Kisah Tukang Cukur dan Imigran Bernama Trump...

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 31 Jan 2017, 19:00 WIB
Diperbarui 31 Jan 2017, 19:00 WIB
Friedrich Drumpfs alias Friedrich Trump datang ke Amerika Serikat sebagai imigran. Ia adalah kakek Presiden AS Donald Trump.

Liputan6.com, Jakarta - Hari itu, 19 Oktober 1885, S.S. Eider berlabuh di Amerika Serikat. Dua belas hari sudah kapal itu berlayar dari Bremen, Jerman. Saat mendekati Pelabuhan New York, ia melewati Pulau Bedloe, di mana sebuah dasar konstruksi raksasa sedang didirikan. Patung Liberty hadiah dari Prancis ada di dekatnya, masih di dalam peti, belum dirangkai.

Seorang pemuda 16 tahun berada di dek S.S. Eider. Ia baru saja menjalani pelatihan sebagai tukang cukur rambut.

Anak muda itu bernama Friedrich Drumpfs. Seperti halnya imigran lain yang memasuki AS dari New York, ia ditempatkan di Castle Garden, di kaki Manhattan.

Tak seperti namanya, Castle Garden bukanlah kastil atau taman, melainkan benteng tua yang didirikan di Battery. Awalnya, ia didirikan untuk menghadapi invasi pasukan Inggris. Namun, belakangan, bangunan itu difungsikan untuk menyambut orang-orang asing yang datang sebagai imiran, bukan menghalau mereka.

Castle Garden difungsikan sebagai Emigrant Landing Depot, di mana para imigran diproses oleh Negara Bagian New York sebelum memulai hidup baru di tanah yang jauh.

Dari 1820-1892, ada 11 juta kedatangan imigran -- yang menjadi nenek moyang dari sekitar seratus juta warga AS saat ini.

Pada saat kedatangannya, Friedrich Drumpfs dimintai keterangan oleh pihak berwajib. Namanya dicatat dalam buku besar.

Kala itu nama belakangnya ditulis sebagai Trumpf, ia kemudian menghilangkan huruf 'f' pada namanya. Menjadi Friedrich Trump.

Ia berasal dari Kallstadt, Palatinate. Pekerjaan sebelumnya adalah petani.

Saat itu adalah era ketidaksetaraan yang ekstrem. Sebelum pajak penghasilan diterapkan, hanya ada sedikit alasan para orang kaya menyembunyikan kekayaan. Dan mereka tak melakukannya.

Cornelius Vanderbilt II, misalnya, tinggal di kediaman pribadi terbesar yang pernah dilihat di Manhattan. Istananya memiliki 130 kamar, juga ada ruang merokok gaya Moor.

Rumah besar milik Cornelius Vanderbilt II (Wikipedia)

Mansion itu bak monumen kemewahan dan gaya hidup konsumtif, penuh benda-benda mahal yang dibeli hanya karena Vanderbilts bisa membelinya.

Pesta-pesta besar juga kerap diselenggarakan di sana. Pada 26 Maret 1883, Alva and William K. Vanderbilt menggelar Fancy Dress Ball.

Sebanyak 1.200 orang diundang, para tetamu mengenakan kostum heboh. Kate Fearing Strong, salah satunya, datang mengenakan hiasan dari bangkai kucing mati yang diawetkan di kepalanya. Sementara, gaunnya dihiasi buntut kucing mati lainnya.

Kala itu, Friedrich Trump tinggal menumpang di rumah sang kakak, Katherine dan Fred Schuster, di 76 Forsyth Street -- yang jauh berbeda dengan lokasi tempat tinggal Vanderbilt.

"Lahan tempat istana itu berdiri kini ditempati Bergdorf Goodman, yang berada tepat di utara Trump Tower," tulis Ted Widmer, seperti dikutip dari New Yorker, Selasa (31/1/2017).

2 dari 2 halaman

Berawal dari Tukang Cukur

Menurut buku 'The Trumps', karya Gwenda Blair yang terbit tahun 2001, area rumah pertama yang ditinggali Friedrich Trump kini menjadi kawasan Chinatown.

Friedrich Trump awalnya bekerja sebagai tukang cukur rambut selama enam tahun.

Pada 1891, ia pindah ke Seattle di negara bagian Washington. Dengan uang tabungannya yang beberapa ratus dolar, ia membeli Poodle Dog, yang kemudian ia ubah menjadi Dairy Restaurant.

Beralamat di 208 Washington Street, restoran itu terletak di pusat kawasan lampu merah di Seattle, yang dipenuhi bar, kasino, dan rumah pelacuran.

Restorannya konon juga menyewakan kamar untuk kencan singkat.

