3 Tokoh RI Terima Penghargaan Bintang Jasa dari Jepang

Oleh Tanti Yulianingsih pada 03 Nov 2016, 17:22 WIB
Diperbarui 03 Nov 2016, 17:22 WIB
Bendera Jepang
Perbesar
Ilustrasi Bendera Jepang

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Jepang mengumumkan penganugerahan bintang jasa bagi 3 (tiga) tokoh asal Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan atas jasa-jasa mereka dalam memperkokoh hubungan antara Jepang dan RI.

Tokoh pertama yang mendapat bintang jasa adalah Satryo Soemantri Brodjonegoro. Beliau menerima The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon.

"Mantan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional ini berkontribusi dalam peningkatan kerjasama di bidang pendidikan antara Jepang dan Indonesia, baik dari sisi pemerintah maupun dari sisi akademis," demikian disampaikan pihak Kedutaan Jepang dalam keterangan tertulisnya yang diterima Liputan6.com Kamis (3/11/2016).

Sebagai Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Satryo telah berkontribusi besar sebagai salah satu tokoh penting pada Higher Education Development Support (HEDS) Projects yang diselenggarakan oleh JICA, yaitu proyek yang bertujuan untuk memperkuat pendidikan bidang teknologi di perguruan tinggi di daerah.

Sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Satryo telah berkontribusi dengan mengupayakan perpanjangan proyek HEDS sebanyak 2 kali. Sejak berakhirnya masa kerjasama proyek itu.

Sementara dari baktinya sebagai Dirjen Dikti, beliau berhasil memperpanjang fungsi Sekretariat HEDS selama 3 tahun dan melanjutkan pelaksanaan program penelitian dan pendidikan SDM yang bertujuan bagi peningkatan kualitas fakultas teknik, fakultas MIPA dan fakultas ekonomi perguruan tinggi di Indonesia.

Sebagai Dosen Tamu Toyohashi University of Technology dan kepala kantor perwakilan universitas tersebut di Indonesia, Satryo tidak saja menangani proyek kerjasama dengan kampus di Indonesia, tetapi juga membangun kerjasama antara universitas-universitas di Indonesia dan Jepang dan giat melaksanakan pertukaran mahasiswa antar kedua negara.

Penerima penghargaan yang kedua adalah Bachtiar Alam, dengan bintang tanda jasa: The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Rosette.

Mantan Direktur Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia dan Ketua Asosiasi Studi Jepang di Indonesia ini adalah peneliti bidang studi kejepangan. Beliau memberikan kontribusi bagi peningkatan saling pengertian antara Jepang dan Indonesia.

Sebagai Peneliti Bidang Studi Kejepangan, Bachtiar Alam berkontribusi dalam memasukkan bidang sosiologi, untuk memperluas bidang penelitian studi kejepangan yang selama ini berkisar di sekitar bidang humaniora saja.

"Selain itu pada saat beliau menjabat sebagai Ketua Asosiasi Studi Jepang di Indonesia, beliau mengadakan penataan organisasi asosiasi ini berdasarkan bidang akademis dan hal ini menghasilkan pengembangan pesat pada bidang studi kejepangan di Indonesia."

Bachtiar Alam juga melakukan peningkatan saling pengertian antara Jepang dan Indonesia. Sebagai kolumnis di salah satu surat kabar Negeri Sakura, beliau telah memaparkan keadaan Indonesia modern yang benar kepada masyarakat di sana.

"Bachtiar juga kerap menjadi pembicara secara rutin pada pertemuan masyarakat Jepang di Indonesia mengenai berbagai topik guna lebih meningkatkan pengertian mereka terhadap Indonesia."

Sebagai peneliti, beliau tidak hanya memajukan penelitian kejepangan saja namun juga telah berusaha dalam peningkatan saling pengertian di tingkat masyarakat.

Penerima bintang jasa ketiga dari kedutaan Jepang adalah Achadi Terada Noriko. Ia menerima The Order of the Sacred Treasure, Gold and Silver Rays. Mantan Staf Kedutaan Besar Jepang di Indonesia itu berjasa memberikan kontribusi dalam kegiatan Kedutaan Besar Negeri Matahari Terbit di Indonesia.

Achadi telah bekerja selama 33 tahun sejak tahun 1970 sampai 2003 sebagai staf di bagian Accounting Kedutaan Besar Jepang di Indonesia. Beliau memiliki semua unsur yang harus dimiliki oleh seorang staf di bagian tersebut, yaitu ketekunan, ketelitian dan kepercayaan dari seluruh pihak.

Bagian Accounting merupakan bagian yang mengawasi budget, peralatan serta fasilitas kantor agar kegiatan diplomatik dapat berfungsi secara semestinya.

"Kemampuan dan kontribusi beliau sebagai staf selama bertahun-tahun di bagian ini, telah banyak mendukung kegiatan diplomatik kantor Kedutaan Besar Jepang. Selain itu, ia juga telah berkontribusi dalam memperkenalkan Ikebana (seni merangkai bunga Jepang) khususnya aliran Misho-ryu".