4 Cara Masyarakat Kuno 'Berlindung' dari Iblis dan Malapetaka

Oleh Nurul Basmalah pada 06 Nov 2016, 21:36 WIB
Diperbarui 06 Nov 2016, 21:36 WIB
20151215-Puluhan Iblis Hantui Kota Jerman Jelang Natal
Perbesar
Sejumlah orang berkostum Krampuss selama parade di Munich, Jerman, Minggu (13/12). Dalam ceritanya Krampuss biasanya membawa cambuk hingga lonceng besar untuk menakut-nakuti anak-anak. (REUTERS/Michael Dalder)

Liputan6.com, Jakarta - Iblis dan setan merupakan makhluk gaib yang sering diceritakan dalam banyak legenda dan mitos yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat.

Beberapa orang mungkin memilih untuk tidak mempercayai keberadaan makhluk yang sering digambarkan sebagai sesuatu mengerikan itu.

Namun, ketika seseorang mengatakan kepada mereka bahwa rumah perempuan atau laki-laki itu memiliki aura menyeramkan atau 'dibayangi' iblis, mereka mungkin akan merasa tak nyaman, risih, dan mencoba melupakannya.

Dalam kasus ini, manusia tidak banyak berubah baik itu masa kini ataupun di masa yang lalu. Seseorang cenderung membuat atau mencari keamanan ketika mereka dihadapkan dengan hal mistis.

Keamanan terhadap sesuatu yang berhubungan dengan alam lain tentunya tidak bisa 'diberikan' oleh sembarang orang.

Biasanya seseorang akan menemui dukun atau paranormal, ketika mereka merasa ada 'sesuatu' yang mengancam keamanan di rumah.

Seperti yang dikutip dari Ancient-Origins.net, Minggu (6/11/2016), ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat kuno untuk menjaga mereka dari Iblis atau setan.

Berikut selengkapnya 4 cara yang dilakukan masyarakat kuno agar terhindar dari setan atau iblis:

2 dari 5 halaman

Dewa dan Roh Pelindung

1. Dewa Pelindung dan Roh lainnya

Dewi Dementer (Ancient-Origins.net)

Salah satu cara meminta perlindungan dari setan dan iblis yang populer pada zaman kuno adalah kepada dewa atau roh lainnya.

Salah satunya dengan menghubungi arwah nenek moyang untuk meminta petunjuk. Hal ini merupakan praktik spiritual yang sering dilakukan oleh masyarakat kuno.

Namun tak jarang 'permintaan' mereka untuk berkomunikasi lagi dengan arwah malah mendatangkan bahaya lainnya.

Legenda mengenai meminta pertolongan pada dewa atau roh lainnya diduga telah berlangsung sejak Peradaban Sumeria.

Dewa atau tuhan yang dipercayai oleh peradaban kuno memiliki tugas yang berbeda-beda, seperti salah satunya yang bertanggung jawab untuk perlindungan.

Para pengikut dewa meminta tuhan mereka untuk melindungi rumah, keluarga, dan lainnya. Gagasan perlindungan pada masa itu sama dengan beberapa yang masih dipraktikkan pada saat sekarang.

Hanya saja praktik itu tidak terlalu memiliki makna yang sama dengan yang dilakukan oleh nenek moyang. Contohnya, Dewi Demeter atau Hestia dikenal sebagai pelindung rumah dan keluarga.

Tidak hanya itu, ada pula dewa atau dewi yang bertugas untuk melindungi seseorang dalam keadaan perang. Contohnya, seorang prajurit akan membawa pelindung kepala mereka ke sebuah kuil dan meminta perlindungan.

Ketika mereka kembali dari medan perang dengan selamat, para prajurit itu akan meninggalkan helm tersebut sebagai persembahan untuk dewa.

Salah satunya yang terkenal adalah Kuil Zeus di Olimpia, yang banyak dikunjungi Miltiades setelah pertempuran Marathon.

3 dari 5 halaman

Malaikat Pelindung

2. Malaikat

Ilustrasi Malaikat (iStockphoto)

Selain meminta perlindungan dari dewa dan roh lainnya, masyarakat kuno juga memohon pada malaikat. Makhluk yang sering dideskripsikan memiliki sayap itu dikenal oleh semua kepercayaan baik itu modern atau pun kuno.

Mesir, Yunani, Romawi, Maya, dan banyak peradaban lainnya di muka Bumi, mempercayai malaikat sebagai sosok yang melindungi orang-orang tidak berdosa.

Tidak hanya suku bangsa itu saya, Plutarch dan Meander yang merupakan bukan pengikut filsafat Plato (no-platonists), mempercayai bahwa malaikat itu ada.

Hanya saja mereka menyebutnya dengan nama lain, iblis baik. Menurut seorang cendekiawan, Hans Dieter Betz, Plutarch dan Meander menganggap malaikat sebagai penjaga tempat sakral tuhan.

Berbeda dengan Iblis baik yang selalu membawa perdamaian bagi pengikutnya, iblis jahat sering membawa malapetaka.

Makhluk itu memimpin roh jahat, mengakibatkan kegagalan panen, perang, dan perselisihan antara warga.

Dalam Early Christian Literature, Kristus dan malaikat memiliki peranan penting. Jika Kristus berperan sebagai mediator setiap tugas kepada Iblis, malaikat bertanggung jawab untuk menjadi utusan dari Allah untuk manusia.

Akibat peran penting malaikat yang berhubungan dengan Bumi dan akhirat, muncullah konsep Guardian Angel yang popular dalam teologi Kristen sejak Abad ke-5.

4 dari 5 halaman

Perlindungan Alam

3. Ramuan Alami dan Simbol Perlindungan

Bawang putih memang bau gak ketulungan. Tapi ternyata bisa menghempaskan penyakit-penyakit ganas, lho!

Sejak zaman kuno, masyarakat telah menggunakan banyak jenis 'anugerah' yang ada di muka Bumi, sebagai perlindungan.

Beberapa di antaranya yang terkenal adalah menggunakan tumbuhan, batu, pepohonan, dan simbol. Contohnya, kebudayaan prasejarah di utara dan barat Eropa menggunakan simbol berbentuk lingkaran, cincin, maupun spiral, sebagai perlindungan.

Simbol yang sama juga dipasangkan atau dilukiskan di samping pintu memasuki kuburan penting. Teka-teki yang ditimbulkan dalam kebudayaan peradaban kuno sulit dibaca.

Namun, peninggalan atau sisa-sisa kebudayaan yang masih bertahan hingga kini, menunjukkan bahwa simbol tersebut penting bagi suatu suku.

Contoh lainnya adalah pembakaran daun sage. Tidak ada yang tahu pasti siapa dan di mana tradisi membakar sage untuk melindungi rumah di Eropa dimulai.

'Pembersihan' rumah-rumah di benua itu tampaknya digunakan sebagai penyucian keburukan dari dalam hati pemilik kediaman.

Selain tumbuhan, batu juga digunakan sebagai pelindung. Prajurit Romawi kuno mempercayai bahwa bau akik dapat menghentikan pendarahan ada luka.  

Sementara itu turquoises Mesir kuno terkadang bisa juga diartikan sebagai batu pelindung. Sayangnya, hanya sedikit informasi yang ditinggalkan nenek moyang mengenai batu pelindung.

Energi dan arti penggunaan batu yang menjadi pelindung dari malapetaka, roh jahat, dan memberikan kekuatan itu kini tengah dipelajari oleh para ilmuwan.

5 dari 5 halaman

Pahlawan

4. Harga Diri

Chris Evans akan melakukan promosi film terbarunya, Captain America Civil War di Singapura dalam waktu dekat.

Harga diri disebut-sebut sebagai perlindungan dari kejahatan atau pun keburukan yang paling alami. Hal inilah yang membuat pahlawan Yunani kuno mempercayai bahwa diri mereka sangat kuat, tak terkalahkan.

Kekuatan manusia yang perkasa memang melegenda di negara-negara yang ekonominya lebih kuat dibandingkan dengan kepercayaannya.

Namun, hal tersebut tidak berlaku dalam kepercayaan seperti Romawi, Kristen dan Islam, di mana yang terkuat adalah tuhan.

Lanjutkan Membaca ↓