Kalah Pilpres AS, Hillary Clinton Salahkan Rusia dan Donald Trump

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 03 Mei 2017, 13:00 WIB
Diperbarui 05 Mei 2017, 11:13 WIB
Hillary Clinton (AP)

Liputan6.com, Washington, D. C. - Hillary Clinton mengkritik sejumlah faktor dan pihak tertentu sebagai penyebab kekalahannya pada Pilpres Amerika Serikat 2016. Kritik itu disampaikan saat sesi wawancara dengan CNN, Selasa, 2 Mei 2017.

Istri mantan Presiden Bill Clinton itu menyalahkan sejumlah pihak seperti, Donald Trump, Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI) James Comey, skandal keterlibatan Rusia yang mencampuri pemilu, dan diskriminasi terhadap perempuan, sebagai sejumlah faktor penyebab kekalahannya pada pesta demokrasi tahun 2016 lalu.

Meskipun begitu, mantan Menlu AS itu dengan bijak mengintrospeksi diri dan turut menyalahkan dirinya karena tidak siap untuk melakukan antisipasi.

"Saya bertanggung jawab sepenuhnya. Saya kandidatnya (pada waktu itu). Saya juga sadar dengan tantangan, masalah, dan kekurangan yang dimiliki. Saat itu, saya sangat dekat dengan kemenangan, hingga pada kejadian tanggal 28 Oktober, ketika isu terkait Comey dan Rusia mencuat ke permukaan. Sejak itu, persepsi orang terhadap diri saya berubah," kata Hillary Clinton kepada jurnalis CNN, Christiane Amanpour, Rabu (2/5/2017).

Pada 28 Oktober 2016, Direktur FBI memerintahkan penyelidikan terhadap dugaan penyalahgunaan informasi rahasia negara yang dilakukan Hillary Clinton.

Berdasarkan laporan yang diterima FBI, Clinton disebut menggunakan alamat surat elektronik (e-mail) pribadi untuk berkorespondensi dengan sejumlah atase Partai Demokrat, Kementerian Luar Negeri, dan politikus penting AS.

Isi korespondensi itu masuk dalam kategori rahasia dan vital, sesuai peraturan Kementerian Luar Negeri AS.

Sesuai ketentuan Kemlu AS, korespondensi yang bersifat rahasia seharusnya menggunakan alamat e-mail resmi Kemlu AS, bukan e-mail pribadi seperti yang dilakukan Clinton.

"Apakah saya melakukan kesalahan? Oh ya jelas kalian sudah tahu itu. Tapi hal itu tak begitu fatal jika dibandingkan dengan isu lain yang mencuat," ucap Clinton lagi yang merujuk isu e-mail tersebut.

Meski menyalahkan diri sendiri, Clinton juga turut menyalahkan Trump. Ia yakin bahwa sang presiden terpilih "dibantu" oleh Rusia.

"Sangat mencurigakan ketika sebuah video yang menjelekkan Trump, kemudian dalam waktu singkat, diikuti skandal WikiLeaks yang membocorkan isi e-mail John Podesta (ketua kampanye Clinton)," ujar Hillary pada wawancara dengan CNN, menuding Rusia memiliki andil dalam peretasan e-mail tersebut.

Pada pilpres 2016, Komunitas Intelijen AS mengeluarkan sebuah pernyataan hasil investigasi resmi yang menyebutkan bahwa Rusia diduga kuat terlibat pada keberlangsungan pilpres. Negeri Beruang Merah diduga dengan sengaja mencampuri pilpres untuk memenangkan Donald Trump.

Meski Donald Trump memenangi versi penghitungan suara konvensional (electoral college atau pemilihan melalui dewan perwakilan rakyat dan senat), Hillary Clinton memenangi penghitungan suara versi popular vote (total seluruh suara nasional) dengan selisih 3 juta suara.

Tak hanya itu, Hillary juga menyalahkan isu diskriminasi terhadap perempuan sebagai salah satu penyebab kekalahannya.

"Ya, jelas hal itu memiliki dampak. Begitu juga faktor lain," kata sang mantan Menlu AS itu.

Beberapa pengamat memiliki pendapat yang terbelah perihal faktor penyebab kekalahan sang mantan Ibu Negara AS itu. 

"Pada saat pemilu ia tampak tak sungguh-sungguh untuk menepati sejumlah janji. Ia (kini) tampak menyalahkan kekalahan pada aspek lain," imbuh SE Cupp, pengamat konservatif CNN.

Namun, menurut Guy Cecil, mantan atase politik untuk Bill Clinton, tindakan Hillary menyalahkan faktor-faktor itu adalah hal yang wajar.

"Wajar jika ia menyalahkan diri dan isu-isu vital yang terjadi pada waktu itu... WikiLeaks, Rusia, dan Comey sangat berdampak pada pemilu," tambah Guy.