6 Fakta Soal Seks Paling Nyeleneh dari Masa Lalu

Oleh Alexander Lumbantobing pada 09 Jan 2017, 18:20 WIB
Diperbarui 09 Jan 2017, 18:20 WIB
10 fakta (0) Ilustrasi dunia pelacuran Romawi Kuno
Perbesar
Ada sejumlah adat istiadat kuno terkait dengan pernikahan, pertanda cinta, dan seks yang terdengar tidak biasa dalam ukuran masa kini. (Sumber liostverse.com)

Liputan6.com, New York - Orang seringkali melihat masa lalu sebagai zaman keemasan, ketika orang menjunjung tinggi moral, saling menghormati, dan tidak sembarangan, termasuk dalam urusan seks.

Kenyataannya, sifat alamiah manusia tidak berubah terkait urusan seks. Baik di masa lalu dan masa kini, seks kadangkala kurang terbuka serta dianggap tabu, namun merupakan hal yang naluriah.

Dikutip dari listverse.com pada Senin (9/1/2016) berikut ini adalah 6 fakta nyeleneh urusan seks di masa lalu:

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


1. Konstrasepsi

Baik di masa lalu dan masa kini, seks kadangkala kurang terbuka, tapi itu bukan kelaziman di masa lalu. (Sumber Wikimedia)

Melahirkan sebelum hadirnya obat bius dan ilmu kedokteran modern merupakan pengalaman yang brutal, menyakitkan, dan berbahaya.

Euripides menuliskan dalam kisah Medea seperti ini, "Lebih baik saya tiga kali bertempur mempertahankan wilayah menggunakan perisai daripada sekali melahirkan anak."

Ketika kaum wanita ingin menikmati seks tanpa mengalami risiko kematian karena melahirkan, mereka mencari cara menghindari kehamilan.

Sebuah resep Mesir Kuno bertarikh 1800 SM menuliskan caranya menghindari kehamilan.

Begini resepnya: gilingan tinja buaya dicampur dengan madu dan garam untuk kemudian "ditebarkan di atas rahim." Campuran itu diduga merupakan spermisida--pembunuh sperma--tapi jelas mengganggu mood bercinta.

Bangsa Romawi dan Yunani Kuno mengandalkan cara yang lebih nikmat, sehingga sumbernya bahkan nyaris punah karena banyak dipakai, yaitu tanaman silphium—sejenis bunga wedelia--yang juga dipakai dalam berbagai resep.

Karena sangat mujarab dan nikmat, timbangan untuk bunga itu diukur dalam satuan perak. Apalagi karena bunga itu tidak bisa tumbuh dan dipanen di alam luar. Sejumput silphium terakhir kalinya terlihat pada masa kekuasaan Kaisar Nero.


2. Diperkosa Hewan

Baik di masa lalu dan masa kini, seks kadangkala kurang terbuka, tapi itu bukan kelaziman di masa lalu. (Sumber Raymond Isidore)

Pertunjukan di amfiteater seringkali dipandang sebagai bukti kekejian suatu masyarakat yang memandang dirinya paling beradab.

Di sana, para budak bertarung berlumuran darah di hadapan para penonton yang bersorak sorai. Tapi kenyataannya bisa lebih buruk lagi, karena bahkan melibatkan pemerkosaan manusia oleh hewan.

Pujangga bernama Martial mencatat tentang pertunjukan-pertunjukan pembukaan di koloseum. Ia bercerita tentang hewan-hewan yang dikorbankan dan bertarung dengan para gladiator.

Tapi bukan hanya itu. Menurut legenda Yunani, Pasiphae jatuh cinta kepada seekor kerbau. Wanita itu tidur dengan hewan tersebut dan memiliki keturunan, Minotaur.

Ada juga acuan kepada Carpophorus, seorang pelatih yang khusus menggunakan hewan untuk memperkosa para wanita. Konon kekejian itu menjadi bagian dari acara pembukaan di koloseum, mungkin kerbau miliknyalah yang dilibatkan.

Dalam novel Metamorphoses oleh Apuleius, seorang pria secara gaib berubah menjadi keledai dan digadang-gadang untuk melakukan seks dengan seorang wanita, tapi kisahnya tidak dibeberkan rinci.


3. Homoseksual di Athena

Baik di masa lalu dan masa kini, seks kadangkala kurang terbuka, tapi itu bukan kelaziman di masa lalu. (Sumber Wikimedia)

Jika ada orang penting yang tergugah seleranya melihat sesama pria, kita mungkin bisa terkejut.

Tapi, ketika Plato menjelaskan bahwa filsuf Socrates bergaul secara telanjang dengan para pemuda dan tidur di samping mereka, dan memeluk mereka, masyarakat saat itu tidak terlalu kaget.

Pada Abad ke-5 SM di Athena, lazim saja melihat para pria tertarik kepada bocah-bocah lelaki yang rupawan. Ada banyak catatan sastra dan lukisan yang menunjukkan kita bahwa hal itu lazim, terutama di kalangan kelas atas dalam masyarakat.

