Israel Jual Senjata Senilai Rp 64,7 T ke 'Tetangga' Iran

Oleh Andreas Gerry Tuwo pada 15 Des 2016, 12:00 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev

Liputan6.com, Baku - Israel menjual senjata militer ke negara tetangga Iran, Azerbaijan. Senjata tersebut dijual seharga kurang lebih US$ 4,85 miliar atau setara kurang lebih Rp 64,7 triliun.

Senjata yang dijual berjenis Iron Dome. Alusista itu, merupakan salah satu produksi terbaik Israel dan sangat terkenal di dunia militer.

Iron Dome merupakan sistem pertahanan yang mampu menghalau rudal jarak dekat, tembakan arteler,i dan mortar yang ditembakan dari jarak 72 kilometer.

Menurut Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, kesepakatan ini merupakan bentuk dari perjanjian perdagangan saling menguntungkan. Nantinya, Israel akan membeli minyak dari negaranya dalam jumlah sangat besar.

"Sejauh ini kontrak antar perusahaan Israel dan Azerbaijan yang ditujukan menghormati pembelian peralatan pertahanan jumlahnya sekira US$ 5 miliar atau lebih tepatnya US$ 4,85 miliar," ucap Aliyev seperti dikutip dari Al Araby, Kamis (15/12/2016).

Pembelian senjata yang dilakukan Azerbaijan, dinilai banyak pihak sangat mengejutkan. Sebab, negara pecahan Uni Soviet ini memotong anggaran militernya pada Febuari lalu.

Pemotongan tersebut dilakukan usai harga minyak dunia merosot beberapa waktu belakangan.

Meski demikian, dulu Azerbaijan dikenal royal dalam menghabiskan dananya membeli peralatan militer. Negara ini merupakan pelanggan setia Israel dan Rusia.

Bersama Israel selain membeli Iron Dome, mereka pernah melakukan pembelian misil. Sementara dengan Rusia, Azerbaijan memboyong helikopter dan tank.

Pembelian senjata dalam jumlah besar karena Azerbaijan terlibat konflik berdarah dengan Armenia. Sejak 1992, pertikaian ini tak pernah berakhir.

Pembelian peralatan militer ini pun, menurut Menteri Keuangan Azerbaijan sangat penting bagi negaranya, Samir Sharifov..

"Militer Azerbaijan butuh peralatan militer yang lebih baik ini karena Aremnia melanjutkan kebijakan mereka menduduki wilayah kami yang merupakan bentuk pelanggaran hukum internasional," sebut dia.

Tag Terkait