30-12-1994: Aktivis Pro-Kehidupan Membunuh di Klinik Aborsi

Oleh Andreas Gerry Tuwo pada 30 Des 2016, 06:00 WIB
Diperbarui 18 Jan 2017, 03:29 WIB
Ilustrasi Penembakan

Liputan6.com, Boston - Insiden kelam terjadi di Amerika Serikat 22 tahun silam. Seorang pria secara membabi buta melepaskan tembakan ke sebuah klinik aborsi di Kota Boston.

Akibatnya, dua orang perempuan tewas. Sementara lima lainnya menderita luka-luka serius.

Klinik aborsi tersebut tepatnya terletak di wilayah padat penduduk di Brookline, Boston. Awalnya, pelaku membunuh salah seorang staf  dan melukai tiga lainnya di ruangan bagian pemeriksaan ibu hamil.

Setelah itu, menurut seorang saksi mata, pelaku berlari ke ruangan kelahiran prematur. Pelaku masuk sembari membawa tas ransel. Di ruangan tersebut pelaku sempat bertanya kepada seorang staf klinik, "Apakah ini ruang kelahiran prematur?"

Saat staf menjawab pertanyaan tersebut dan mengonfirmasi ruangan itu adalah tempat kelahiran prematur, pelaku langsung mengeluarkan pistol dan melepaskan tembakan.

"Dia menembak perempuan yang berbicara kepadanya. Lalu dia menembak seorang perempuan lain di ruangan fotokopi," sebut saksi tersebut seperti dikutip dari BBC History, Kamis (29/12/2016).

Melihat ada aksi kekerasan, penjaga keamanan klinik tersebut segera turun tangan. Ia menembak pelaku ke arah tangannya.

Namun, pelaku mencoba melawan. Tembakan diarahkan ke beberapa orang yang coba kabur. Akhirnya ia berhasil hari dari tempat kejadian perkara.

Setelah beberapa hari melakukan pengejaran Kepolisian Boston berhasil meringkus pelaku. Otak kejahatan tersebut diketahui seorang aktivis pro-kehidupan (pro-life) berusia 22 tahun, John Salvi.

Salvi diciduk usai polisi, pistol amunisi dan beberapa bukti lainnya ditemukan di sebuah tas hitam yang sudah dibuang di salah satu tempat sampah yang ada di Boston.

Dari keterangan kepolisian, Salvi bukan merupakan bagian kelompok penolak aborsi. Ia hanya punya tujuan yang sama dengan kelompok tersebut namun beraksi sendirian.

Salvi dihukum penjara seumur hidup oleh pengadilan setempat. Tetapi, pada November 1996, dirinya ditemukan tak bernyawa di dalam selnya.

Polisi menyatakan, Salvi kehilangan nyawa karena bunuh diri.

Pada tanggal yang sama tahun 2000, serangkaian ledakan bom meledak di sejumlah tempat di Metro Manila, Filipina. Sebanyak 22 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Sementara pada 30 Desember 2014, kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 yang menghilang saat penerbangan dari Surabaya ke Singapura mendapat secercah titik terang. Puing-puing kapal terbang itu dilaporkan ditemukan.