Tak ada kontak lagi sejak 2004. Selama 2000 sampai 2004 itulah, Bali merupakan tempat persinggahan bagi Corby saat perjalanan dari Australia ke Jepang, atau sebaliknya. Kakak kandung Corby, Mercedes, memang tinggal di Bali.

Lanjutkan Membaca ↓