Kisah Pelarian 2 Wanita Irak dari Cengkeraman ISIS

Oleh Alexander Lumbantobing pada 10 Feb 2017, 12:00 WIB
Diperbarui 10 Feb 2017, 12:00 WIB
Abducted Yazidi women (0)
Perbesar
Ketika ditanya tentang permintaan ISIS kepadanya untuk melakukan hubungan seks, wajah dua wanita itu mendadak suram. (Sumber The Guardian)

Liputan6.com, Erbil - Ketika militan ISIS menyerbu Sinjar di utara Irak pada Agustus 2014, sekitar 6000 warga Yazidi menjadi tawanan.

Kelompok militan itu juga mengambil banyak wanita muda dan anak-anak perempuan untuk dijadikan budak seks dan memaksa mereka memeluk Islam. Di antara anak-anak perempuan itu bahkan ada yang masih berusia 9 tahun.

Harian The Guardian melakukan wawancara dengan 2 orang wanita Yazidi yang tidak disebutkan namanya. Mereka berhasil melarikan diri dari cengkeraman ISIS.

Dikutip dari wawancara itu pada Jumat (10/2/2017), berikut adalah kisah mereka:

2 dari 3 halaman

Dipaksa Melakukan Semuanya

Wanita pertama, A, menceritakan kisahnya mulai dari kejatuhan Mosul. Katanya, "Setelah ISIS merebut Mosul, mereka merebut Telefher lalu menyerbu desa kami, Gir Zer. Semua wanita Yazidi diculik."

Warga Yazidi itu kemudian dikumpulkan di suatu tempat. Wanita A itu kemudian diminta berdiri, tapi ia tidak mengerti karena pelakunya berbahasa Arab.

"Saya tanyakan kepada ayah saya tentang apa yang dikatakan karena saya tidak berbahasa Arab. Ayah saya menerjemahkan, tapi kemudian ia meminta ayah saya tutup mulut atau dibunuh."

Ia juga menceritakan bahwa para anggota kelompok itu kerap mengambil dan membawa pergi wanita-wanita muda yang paling cantik.

Wanita A merasa bahwa apa yang terjadi pada mereka yang dibawa pergi juga bisa terjadi pada dirinya, "Kami harus melakukan segala sesuatu yang mereka minta. Kami dipaksa untuk melakukan semuanya."

Namun demikian, ketika ditanya Guardian tentang permintaan ISIS kepadanya untuk melakukan hubungan seks, wanita A hanya menunduk dan diam saja. Ia tidak menjawab.

Ketika ditanya tentang permintaan ISIS kepadanya untuk melakukan hubungan seks, wajah dua wanita itu mendadak suram. (Sumber The Guardian)

Pada suatu hari, wanita A mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Peristiwa itu berlangsung saat malam hari.

"Ada sekitar 30 anggota ISIS di markas, beberapa di antaranya sedang tidur. Jam 11 malam, saya melarikan diri dari markas itu bersama dengan seorang perempuan lain."

Pelariannya panjang dan tidak mudah, katanya, "Kami berjalan hingga jam 7 pagi, kami tidak memakai sepatu. Saat itu turun hujan dan lumpur di mana-mana."

"Sepupu saya menjelaskan rute pelarian kepada saya dan kami harus merangkak bertiarap di sepanjang lembah."

Kelompok ISIS menyadari pelarian itu dan mereka mengejar dua wanita tersebut dengan membawa lampu senter dan dibantu oleh anjing-anjing.

"Kami terpaksa bersembunyi di balik pepohonan dan menunggu hingga mereka pergi sebelum kami melanjutkan lagi. Kemudian kami berlari sekencangnya."

Pada sekitar pukul 7 pagi, mereka tiba di puncak gunung Sinjar.

Wanita A berharap agar semua tawanan dibebaskan, termasuk adik perempuannya yang sekarang terpisah dari ibunya.

"Apa yang mereka lakukan terhadap saya, mereka lakukan juga kepadanya."

"Ia seorang anak yang baru berusia 10 tahun, seharusnya bersama-sama dengan ibunya. Tapi mereka juga melakukan ini terhadap anak-anak perempuan berusia 7 tahun. Semoga Tuhan menghukum mereka atas apa yang telah mereka perbuat."

3 dari 3 halaman

Diterima Kembali, Lahir Kembali

Seorang wanita lain, wanita B, juga menceritakan kisah pelariannya. Kelompok ISIS tidak peduli pada usia korbannya,

"Entah itu seseorang berusia 20 tahun atau 9 tahun, tidak ada bedanya bagi mereka."

"Saya menyaksikan dengan mata sendiri. Berat rasanya membawa beban ini, mungkin bunuh diri akan menjadi lebih mudah."

Sama dengan wanita pertama yang diwawancarai Guardian, wanita ke dua ini juga memberi reaksi suram ketika ditanya tentang permintaan ISIS untuk melakukan hubungan seks.

Wanita B hanya menunduk, menerawang, dengan mata berlinang. Raut mukanya berubah, lalu ia membuang muka. Diam.

Ketika ditanya tentang permintaan ISIS kepadanya untuk melakukan hubungan seks, wajah dua wanita itu mendadak suram. (Sumber The Guardian)

Kemudian, ia juga menceritakan kisah pelariannya.

"Setelah upaya kabur pertama kali, saya ditangkap. Tangan saya diikat dan saya disiksa. Semakin lama semakin berat."

Hukuman dimulai dengan kurungan dalam rumah, seorang diri. Setelah percobaan kabur itu, pemiliknya membawa wanita tersebut ke rumah tempat tinggal keluarganya dan dikurung selama 2 bulan.

"Suatu malam, saya berhasil kabur. Saya lari ke jalan di depan, lalu masuk ke halaman. Di sana, saya memohon perlindungan kepada sejumlah pria."

Mereka menanyakan apakah ia seorang Yazidi. Wanita itu membenarkan, lalu memohon agar tidak diserahkan kepada ISIS.

"Berbekal identitas palsu Arab, saya naik taksi ke Kirkuk. Seorang pria Yazidi menjemput saya dan kami pergi ke pihak berwenang di Erbil."

Dari Erbil, wanita itu pergi menemui Baba Sheikh, seorang pemimpin spiritual Yazidi dan menceritakan apa yang telah dialaminya.

"Saya bertanya apakah saya masih bisa diterima dalam iman Yazidi. Ketika dikatakan bahwa saya kembali menjadi salah satu dari mereka, saya merasa lahir kembali."

Mereka merasa lahir kembali ketika kembali diterima dalam lingkunang Yazidi. (Sumber The Guardian)

Wanita B juga mengungkapkan bahwa ia diminta memeluk Islam, lalu diminta salat dan membaca Alquran.

"Bukan hanya itu, saya harus menghafal Alquran. Begitulah yang diwajibkan, pelajari atau mati."

Tapi, ia merasa bahwa apa yang dilakukan ISIS adalah kesia-siaan, karena "Hati saya terikat kepada iman saya sendiri."

Yang jelas, setelah semua pengalaman itu, ia hingga kini masih terus memikirkan nasib keluarganya yang masih menjadi tawanan ISIS.

Lanjutkan Membaca ↓