Trump tinggal di Seattle hingga awal 1893. Pada 14 Fabruari 1894, ia menjual Dairy Restaurant dan pindah ke kota tambang di Monte Cristo, Washington -- yang diharapkan menghasilkan emas dan perak. Orang-orang yang datang ke sana berharap jadi kaya.

Sebelum meninggalkan Seattle, Trump membeli tanah seluas 16 hektar di Pine Lake Plateau.

Di Monte Cristo, ia menemukan sebidang tanah di dekat stasiun kereta api. Friedrich Trump ingin membangun hotel di atasnya.

Karena tak punya uang US$ 1.000 untuk membelinya, ia mengajukan klaim tambang -- yang memberinya hak menambang tanpa harus membayarnya -- meski tanah itu sudah diklaim pihak lain sebelumnya.

Trump tak pernah mencoba menambang di tanah itu, dan meski dilarang membangun, ia membeli kayu untuk mendirikan kamar-kamar sewaan dan tempat minum bagi para pekerja tambang. Ia menjalankan usahanya itu seperti Dairy Restaurant.

Gwenda Blair menjuluki Friedrich Trump sebagai 'mining the miners' -- yang menambang uang dari para penambang emas.

Namun, kejayaan Monte Cristo meredup. Ternyata tak banyak emas dan perak di sana. Trump menjual sebagian besar hartanya beberapa minggu kemudian dan pindah kembali ke Seattle. Trump juga mendanai dua penambang di Yukon, Kanada.

Di Seattle, Trump membuka restoran baru di 207 Cherry Street. Bisnisnya berjalan sangat baik hingga ia bisa melunasi hipotek dalam empat minggu.

Ia kemudian mengembangkan bisnis restoran dan hotel -- termasuk Arctic Restaurant and Hotel -- sebelum akhirnya pulang ke Kallstadt sebagai orang kaya. 

The Arctic, dulunya milik Fred Trump, kakek dari Donald Trump. Hotel ini diduga menyediakan PSK. (Sumber nationalpost.com)

Namun, segera setelah ia kembali, otoritas Bavaria menetapkan bahwa Friedrich Trump melanggar hukum dengan bermigrasi ke AS. Ia dianggap menghindari wajib militer. 

Pada 24 Desember 1904 Departemen Dalam Negeri mengumumkan penyelidikan yang berbuntut pengusiran Trump dari negara itu. Ia mengajukan petisi, namun gagal.

Terungkap, Kakek Donald Trump Pernah Mohon Agar Tak Dideportasi (Bild/Telegraph)

Trump dan keluarganya kembali ke New York pada 30 Juni 1905. Anak mereka Fred lahir pada 11 Oktober 1905, di Bronx, New York.

Keluarga itu tinggal di 539 177 Street East . Pada tahun 1907, anak kedua mereka, John lahir. Tahun itu juga mereka pindah ke Woodhaven, Queens.

Meskipun tinggal di Queens, Trump membuka layanan cukur rambut di 60 Wall Street di Manhattan.

Pada tahun 1908, Trump membeli real estate di Jamaica Avenue in Woodhaven. Dua tahun kemudian, ia memindahkan keluarganya ke sebuah rumah yang dibangun di atas tanah -- bukan flat atau apartemen.

Dia juga bekerja sebagai manajerdi Medallion Hotel di 6th Avenue dan 23rd Street.

Trump berniat untuk terus membeli lebih banyak tanah, tapi selama Perang Dunia I, ia menyembunyikan kekayaannya di tengah sentimen anti-Jerman yang tumbuh kala itu.

Satu hari di bulan Mei 1918, Trump tiba-tiba merasa kesakitan. Keesokan harinya, pada Memorial Day (27 Mei), ia dinyatakan meninggal dunia.

Apa yang kali pertama didiagnosis sebagai pneumonia ternyata menjadi salah satu kasus awal pandemi flu 1918, yang menyebabkan jutaan kematian di seluruh dunia. Friedrich Trump meninggal dalam usia 49 tahun.

Pada saat kematiannya, ia mewariskan rumah dua tingkat dengan 7 kamar di Queens; 5 bidang tanah; tabungan US$ 4.000, saham senilai US $3.600; dan 14 hipotik.

Friedrich Drumpfs alias Friedrich Trump dan keluarganya (Wikipedia)

Kekayaan totalnya mencapai US$ 31.359 atau setara US$ 499.900 saat ini. 

Elizabeth dan Fred melanjutkan proyek real estatenya di bawah bendera Elizabeth Trump & Son. Friedrich Trump meletakkan sebuah fondasi bagi sebuah dinasti keluarga Trump yang bergelimang harta.

Cucunya, Donald Trump kini bahkan menjadi Presiden ke-47 Amerika Serikat. Miliarder nyentrik itu baru-baru ini mengeluarkan perintah eksekutif yang melarang imigran dari tujuh negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait