Memotret Terlalu Dekat, Turis Singapura Diserang Komodo

Oleh Tanti Yulianingsih pada 04 Mei 2017, 13:00 WIB
Diperbarui 27 Agu 2019, 17:04 WIB
Pulau Komodo

Liputan6.com, Manggarai - Seorang turis menjadi target serangan seekor komodo di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penjaga taman atau ranger mengatakan bahwa insiden tersebut adalah yang pertama dalam lima tahun terakhir. 

Korban berusia 50 tahun, yang diidentifikasi sebagai warga Singapura Lon Lee Alle, dilaporkan mengabaikan peringatan agar tidak terlalu dekat saat memotret komodo.

Menurut informasi yang beredar, seperti dikutip dari BBC, Kamis (4/5/2017), insiden itu terjadi di zona aman sesuai petunjuk penjaga taman nasional.

Korban diduga tinggal bersama penduduk setempat selama tiga hari untuk menghemat biaya.

Setelah mengalami luka berdarah, Alle dilarikan ke sebuah pusat medis terdekat oleh speed boat militer. Dia saat ini sedang menerima perawatan.

Insiden gigitan komodo juga pernah terjadi di luar negeri. Serangan yang paling terkenal pada 2001 itu berada di Kebun Binatang Los Angeles, Amerika Serikat.

Saat itu seekor komodo berusaha memangsa kaki Phil Bronstein, editor San Fransisco Chronicle, yang kebetulan adalah suami dari artis seksi, Sharon Stone.

Komodo menyambar kaki Bronstein setelah petugas kebun binatang memintanya memindahkan sepatu tenis putihnya, agar komodo tak mengiranya sebagai tikus putih, yang biasa diumpankan.

Namun, Stone yang jadi saksi mata insiden itu mengatakan komodo menyerang kaki suaminya yang tak bersepatu. Kaget, Bronstein lantas menyelamatkan kakinya dari mulut si komodo lalu terbirit-birit melarikan diri keluar kandang.

Atas insiden itu, Brodstein sempat dirawat di rumah sakit. Tragisnya, kunjungannya ke kebun binatang Los Angeles adalah bagian dari kejutan dalam rangka hari ayah untuk Brodstein, yang selalu berkata ingin melihat komodo dari jarak dekat.

Asal-usul Komodo

Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur adalah habitat asli Komodo, meski asal usul hewan itu dari Australia.

Sejarah mencatat, hewan yang dijuluki "dinosaurus terakhir di muka bumi" itu, keberadaannya baru dikenal luas pada 1910.

Meski habitat aslinya di NTT, penelitian ahli pada 2009 menyimpulkan komodo bukanlah hewan asli Indonesia.

Ahli palaeontologi dan arkeologi dari Australia, Malaysia, dan Indonesia membuktikan tulang Komodo sama dengan tiga fosil hewan yang ditemukan di Queensland. Itu memperkuat teori bahwa Australia adalah tempat evolusi komodo.

Fosil yang ditemukan di Queensland menunjukkan bahwa komodo berasal dari Australia 4 juta tahun yang lalu dan bertahan kira-kira hingga 300 ribu tahun lalu.

Para peneliti juga menemukan bahwa komodo menyebar ke sejumlah wilayah, kemudian sampai di Pulau Flores sekitar 900 ribu tahun lalu -- rumah terbaik bagi hewan itu.

Di tempat asalnya, Australia, komodo punah 50 ribu tahun lalu -- bertepatan dengan saat manusia tiba di Australia. Komodo juga menghilang dan punah di beberapa pulau lain di Indonesia, kecuali Flores.

Komodo memiliki panjang tubuh 3 meter dan berat 70 kilogram. Hewan ini bisa berlari hingga kecepatan 29 km/jam untuk mengejar mangsanya.

Begitu mendapatkan tangkapan berupa kerbau air atau rusa, makhluk tersebut akan menggunakan giginya yang setajam silet untuk merobek mangsanya, sembari menyuntikkan racun yang membuat korbannya berdarah-darah menuju kematian yang menyiksa.

"Makhluk itu memiliki sejumlah sistem persenjataan," kata Bryan Fry dari University of Queensland, seperti dikutip sebagian dari BBC.

"Gigi menjadi senjata utama. Namun, jika tak mati akibat putusnya arteri femoralis, mangsanya niscaya akan menemui ajal akibat kehabisan darah."