Teror Penculikan Landa Tempat Wisata Turis Filipina, ISIS?

Oleh Tanti Yulianingsih pada 11 Mei 2017, 18:36 WIB
Diperbarui 11 Mei 2017, 18:36 WIB
Pelawan di Filipina yang mendapat ancaman teror penculikan. (AFP)
Perbesar
Pelawan di Filipina yang mendapat ancaman teror penculikan. (AFP)

Liputan6.com, Manila - Teror penculikan melanda objek wisata di Filipina. Kelompok teroris dilaporkan berencana menculik orang asing di tempat penuh turis di bagian tengah dan barat negara itu.

Pemerintah Barat mengatakan pada Rabu 10 Mei 2017, teror itu terjadi setelah upaya penculikan gagal ISIS sebulan yang lalu.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan, sejauh ini keamanan di Pulau Palawan -- salah satu tujuan wisata paling populer di Filipina-- telah ditingkatkan, setelah kedutaan AS memperingatkan adanya ancaman penculikan di sana.

"Kedutaan Besar AS telah menerima informasi yang kredibel bahwa kelompok teroris kemungkinan berencana melakukan operasi penculikan, menargetkan warga negara asing di wilayah Palawan," kata pihak Kedutaan AS melalui travel advisory seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (11/5/2017).

Kedutaan tersebut mengidentifikasi dua lokasi -- ibu kota Puerto Princesa dan wilayah sungai terdekat yang menarik ribuan pengunjung setiap hari -- sebagai daerah yang ditargetkan oleh para penculik.

Puerto Princesa berjarak sekitar 400 kilometer barat laut di selatan pulau yang merupakan benteng Abu Sayyaf -- militan yang setia kepada ISIS dan sering menculik orang asing.

Abu Sayyaf bulan Maret lalu mencoba melakukan serangan penculikan di Pulau Bohol, sebuah tujuan wisata populer di Filipina tengah. Upaya itu namun digagalkan setelah pihak berwenang mengetahui adanya plot tersebut.

Pasukan keamanan menemukan militan sehari setelah mereka tiba dengan kapal cepat dari Bohol, yang terletak 500 kilometer utara dari pangkalan Abu Sayyaf. Mereka pun terlibat dalam baku tembak.

Menurut pihak berwenang, sembilan militan, tiga tentara dan satu polisi tewas dalam bentrokan tersebut. Mereka mengatakan seorang militan lainnya tewas dalam tahanan polisi.

Serangan Bohol terjadi beberapa hari setelah kedutaan AS mengeluarkan sebuah peringatan tentang potensi penculikan di sana dan Cebu.

 

2 dari 2 halaman

Rekam Jejak Penculikan Abu Sayyaf

Abu Sayyaf diketahui berdiri pada 1990-an, menculik lusinan orang asing dan lebih banyak lagi penduduk setempat untuk mendapatkan uang tebusan.

Gerilyawan itu biasanya menyerang daerah pesisir setelah berlayar dari markas mereka di selatan pulau dengan kapal cepat, meskipun dalam beberapa tahun terakhir mereka juga menyerang kapal barang dan kapal dagang.

Mereka memenggal dua orang Kanada tahun 2016 lalu, dan pelaut Jerman pada Februari 2017 setelah uang tebusan jutaan dolar tidak dipenuhi.

Abu Sayyaf menyerang sebuah resor di Honda Bay, Puerto Princesa pada tahun
2001, menculik tiga orang Amerika dan 17 orang Filipina.

Salah satu orang Amerika dipenggal kepalanya, sementara satu lainnya tewas dalam usaha penyelamatan militer setahun kemudian. Orang Amerika ketiga berhasil dibebaskan.

Abu Sayyaf juga telah menculik orang-orang dari resor pantai Malaysia, yang merupakan perjalanan singkat dengan kapal cepat dari basis Filipina selatannya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ancaman penculikan sebagian besar telah dibatasi di wilayah Mindanao, Filipina selatan.

Sampai saat ini, pemerintah asing belum memperingatkan adanya ancaman penculikan di Filipina tengah dan barat.

Penasihat dari kedutaan Kanada dan Inggris pada hari Rabu lalu juga mendukung peringatan Amerika terkait teror di Palawan, dan merujuk pada lokasi wisata turis di Filipina tengah dekat Bohol. Termasuk Dumaguete, Siquijor dan Cebu.

Ditanya tentang travel warning terakhir untuk Palawan, Duterte mengatakan bahwa dia ingin tersangka penculik tewas.

"Perintah saya ke pasukan keamanan untuk menembak mereka saat terlihat, bunuh mereka," kata Duterte.

Duterte tahun 2016 lalu memerintahkan serangan militer besar untuk memberangus Abu Sayyaf di selatan pulau, namun ancaman militan terus meningkat.

Filipina ingin melakukan patroli bersama dengan Indonesia dan Malaysia untuk menghentikan meningkatnya jumlah serangan penculikan atas kapal barang dan merchant di dekat markas Abu Sayyaf.

Pada Rabu 10 Mei, Duterte juga mengulangi sebuah peringatan bahwa kelompok ISIS tengah berupaya menunjukkan keberadaannya di Filipina.

"Kami memiliki masalah dengan terorisme, kemudian datang ISIS...," kata Duterte.

Abu Sayyaf dan kelompok militan lainnya dalam beberapa tahun terakhir
mengaku setia kepada ISIS.

Lanjutkan Membaca ↓