Misteri Tutupnya Restoran dan Bank Milik Korea Utara di China

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 08 Mei 2017, 07:48 WIB
Diperbarui 08 Mei 2017, 07:48 WIB
Ilustrasi Korea Utara. (AP)
Perbesar
Ilustrasi Korea Utara. (AP)

Liputan6.com, Beijing - Wilayah Administrasi Khusus Macau menjadi salah satu lokasi tempat tinggal bagi sejumlah warga Korea Utara di luar negeri. Namun, sebagian besar warga meninggalkan kota itu sejak skandal Bank Delta Asia --bank yang dicap oleh Amerika Serikat sebagai kedok samaran aktivitas korup Pyongyang-- pada 2005.

Mereka yang meninggalkan Macau pindah ke Kota Zhuhai, Provinsi Guangdong, yang berjarak tempuh sekitar 8,7 km dari Macau.

Namun, hampir satu dekade kemudian, komunitas Korea Utara di Zhuhai tampak hampir lenyap dari peredaran. Penurunan kuantitas residen Pyongyang di Zhuhai, menurut South China Morning Post (7/5/2017), mulai terjadi sejak pembunuhan Kim Jong-nam pada 13 Februari 2017.

Pembunuhan yang diselimuti motif politik itu diduga kuat diinisiasi oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, saudara tiri Kim Jong-nam.

Salah satu titik lokasi favorit komunitas Korea Utara di Zhuhai adalah restoran Hai Wan Court, di sebuah kompleks perumahan distrik Xiangzhou Jida, dan berjarak sekitar 10 menit waktu tempuh dari perbatasan Macau dengan Zhuhai.

Bank Delta di Macau (Xiaomei Chen/AFP)

 

Ada keunikan lain yang tersembunyi di balik restoran yang menyajikan menu mewah dan jadi titik berkumpul warga Korea Utara di Zhuhai itu.

Rumah makan yang dikelola oleh seorang perempuan Macau berusia 60 tahun itu merupakan milik keluarga Kim Jong-un, kata salah satu pedagang buah yang berjualan persis di sebelah restoran. Selama 10 tahun terakhir, sejumlah pegawai restoran asal Korea Utara tampak bekerja dan hilir-mudik di restoran itu.

"Ada sekitar dua perempuan asal Korea Utara yang bekerja di sana. Kadang kala ada lima perempuan berparas cantik yang bekerja sebagai pramusaji. Kokinya, seorang pria, juga dari Korea Utara," jelas Liu, sang pedagang buah, seperti yang dikutip South China Morning Post.

Liu meyakini bahwa para perempuan itu merupakan anak pejabat Korea Utara yang diberi pekerjaan di Hai Wan Court. Alasan mereka dipekerjakan di luar negeri adalah agar mereka memiliki pengalaman bekerja di luar negeri.

Para perempuan pramusaji dan koki asal Korea Utara yang bekerja di Hai Wan Court diberi upah sekitar 700 yuan atau sekitar Rp 1,3 juta per bulan. Pengalaman tersebut membantu para perempuan itu untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik saat kembali ke tanah airnya.

"Mereka sopan dan santun, tapi mereka dibatasi agar tidak bergaul dengan orang China. Jika melanggar, keluarga mereka (para perempuan Korea Utara) akan dipenjara," ucap Tuan Liu.

Hai Wan Court sangat terkenal bagi komunitas Pyongyang di Zhuhai. Bahkan, konsulat jenderal Korea Utara di Guangzhou pernah makan di sana.

Namun, restoran itu ditutup sejak 2015 dan diikuti oleh sekitar 20 restoran serupa hingga 2016.

Pekerja Restoran Korea Utara di Dandong, China (AFP)

Bisnis rumah makan di luar negeri merupakan komoditas ekonomi penting bagi Korea Utara. Bisnis itu berkontribusi dalam memasukkan pundi-pundi uang asing ke Pyongyang.

Namun, bisnis itu mengalami kemunduran. Salah satu faktor adalah ketika Korea Selatan melarang warganya untuk makan di restoran yang dikelola oleh Korea Utara.

Sejumlah pegawai restoran yang dilaporkan melakukan pembangkangan terhadap Korea Utara juga menjadi salah satu faktor penutupan beberapa rumah makan itu.

"Meski jadi sumber pemasukan penting, ada beberapa pemilik dan pegawai restoran yang melakukan pembangkangan. Pyongyang tak menginginkan hal itu terjadi, dan kontrol besar pun dilakukan pada restoran itu," ujar Steve Chung Lok-wai, pakar Korea Utara dan asisten dosen di Chinese University of Hong Kong.

Pada April 2017 lalu, sekitar 12 perempuan dan 1 laki-laki melakukan pembangkangan terhadap Pyongyang dan melarikan diri ke Korea Selatan. Mereka merupakan pengelola restoran di Ningbo, Provinsi Zhejiang, timur China.

Tak hanya restoran, sejumlah bank juga didirikan oleh Korea Utara di China. Namun, sejak muncul dugaan adanya praktik pencucian uang dan skandal praktik aktivitas ilegal, beberapa bank telah ditutup, salah satunya adalah Kwangson Banking Corporation.

Bank itu merupakan afiliasi bank pemerintah Korea Utara yang membuka cabang di China. Namun, menurut Steve Chung, penutupan bank itu juga disebabkan alasan lain.

"Mereka (Korea Utara) kini berusaha mengembangkan jaringan bisnisnya di luar China, seperti di Asia Tengah dan Asia Tenggara," tambahnya.

"Namun, sejumlah negara yang akan disambangi Korea Utara akan berhati-hati, apalagi sejak pembunuhan Kim Jong-nam. Para negara itu kini tak mau tutup mata dan akan mengambil tindakan tegas terhadap aktivitas ilegal Korea Utara di negara masing-masing," ujar Chung.