Pria yang lebih tua yang disebut sebagai Erastes memanjakan anak-anak lelaki yang disebut Eramenos dengan hadiah-hadiah. Setelah hubungan tercipta, hal itu diharapkan saling menguntungkan bagi dua pihak. Pria yang lebih tua memperoleh seks, sedangkan pria yang lebih muda diperkenalkan kepada masyarakat Athena oleh pelindung yang digdaya.

Kadang-kadang hubungan itu hanya berlangsung singkat dan anak lelaki yang terlibat seringkali terlalu muda. Lagipula, ketika seorang pria sudah tumbuh jenggot, dipandang tidak pantas lagi meneruskan menjadi Eramenos.


4. Mainan Seks Purba

Baik di masa lalu dan masa kini, seks kadangkala kurang terbuka, tapi itu bukan kelaziman di masa lalu. (Sumber Michael Latz)

Pada 2005, para ahli arkeologi mendapatkan temuan mencengangkan di Jerman. Ada 8 benda sekeras batu yang mencuat dari tanah. Bukan hanya ukuran, tapi ukirannya pun luar biasa.

Sejumlah peneliti menduga bahwa benda-benda berusia 26 ribu tahun itu adalah dildo di masa lalu dan bisa dibilang temuan tertua walaupun tidak unik.

Tiruan-tiruan penis ukuran sejati ditemukan dalam aneka bentuk dan terbuat dari berbagai bahan, termasuk kayu.

Melalui lukisan-lukisan tembikar bangsa Yunani Kuno terkuaklah dunia mainan seks di masa lalu. Pada vas-vas tanah liat, digambarkan wanita-wanita sedang mengunakan dildo dalam berbagai gaya.

Penulis Herodas menuliskan perbincangan dua wanita yang membahas pembuat dildo kulit milik salah satu di antara mereka. Pembuat dildo menyamarkan pekerjaannya sebagai pembuat sepatu.

Dalam pementasan Lysistrata karya Aristophanes, dikisahkan tentang kaum wanita Yunani Kuno yang berpantang melakukan seks demi mengakhiri perang, antar lain karena perang telah mengganggu perdagangan dildo.


5. Jimat Penis

Baik di masa lalu dan masa kini, seks kadangkala kurang terbuka, tapi itu bukan kelaziman di masa lalu. (Sumber Wikimedia)

Penamoakan penis bertebaran di mana-mana di jaman kuno, bahkan di jalan-jalan Athena atau Romawi Kuno.

Di Athena, patung-patung Hermes ada di mana-mana. Patung itu berbentuk tiang persegi dengan kepala Hermes di atasnya, tampak seperti penis yang tegak.

Urusan penis dianggap penting. Bahkan, ketika pada 415 SM ada seseorang mabuk yang merusak penis-penis itu, negara pun krisis.

Penis diduga memiliki kekuatan apotropaik yang dapat mengusir setan. Penis bahkan dilukis di lukisan-lukisan dinding, dipahat pada patung, dicetak para perunggu dan dibawa serta ketika seseorang ingin selamat.

Kadang-kadang penis dibuat bersayap dan dilengkapi dengan lonceng. Jimat yang disebut dengan Tintinnabulae itu dipakai sebagai seruling dan pelindung gaib.


6. Dewa-Dewa Incest

Baik di masa lalu dan masa kini, seks kadangkala kurang terbuka, tapi itu bukan kelaziman di masa lalu. (Sumber Wikimedia/Guillaume Blanchard)

Kaum ningrat seringkali ingin menjaga kemurnian garis keturunan darah melalui pernikahan kelompok kecil dan berkerabat, bahkan seringkali dengan akibat genetik yang buruk.

Keluarga ningrat Mesir Kuno seringkali menikahi saudara kandung lelaki ataupun perempuan agar tak 'tercemar'. 

Hal itu bukanlah suatu gagasan yang baik. Tapi lebih mudah dimengerti ketika para firaun kuno dipandang sebagai dewa-dewa di Bumi dan dianggap melakukan hal serupa dengan yang dilakukan di surga.

Contoh paling terkenal dalam mitologi Mesir Kuno adalah pernikahan kakak beradik dewa dewi, Osiris dan Isis. Ketika dewa Osiris terbunuh dan dicincang oleh Set, saudara lelakinya, disebutkan bahwa Isis mengumpulkan bagian-bagian tubuhnya.

Ia gagal menemukan hanya satu bagian, yaitu penis Osiris, yang dimakan oleh seekor buaya. Karena sungai Nil telah mengandung penis dewa, maka sungai itu menjadi sangat subur dan membawa kehidupan ke daratan.

Dalam kisah catatan pertama dalam sejarah tentang seks oral, disebutkan bahwa Isis menciptakan penis baru dari tanah liat untuk saudara lelaki sekaligus suaminya tersebut dan mengembuskan kehidupan ke dalamnya.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya