Pemerintah AS 'Merumahkan' Warga Irak Korban ISIS

Oleh Citra Dewi pada 04 Jan 2017, 09:36 WIB
Diperbarui 04 Jan 2017, 09:36 WIB
20161129-Tentara-Irak-Mosul-Reuters
Perbesar
Tentara Irak berlari berlindung dibalik kendaraan militer setelah menembakan RPG saat bertempur melawan ISIS di Al-Qasar, Tenggara Mosul, Irak, (28/11). (REUTERS/Goran Tomasevic)

Liputan6.com, Washington DC - Tak hanya menerima warga Irak sebagai pengungsi, kini pemerintah Amerika Serikat sedang mengusahakan permukiman permanen di AS bagi ratusan warga Irak yang menjadi korban kekerasan ISIS.

Direktur Kantor Urusan Pengungsi di Departemen Luar Negeri AS, Larry Bartlett, mengatakan bahwa Amerika bekerja sama dengan Badan Pengungsi PBB, UNHCR, akan membawa ratusan warga Irak ke beberapa lokasi yang akan ditentukan kemudian di Amerika.

Sebagian besar dari mereka adalah warga Yazidi dan Kristen yang komunitasnya dihancurkan oleh ISIS. Banyak di antara mereka yang mengalami tindak kebrutalan dan penyiksaan oleh kelompok teror tersebut.

"Kriterianya adalah mencari orang orang yang bebas dari perbudakan," kata Bartlett seperti dikutip dari VOA Indonesia, Rabu (4/1/2017).

Barlett menambahkan, usaha itu adalah mencari keluarga-keluarga yang menjadi korban pembunuhan ISIS, yang sebagian aksinya dilakukan di depan anggota keluarga mereka.

Upaya permukiman kembali itu merupakan langkah pertama Amerika untuk mengizinkan warga Irak yang selamat dari ISIS tinggal.

Sejak kebangkitan ISIS pada pertengahan tahun 2014 di Timur Tengah, Amerika telah menerima 15.583 pengungsi korban perang saudara Suriah dan ISIS antara bulan Januari 2014 hingga Oktober 2016. Menurut Center for American Progress, sejumlah warga Irak datang ke Amerika berdasarkan program medis dan beberapa penyebab lainnya.

Sebelumnya, delegasi Departemen Luar Negeri Amerika dan Kementerian Imigrasi Kanada telah berkunjung ke Irak utara awal Desember. Mereka bertemu dengan pejabat pemerintah setempat dan kelompok-kelompok bantuan serta mengidentifikasi para korban untuk dimukimkan.

"Kita mengukuhkan bahwa warga Yazidi paling trauma dan paling banyak menjadi korban," kata Bartlett. Ia menambahkan, terdapat juga kelompok-kelompok lain yang juga terimbas oleh ISIS, seperti warga Kristen dan minoritas agama lainnya di Irak utara.

Pimpinan organisasi Air Bridge Irak yang berkantor di Jerman, Mirza Dinnayi, mengatakan bahwa sekurangnya 750 warga Irak akan dikirim ke Amerika Serikat. Sementara itu, Kanada akan menerima antara 700-1.200 warga Irak.