Dubes Australia Ternyata Penikmat Kopi Indonesia

Oleh Alexander Lumbantobing pada 30 Sep 2016, 16:29 WIB
Diperbarui 30 Sep 2016, 16:29 WIB
DFAT on International Coffee Day (0)
Perbesar
Kenikmatan kopi bukan hanya ketika diminum, tapi dilakukan melalui serangkaian 'ritual'. Daripada langsung diminum, cobalah diseruput. (Liputan6.com/Alexander Lumbantobing)

Liputan6.com, Jakarta - Istilah 'warung kopi' di Indonesia dikaitkan dengan suasana kumpul yang hangat, akrab, dan dekat. Segala macam obrolan tertumpah di sana, sambil menikmati secangkir atau dua cangkir kopi yang disajikan dengan berbagai cara.

Suasana hangat dan akrab itu juga terasa di 'warung' jenis lain, café. Segala jenis obrolan dan diskusi juga aktif tercipta di sana.

Tapi, bukan hanya di Indonesia, produsen dan eksportir kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Warga Australia juga penggila kopi. Sejumlah jenis specialty coffee Indonesia mendapat tempat khusus di hati masyarakat Australia.

Dalam rangka Hari Kopi Internasional (International Coffee Day), Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia menggelar perhelatan "Dubes Ngopi" yang mengenal lebih dekat dengan jenis-jenis kopi asal Indonesia.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson hadir dalam acara peringatan hari kopi internasional. Terbitan pers Kedutaan menyebutkan bahwa Duta Besar Australia untuk Indonesia adalah seorang penikmat kopi Indonesia.

"Selama saya berada di Indonesia, saya telah menikmati kopi dari seluruh Indonesia, dari kopi Gayo di Aceh, hingga kopi Toraja dari Sulawesi Selatan, dan kini kopi Flores Bajawa di salah satu kafe favorit saya di Jakarta, Anomali," ungkap Dubes Grigson.

Kenikmatan kopi bukan hanya ketika diminum, tapi dilakukan melalui serangkaian 'ritual'. Daripada langsung diminum, cobalah diseruput. (Liputan6.com/Alexander Lumbantobing)

"Budaya kopi yang tengah berkembang di Jakarta tidak hanya membuatnya lebih mudah bagi saya untuk mendapatkan kopi namun juga membuka lebih banyak peluang kepada kawula muda untuk masuk ke dalam bisnis ini. Dengan banyak barista Indonesia yang belajar di Australia, ini menjadi campuran budaya yang kita semua dapat nikmati."

Paul Grigson tidak hanya berkata-kata. Dalam kesempatan perhelatan di Anomali Coffee Menteng pada Jumat (30/9/2016), sang Duta Besar turut serta meracik dan mempersiapkan kopi Flores yang baru dikenalnya.

Selain mengamati tekstur dan aroma, ia turut serta menakar campuran seimbang antara bubuk kopi dan air seduhnya, bahkan dengan tata urutan dan lama proses dalam jadwal yang terukur.

Kenikmatan kopi bukan hanya ketika diminum, tapi dilakukan melalui serangkaian 'ritual'. Daripada langsung diminum, cobalah diseruput. (Liputan6.com/Alexander Lumbantobing)

Misalnya suhu air yang optimal, waktu pengendapan, dan sejenisnya. Semua demi menonjolkan cita rasa kopi yang disajikan dan disesuaikan dengan keasaman, aroma, serta kekentalan masing-masing jenis kopi.

Menurut pihak Anomali, kenikmatan kopi bukan hanya ketika diminum, tapi dilakukan melalui serangkaian 'ritual'. Daripada langsung diminum, kenikmatan kopi juga dilakukan dengan menyeruput perlahan.

Untuk kopi yang baru saja digiling dan diseduh, upayakan menyingkirkan getah kopi dari permukaan sajian yang dilakukan dengan meraup lapisan getah biji yang mengambang di permukaan minuman. Hal ini dilakukan agar getah tersebut tidak menempel melapisi lidah.

Kenikmatan kopi bukan hanya ketika diminum, tapi dilakukan melalui serangkaian 'ritual'. Daripada langsung diminum, cobalah diseruput. (Liputan6.com/Alexander Lumbantobing)

Pemberdayaan Petani Kopi

Menurut data yang diperoleh dari program Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture (PRISMA) yang digagas Kedutaan Besar Australia, Flores sudah memiliki reputasi yang baik di kancah dunia untuk jenis Arabika.

Tapi, baru sekitar 10 persen hasil kopi Arabika itu yang dapat digolongkan sebagai specialty coffee. Potensi specialty coffee di Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat besar, terutama di Flores bagian barat yang mencakup Kabupaten Ngada dan Kabupaten Manggarai.

Sayangnya, potensi ini berlu dikembangkan secara maksimal karena kurangnya praktik budidaya (plantation) kopi secara baik. Alasannya, para petani kopi masih mengalami keterbatasan pengetahuan dan teknologi budidaya kopi.

Melalui program pemberdayaan sesuai potensi wilayah masing-masing, diupayakan agar para petani memiliki kebun kopi dengan penerapan budidaya yang tepat, ramah lingkungan, serta cocok dengan kondisi lahan pertanian.

Mama Lina dan Mama Maria di Flores (Sumber PRISMA/Nina FritzSimons)

Menurut Duta Besar Paul Grigson, International Coffee Day adalah saat yang sangat tepat untuk merayakan keberhasilan PRISMA, suatu program pemberdayaan oleh pemerintah Australia bekerja sama dengan pemerintah Indonesia agar produsen kopi di Nusa Tenggara Timur dapat meningkatkan produktivitas dan mutu untuk pasar ekspor.

Menjawab pertanyaan Liputan6.com tentang keterlibatan pihak swasta, Lulu Wardhani, Senior Program Manager, Rural Development Unit di Kedutaan Besar Austalia, mengatakan bahwa keterlibatan pihak swasta diperlukan karena sejumlah keterbatasan baik di pihak pemerintah Indonesia maupun pemerintah Australia.

Menurutnya, pihak swasta memiliki akses yang lebih baik dan efisien ke dalam rantai pasokan (supply chain) perdagangan kopi. Dengan rantai pasokan yang efisien, petani dan pelanggan sama-sama diuntungkan.

Duta Besar Paul Grigson, ketika sedang menjadi 'barista' hari itu, menjelaskan bahwa kota Melbourne di Australia merupakan tempat utama menikmati kopi-kopi yang terbaik di negeri Kanguru, termasuk kopi dari Indonesia. "Tidak ada kopi jelek di Melbourne," ujarnya.

Lanjutkan Membaca ↓