Suku Kanibal Pemakan Otak Manusia Kebal Penyakit Sapi Gila?

Oleh Alexander Lumbantobing pada 29 Des 2016, 12:20 WIB
Diperbarui 29 Des 2016, 12:20 WIB
Fore
Perbesar
Suku Fore di Papua Nugini yang melakukan praktik kanibalisme di masa lalu. (Sumber Ancient Origins).

Liputan6.com, London - Praktik kanibalisme di kalangan suatu suku Papua Nugini menyebabkan penyebaran penyakit mematikan pada otak yang menjadi wabah. Di kalangan suku, penyakit otak itu dikenal sebagai 'kuru'.

Namun demikian, menurut suatu penelitian, beberapa anggota suku telah memiliki suatu gen yang diduga memberi perlindungan terhadap kuru dan beberapa penyakit "prion" lainnya semisal sapi gila. Untuk diketahui, prion adalah protein yang terlipat secara tidak normal dan membentuk jejas parut (lesi) pada otak.

Dikutip dari LiveScience pada Kamis (29/12/2016), temuan tersebut dapat membantu para peneliti mengerti tentang penyakit-penyakit maut pada otak dan mengembangkan pengobatan pada para pengidap penyakit tersebut.

Suku Fore di Papua Nugini itu lazim melakukan ritual pemakaman yang melibatkan santapan otak manusia. Di awal Abad ke-20, para anggota suku mulai mengidap kuru, yaitu suatu penyakit neurologis yang disebabkan oleh infeksi prion.

Hal tersebut menjadi awal wabah kuru di kalangan warga Fore. Pada masa paling ganas di 1950-an, wabah itu menewaskan hingga 2 persen warga suku setiap tahunnya.

Suku itu berhenti melakukan praktik kanibalisme di akhir 1950-an sehingga menurunkan jumlah pengidap kuru. Tapi penyakit itu bisa saja muncul beberapa tahun kemudian, sehingga kasus-kasus penyakit itu terus bermunculan selama beberapa dekade.

Di pertengahan 2015, para peneliti menemukan bahwa mereka yang menyintas wabah kuru memilik mutasi genetik yang disebut V127. Sedangkan mereka yang terkena kuru tidak memiliki mutasi genetik yang dimaksud. Para peneliti menduga bahwa mutasi V127 itulah yang memberikan perlindungan terhadap kuru.

Para peneliti kemudian melakukan rekayasa genetika pada tikus-tikus agar memiliki mutasi V127 dan kemudian menyuntikan prion-prion penyebab infeksi pada tikus-tikus tersebut.

Hasilnya, tikus-tikus pemilik satu salinan mutasi V127 kebal terhadap kuru dan penyakit lain yang serupa, yaitu penyakit klasik Creutzfeldt-Jakob.

Tikus-tikus dengan dua salinan mutasi V127 kebal terhadap kuru dan suatu varian dari penyakit Creutzfeldt-Jakob (vCJD), yang lebih dikenal sebagai "bentuk penyakit sapi gila pada manusia".

Keadaan otak manusia penderita varian penyakit Creutzfeldt-Jakob (vCJD). (Seumber CDC/Teresa Hammett)

Praktik kanibalisme telah sirna di kalangan suku Fore sehingga menurunkan serangan kuru, tapi penelitian tersebut menengarai bahwa, seandainya wabah tetap merebak, maka "kawasan itu akan dipenuhi oleh orang-orang yang kebal terhadap kuru".

Namun harus diperhatikan bahwa praktik kanibalisme tidak secara langsung menyebabkan kekebalan terhadap kuru. Diduga, mutasi genetik itu muncul dalam populasi sebelum datangnya wabah kuru. Mutasi itu baru semakin kentara ketika ada manfaat genetik, misalnya ketika warga pemilik mutasi genetik itu bisa menyintas kuru.

Seleksi berdasarkan ciri genetik itulah yang menjadi dasar evolusi. Kata Dr. John Collinge dalam suatu pernyataan, "Ini adalah contoh jelas evolusi Darwin pada manusia, yaitu ketika wabah penyakit prion memilih perubahan tunggal secara genetik yang memberi perlindungan terhadap demensia mematikan."

Dr. Collinge adalah penulis senior dalam penelitian dan juga seorang profesor penyakit peluruhan syaraf di University College London.